(Repost) Review Konser MONO di Bandung Tahun Lalu

mono_Dicky-Zulfikar-Nawazaki-64

(Foto : Dicky Zulfikar Nawazaki/noiseyouth.com)

Review konser MONO  sederhana dari saya untuk mengisi noiseyouth.com….

Hujan mengguyur cukup deras kawasan Dago, Bandung, Sabtu (6/4) malam. Hal itu cukup mengganggu suasana konser Mono yang diselenggarakan di Dago Tea House.

Venue di taman terbuka Dago Tea House terlihat kosong. Para penonton lebih banyak berteduh di tempat duduk atas yang tertutupi atap, ketimbang duduk di tempat terbuka. Menghindari hujan.

Meski ada juga sejumlah penonton yang tetap berada di tempat terbuka. Duduk-duduk sambil
melindungi dirinya dari hujan dengan payung.

Konser pun menjadi terlambat. Jadwal konser yang sedianya dimulai jam 8, menjadi terlambat satu jam. Tepat pukul 21.00 WIB, lambat laun terdengar nada-nada minor dari arah panggung utama,yang menjadi introduksi bahwa konser segera dimulai.

Tak lama kemudian, riuh tepuk tangan penonton mengiringi keempat personel Mono satu per satu memasuki panggung utama. Seperti biasa, tanpa banyak bicara, band yang digawangi Takaakira “Taka” Goto (gitar), Yoda (gitar), Yasunori Takada (drum, glockenspiel, gong), serta satu-satunya perempuan yakni Tamaki Kunishi (bass, keyboard) langsung menyapa penggemarnya dengan lagu pertama mereka bertitel Legend: A Journey Through Iceland, yang diambil dari album album keenam yang baru saja dirilis tahun kemarin.

Berbicara tentang musik tanpa kata-kata, masih banyak orang yang bertanya apakah mungkin band dengan musik tanpa lirik, dapat menyampaikan pesan?. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi band postrock asal Jepang ini. Tanpa kata-kata sedikitpun, musik mereka sudah lebih dari cukup menjelaskan interpretasi bermusik mereka (Mono-red), dan tentunya memuaskan rasa penasaran pecinta postrock di Bandung.

Sejauh ini, band postrock yang terbentuk pada 1999 tersebut telah mengeluarkan 6 album. Sejak awal karirnya, Mono memainkan musik Instrumental. Postrock sendiri sebuah genre musik yang dicirikan oleh gugusan sound yang menonjolkan efek-efek delay, reverb, dan distorsi, sehingga menghasilkan karakter music yang mengawang sekaligus berisik.

Namun, ciri khas Mono adalah bagaimana musik instrumental yang digubah diarahkan layaknya komposisi sebuah orkestra. Bila alat music orkestra pada umumnya terdiri dari violin, cello, stand up bass, dan lainnya, Mono menggubahnya menggunakan alat musik konvensional band rock pada umumnya, yakni gitar, bas, dan drum.

Menggubah musik rock dengan mengarahkan kepada suasana orkestra, Mono banyak menonjolkan teknik strumming khas Mono (mengocok senar gitar sekaligus-red) dengan cepat. Cepatnya strumming tersebut dibalut oleh efek- efek yang dihasilkan dari delay, reverb, overdrive, dan fuzz secara bergantian, sehingga terdengar suara yang membentuk atmosfir orkestratik. Tak lupa alat-alat musik unik mereka tambahkan seperti Glockenspiel, yang menambah kaya musik mereka dibeberapa lagu, malam itu.

Malam itu, menjadi konser yang cukup berat. Apalagi Mono lebih banyak memainkan nada-nada minor, yang mengakibatkan atmosfir lagu terdengar gelap, dan sendu. Dengan struktur lagu yang digubah Mono yang banyak bermain dengan tempo. Pada awal lagu, terkadang hanya dihiasi oleh suara rintik hujan dan petikan bersih yang berasal dari gitar Fender yang digunakan Taka.

Namun ditengah lagu, tempo semakin cepat, dan berisik. Petikan gitar di awal berganti suasana diganti oleh strumming cepat dan intens yang dilakukan oleh Taka dan Yoda. Tidak ada lagi suara bersih seperti di awal lagu, karena semua tertutup raungan distorsi yang memekakan telinga.

Dalam fase tersebut, terkadang personel Mono tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Di lagu ketiga, Yoda beranjak dari kursinya, dan terlihat membanting gitar Fendernya. Dia terlihat mengalami trance saat lagu sedang berada di puncak keriuhannya.

Dalam beberapa lagu, fase yang memuncak tersebut terkadang dikembalikan lagi ke tempo yang lambat dan tanpa raungan distorsi apapun. Hal tersebut cukup mempengaruhi suasana psikologis penonton. Apalagi di tengah hujan deras yang tak kunjung henti mengguyur venue pada malam itu.

Imajinasi penonton digiring semakin mengawang, layaknya diombang-ambing di tengah lautan yang sedang diliputi hujan badai.

Secara keseluruhan, Mono malam itu membawakan sembilan lagu pada malam itu. Diantaranya Legend sebagai opening, Burial At Sea, Dream Odyssey, Pure As Snow (Trails Of Wintes Snow), Follow The Map, Unseen Harbour, Ashes In The Snow, Halycon (Beautiful Days) dan lagu Everlasting Light dari albumnya yang kelima pada 2009 lalu, Hymn To The Immortal Wind, menjadi penutup penampilan Mono pertama kali di Bandung. Tidak ada encore, mereka hanya berpamitan seraya membungkukan badan tanpa sepatah kata pun.

Konser usai sekitar pukul 22.45 WIB. Hujan yang turun cukup deras membuat suasana menjadi kurang mendukung, meski bila dilihat dari segi tata suara, Mono masih mampu menyuguhkan kualitas yang prima. Semoga saja Mono nanti bisa kembali ke Bandung ketika kondisi cuaca sedang bersahabat.

Kehadiran band asal Jepang di Dago Tea House pada malam itu merupakan kali keduanya mereka mengunjungi Indonesia. Sebelumnya, Mono sempat main di Jakarta pada 2011 silam dalam sebuah festival musik. (Irfan Nasution)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s