[Repost] Review 19 Years After Concert : Mesin Waktu Pure Saturday, versi saya di Noiseyouth.com

Suasana Dago tea House Bandung, Minggu  malam (30/6/13) sedikit berbeda dari biasanya. Malam itu Teater Tertutup tersebut di penuhi oleh para “indies” kota Bandung yang mayoritas didominasi para pemuda era 90-an. Dengan dandanan yang rata-rata begitu rapih dan beberapa penonton yang hadir mengenakan kaos band – band pop pada era tersebut. Sebut saja Ride, The Cure, New Order. Pemandangan tersebut sangat langka namun juga menjadi wajar ketika penampil konser tunggal tersebut adalah Pure Saturday.

Sesaat setelah memasuki ruangan ternyata Pure Saturday sudah memainkan “Horseman” setengah lagu. Saya bergegas mengambil posisi yang pas, untuk mempermudah bidikan kamera. Suasana gedung pertunjukan begitu santai, penonton duduk dengan tertib sambil sesekali mengangguk menikmati alunan musik pop ala Satrio dan kawan-kawan.

Tidak banyak kalimat yang keluar dari vokalis bernama lengkap Satrio Nurbambang tersebut. Baru setelah kurang lebih 4 lagu selesai dibawakan, pria tersebut menyapa penonton dengan ciri khas spontanitasnya, yang tak pelak memancing tawa dari penonton yang hadir malam itu. “Hai, apakabar semua?, mudah-mudahan semua baik – baik saja, malam ini merupakan malam agung dan kalian adalah tamu agung kami. Naon deui nya?? Bingung euy, emang gampang ngomong di hareup?,” selorohnya.

Intro lagu “Labirin” menandai kembali penampilan mereka yang disambut riuh tepukan penonton dan sontak memancing koor masal dari Pure People (sebutan bagi fans Pure Saturday). Penampilan kuintet asal Bandung yang populer dengan hits mereka yaitu “Kosong”, ini terlihat begitu santai. Arif terlihat begitu nyaman dengan Telecasternya, dengan seskali memainkan fill-fill baru untuk menghidupkan lagu-lagu Pure Saturday . Begitu juga ketiga personil lainya  Ade , Adhi dan juga Udhi yang terlihat begitu menikmati penampilan dalam konser tunggal mereka yang bertajuk “19 Year Afters Concert”.

Konser ini merupakan konser tunggal Pure Saturday yang begitu dinanti para penggemarnya. Setelah merilis album terakhir mereka “Grey” di Jakarta 2012 silam, Pure Saturday belum melakukan konser di Bandung. Konser kali ini menjadi spesial karena dua hari sebelumnya Idhar Resmadi, seorang penulis yang juga jurnalis musik asal kota Bandung, meluncurkan buku biografi Pure Saturday yang berjudul “A Based on a True Story”. Buku tersebut di cetak oleh U&KL yang merupakan imprint dari UNKL, salah satu produsen pakaian ternama kota Bandung.

Ada kejadian lucu ditengah – tengah pertunjukan. Ketika Pure Saturday berganti set menjadi akustik, layar besar di belakang panggung menanyangkan koleksi foto-foto lama Pure Saturday. Kemudian masuklah tiga orang sahabat Pure Saturday termasuk penulis buku biografi mereka Idhar Resmadi, Ucok “Homicide”, dan Gebeg “Homogenic/Powerpunk”. Komentar – komentar spontan mereka ketika menyaksikan tayangan slide foto – foto Pure Saturday, membuat penonton tertawa terbahak-bahak. “Njis, Grunge banget nya?, eta kacamatana teu nahan euy,” cela Gebeg, “ Haha..Eta pas keur susah, can mapan bro,” tambah Ucok. Malam yang begitu intim.

Ucok “Homicide” sendiri merupakan sahabat karib para personil Pure Saturday sejak masih bersekolah di SMP. Mereka berkawan sejak lama. Ucok juga merupakan salah satu orang yang memiliki kontribusi di Pure Saturday, beberapa judul lagu seperti “Langit Terbuka Luas Mengapa Tidak Pikiranku, Pikiranmu ”, “Nyala”, “Sajak Melawan Waktu” dan “Saatnya Nanti” merupakan judul lagu yang diberikan oleh Ucok.

Beres tayangan slide, Pure Saturday kembali bersiap, kali ini dengan set akustik mereka. Iyo (panggilan akrab Satrio), membuka penampilan mereka di sesi akustik dengan kembali menyapa penonton. “ Masih bersemangat? Jangan tegang ya, kita santai dan nyanyi bareng lagi malam masih panjang,” sapanya pada penonton. “Konser ini utang kita sama kalian, karena dari kemarin –kemarin gagal terus, gak ada sposnsor haha,”kelakarnya.

