#1 Edisi : Membiasakan menulis..

Bandung, 15 Agustus 2013

Bangun pagi masih tetap dengan kondisi setengah sadar karena tidur larut seperti biasanya. Entah kenapa yang jelas memang sudah menjadi kebiasaan satu atau dua tahun belakangan, menjadi pengidap insomnia. Ritme hidup sehari – hari yang agak buruk memang dan tidak teratur, jauh sebelum menjadi anak kost dan jauh dari orang tua.

Sekitar jam sembilan pagi kurang lima belas menit aku bergegas dari rumah Mang Bebeng di seputaran jalan Laswi yang merupakan salah seorang seniorku yang selalu baik hati menampungku untuk bermalam. Pagi ini ternyata ada aksi yang diinisiasi kawan-kawan AJI(Aliansi Jurnalis Independen) Bandung yang dilakukan guna mengingat 17 tahun wafatnya salah seorang wartawan Bernas (Berita Nasional), yang bernama Udin  yang dibunu tahun 2006 silam  terkait pemberitaan yang dia tulis.

Sayangnya  hingga hari ini tepat 17 tahun Udin dinyatakan meninggal di rumah sakit, namun sampai saat ini  tidak ada kejelasan akan kasus yang menimpanya dan siapa pelakunuya, bahkan menurut penuturan rekan – rekan yang lebih senior kasus ini akan di peti es-kan. Seperti biasa titik berkumpul adalah di pelataran gedung sate atau yang lebih akrab di sebut “cuanki” karena banyak pedang baso cuanki yang berdagang disitu. Sudah ada beberapa rekan yang ternyata datang lebih pagi.

Sembari menikmati matahari pagi dan menghabiskan beberapa batang rokok suasana berlebaran masih terasa karena memang banyak rekan – rekan yang baru bertemu pagi itu. Selain itu memang ritme kerja belum kembali seperti biasanya, agenda yang biasanya bertebaran di group BBM juga masih sepi. Tapi hari ini juga ternyata sidang perdana kasus Bansos yang terdakwanya hakim Setyabudi.

Tak berapa lama berselang ternyata rekan ku Bambang yang menjadi koordinator aksi. Dia sedikit terlambat karena kehabisan bensin saat perjalanan. “Beginilah nasib jadi wartawan kalau tidak dibunuh, ya habis bensin dijalan karena minimnya kesejahteraan,” ujar Mang Bebeng, ,menceritakan isi percakapan BBMnya dengan Bambang. Ternyata bukan rekan – rekan AJI saja yang akan melaksanakan aksi pagi itu. Menurut salah satu intel yang kerap mengawal berbagai aksi demonstrsi di Gedung Sate, akan ada teman – teman dari pemuda Papua dan juga KAMI yang akan melakukan aksi dengan tujuan dan issu masing – masing.

Tak jauh dari tempat kami berkerumun terlihat beberapa petugas pemadam kebakaran yang sedang membersihkan jalan di depan pintu Gedung Sate. Hal tersebut dilkukan karena sehari sebelumnya dilakukan pengerjaan taman yang menggunnakan trotoar yang bagi saya cukup ganjil, krena setau saya trotoar itu untuk pejalan kaki bukan untuk tanaman. Tapi memang hal tersebut dilakukan dalam rangka peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus mendatang. Hal – hal yang sebenarnya tidak perlu dan cukup boros, namun ya itulah yang biasa terjadi di negeri tercinta ini.

Oke, akhirnya teman – teman AJI dan beberapa rekan wartawan yang tidak tergabung dalam AJI melakukan aksi di depan Gedung Sate. Diiringi dengan orasi dari Bambang, teman – teman yang lain membawa poster sembari sesekali ikut berteriak mengamini isi orasi dari Bambang. Setelah Bambang, kang Zacky Yamani ketua AJI Bandung menyambung kembali orasi. Dan ditegah – tengah orasi banyak juga teman – teman yang baru datang yang turut bergabung, dan beberapa wartawan senior yang turut berpartisipasi dalam aksi ini.

Matahari kian menyengat dan aksi yang berlangsung damai ini juga diakhiri. Kami semua kembali ke aktivitas masing – masing. Ada yang kembali menuju press room di dalam Gedung Sate, ada yang bergegas menuju ke pengedilan karena harus meliput sidang perdana kasus Bansos dan juga tidak sedikit yang masih sekedar duduk – duduk sambil berbicang di cuanki. Dan saya sendiri bergegas ke GIM karena hari ini malas sekali untuk ke kantor, karena kebetulan pekerjaan belum ada dan partner saya juga masih berlibur di Jakarta.

Skip sampai malam hari, karena setelah itu tidak ada yang saya kerjakan. Hanya beberapa saat main game online dan berlomba foto yang tidak penting. Sebetulnya ada yang menarik ketika sore hari saya coba mengabadikan acara rutin #Kamisan, tapi sudahlah saya sudah kadung emosi di jalan jadi saya malas untuk menulis.

Pada intinya hari ini hari yang datar dan masih sama dengan hari – hari kebelakang. Masih mencari dan meraba pola kerja yang nyaman, tidak membuat saya malas dan menua di kantor. Salah satunya ya ini dengan menulis, tepatnya membiasakan menulis sesuatu yang terjadi dari pagi sampai malam.Selain membunuh rasa bosan, ya ingin membiasakan diri untuk tetap sibuk dan produktif. Ya, mudah – mudahan akan ada banyak edisi dari catatan kecil ini. Tidak hanya catatan yang saya beri label #1 saja tapi sampai

ImageImage

#1000. Mungkin dan Harus!

01.34 am, masih tetap di kamar milik Mang Bebeng yang selalu saya jadikan tempat pelarian dari rasa sepi.

Playlist : Semua lagu  White Shoes and The Couples Company yang saya punya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s