Menabung Rindu

Apa yang tidak lebih menyenangkann selain waktu pertemuan tiba? Aku suka menunggumu di meja pojok kantin, sebuah gedung tua. Aku menunggumu, kemudian melihat di kejauhan  saat kau datang memarkirkan kendaraanmu. Aku melihat kau datang dengan membawa resah dan gelisah. Tapi aku lebih banyak melihat rindu.

Pernah ku katakan, duduk satu meja dengan mu saja itu sudah cukup bagiku. Tapi taukah kau, apa yang lebih baik dari itu? Ketika kita duduk terhalang satu satu meja dan ketika posisi duduk mu tepat menhadap ke arah ku. Ya, lagi dan lagi aku melihat rindu. Melihat kau yang pendiam dengan mimik wajah galak itu, senyuman khas dengan gigi gingsul itu dan mendengar ucapan pamungkas yang sering kau ucapkan “aku bisa apa?”

Tapi yang paling membuatku tak bisa apa-apa adalah ketika mendapat kesempatan untuk sekedar berbincang. Aku hanya bisa kikuk dan mengalihkan padandangan mata. Karena aku tak sanggup berlama-lama memandangmu secara langsung. Dengkulku terasa lemas, pertanyaan standar dan cenderung bodoh sering terucap. “Liputan apa hari ini?”, “Kemana aja hari ini?” jelas aku tau kesibukanmu.

Tapi dari kesemua hal diatas aku tidak pernah merasa sebaik itu. Lalu kita bicara, rindu luruh menjadi butiran kecil dan kemudian rindunya menguap diantara tawa kita. Setelah berbicara, kemudiaan berbincang, lalu berpisah. Lama, iya aku berharap cukup lama. Tak bertemu cukup lama lagi, tak bertanya hal bodoh lagi, dan kau lupa. Agar kita menabung, untuk kembali merindu….

 

10411980_10204049049408640_2130884094142424255_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s