Ada kalimat yang menarik ketika Iyo bercerita mengenai perjalanan 19 tahun Pure Saturday. “Ya, Band ini band yang cukup sulit untuk manggung, jadi malam ini langka. Kita semua pekerja ada yang pegawai bank, designer, kerja di clothing, itu juga yang bikin jadwal kita agak ribet dan sering bikin kita ribut. Gak jarang jadwal manggung bentrok jdawal kerjaan,”tutur Iyo. “Belum lagi tuntutan kalian untuk Suar kembali!!, eta teh nyieun pasea di band nyaho, terus aing di pecat, dan ayeuna ngeusi deui teu jelas haha,” ucapnya dengan mimik kesal dan setengah tertawa. Ungkapan spontan dan jujur, respon penonton pun menyambut dengan tawa dan tepuk tangan.

Sesi kedua mereka buka dengan “Time for a Change Time to Move On” yang dibalut apik dalam sesi akustik. Di sesi ini mereka membawakan semua hitsnya dari mulai “Bangku Taman”, “Awan”,”Buka”,”Nayala” dan tentunya “Kosong” yang lagi-lagi memancing koor masal Pure People yang hadir malam itu. Di lagu “Kosong” Iyo turun dari panggung mengajak Pure People kembali bernyanyi dan berbaur bersama mereka. Mungkin lagu ini merupakan klimaks bagi para penonton yang hadir malam itu, karena telah lama menanti-nanti momen langka ini.

Dua lagu terakhir sebelum encore yang mereka mbawakan merupakan lagu dari album “Grey” yaitu “Albatros” dan “Dream A New Dream”. Dua lagu masterpiece mereka di album terakhir yang begitu kental nuansa progresif. Album ini mungkin representasi pendewasaan musikalitas Pure Saturday  dari album – album sebelumnya. Mereka berpamitan dengan “Enough”, hal tersebut sontak memancing celotehan penonton yang meminta mereka untuk kembali ke panggung. Total 20 lagu mereka bawakan, dari mulai album “Pure Saturday”, “Utopia”, “Elora”, “Time For a Change, Time To Move On”, dan “Grey”.

Akhirnya setelah menunggu lima menit, Pure Saturday memenuhi permintaan penonton untuk naik ke panggung. Intro yang begitu familiar  terdengar dari gitar Arif, ya mereka membawakan “Regret” milik New Order. Hal tersebut membuat semua penonton kembali bersemangat serasa  kembali ke era 90-an. Penonton yang tadinya duduk kini mulai beranjak dan merapat ke bibir panggung. Tidak cuma itu tembang “The More You Ignore Me, The Closer I Get” milik Morrisey, membuat suasana semakin riuh dengan koor masal yang berulang. Encore Pure Semakin lengkap ketika intro lagu “Vapour Trail” milik Ride mereka suguhkan, mereka menutup konser ini dengan sangat apik dan penonton pun larut dalam sukacita.

“Indies!..Indies!, malam ini indies pisan mang,” ujar seorang rekan jurnalis dengan wajah sumringah, yang memang penggemar berat musik pop. “Sumpah keren pisan, kurang lila euy!, Suar ge teu maen euy asa ada yang kurang,” beberapa komentar dari penonton, sambil bergegas pulang. Bicara tentang Suar Nasution vokalis Pure Saturday terdahulu, banyak mungkin yang bertanya – tanya kenapa Suar tidak hadir, atau manggung. Ternyata  malam itu Suar hadir diantara penuhnya penonton konser  malam itu. Saya dan seorang teman termasuk beruntung berkesempatan untuk menghampiri Suar dan berfoto bersama. Saat ditanya “Kang, gak manggung?”, “Ngga,” jawabnya singkat. Namun setelah menjawab pertanyaan tersebut tersirat dari wajah Suar ekspresi kebahagiaan, tanpa harus menjelaskan dengan kata-kata. Saya yakin dan mungkin semua Pure People dimanapun percaya bahwa Pure Saturday tetap ada dan mendapatkan ruang di hati Suar begitu juga sebaliknya.

Konser 19 Year Afters ini layaknya mesin waktu yang membawa ingatan setiap Pure People yang hadir ke masanya, masa dimana mereka memiliki cerita indah akan Pure Saturday. Mudah-mudahan tidak hanya angka 19, tapi 20, 21 dan seterusnya. Karena sampai kapanpun Pure Saturday merupakan salah satu band yang selalu memiliki tempat di hati para penggemarnya. Semoga! (Irfan Nasution)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s