Berburu Senja Bersama Para Pencari Suaka

I. Awal Perjalanan 

“Sebuah catatan perjalanan sekawanan jurnalis foto. Membelah malam dan menunggu ketidak pastian.  Dari mulai kekacauan di Pelabuhan Ratu sampai menyesatkan diri di Ujung Genteng.”

Rabu (2/7/14) malam, sekitar pukul setengah dua belas malam saya dan tiga orang teman bertemu di GIM (Geung Indonesia Menggugat) untuk berangkat menuju Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Kami berangkat menggunakan sebuah mobil sewaan. Perjalanan ini  adalah perjalanan yang tidak direncanakan sebelumnya. Adalah Reza, seorang teman sekaligus salah satu jurnalis foto di harian Jakarta Globe yang mengajak saya dan teman-teman lainnya, Anjar dari Republika dan Ucok dari kantor berita Antara untuk berangkat bersama-sama.  Pada awalnya  saya pun tidak akan berangkat karena sebenarnya pada akhir pekan saya memiliki agenda dari kantor, dan jadwal untuk memotret di kawasan Ciroyom.

Tujuan perjalanan ini sendiri sebenarnya bagi saya tidak terlalu penting, mengingat foto atau berita yang saya hasilkan (kalaupun saya buat) tidak akan  di muat di tempat saya bekerja. Saya memutuskan berangkat atas dasar pertemanan (bergantian menjadi supir) dan keinginan untuk berlibur yang kian tak terbendung.  Ya, kamu menuju Pelabuhan Ratu untuk memotret pengembalian para pencari suaka yang dikembalikan  atau sengaja dihalau pemerintah Australia memasuki wilayah perairan Indonesia, karena mereka enggan memberikan perlindungan suaka.

Padahal sudah sangat jelas hal tersebut dilarang dan diatur dalam Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 dan Protokol 1967 sebagai persetujuan dari konvensi tersebut. Yang mana  sudah diratifikasi oleh kedua negara, dalam hal ini Indonesia dan Australia. Pada intinya hal ini berkaitan dengan isu Hak Asasi Manusia. Penjelasan lebih lanjut  tentang Konvensi dan Protokol tersebut saya catumkan dalam tautan ini.

Tentunya jika prosesi pengembalian dan pemindahan para pencari suaka ini berhasil diliput oleh ketiga teman saya, hal tersebut menjadi berita yang cukup ekslusif (meminjam istilah Reza). Karena isu HAM adalah hal yang begitu menjadi sorotan bagi media-media alien (baca: asing). Selain tentunya mereka dapat tersenyum lebar karena hanya mereka yang meliput (prestise) kemudian mendapatkan honor yang bisa dibilang cukup besar, terlebih ini adalah sebuah assignment di luar kantor dari sebuah media alien.

Sebenarnya di awal keberangkatan semua berjalan baik-baik saja.  Suasana ramadhan membuat jalanan cukup lengang, kami menyusuri jalan bebas hambatan untuk mempersingkat waktu tempuh. Keluar di gerbang tol Padalarang menuju Cianjur, kemudian Sukabumi. Dari mulai Cipatat sampai Cianjur kota tidak ada sesuatu yang aneh, kecuali truk pengangkut pupuk yang tergluing dan melintang di tengah jalan. Untunglah suasana malam tersebut sepi, sehingga tidak terlalu berpengaruh pada perjalanan kami.

Sampai di daerah Warung Kondang kami berhenti sejenak untuk membeli perbekalan di sebuah mini market untuk persiapan persiapan sahur. Kami berjaga-jaga kalau kami sampai di Pelabuhan Ratu dan tidak menemukan warung makan untuk sahur. Syukurlah,  kami tiba tepat waktu. Sekitar jam tiga pagi kami tiba di Pelabuhan Ratu. Ternyata benar, tidak ada warung  makan atau sekedar warung kopi yang buka disana. Untunglah kami telah belanja perbekalan. Tapi namanya orang Indonesia, belum ‘makan’ namanya jika belum bertemu dengan nasi. Setidaknya itu teori kami berempat, oleh karena itu kami berputar-putar sedikit menjauh untuk mencari makan sahur. Dan lagi-lagi kami berterimakasih pada Tuhan, karena telah menciptakan warung nasi Padang. Karena memang hanya itu satu-satunya tempat makan yang kami temui dan buka saat sahur.

“Gimana, boy udah ada kabar?” tanya Anjar

“Belum boy, masih ‘stenbei’ mending kita cari pos Polisi Air aja” jawab Reza, sementara saya hanya fokus pada nasi rendang dan Ucok masih menahan mulai dan sakit kepalannya  akibat mabuk perjalanan.

Setelah menyelesaikan makan sahur kami bergegas untuk mencari pos Polisi Air. Ternyata tempatnya cukup tersembunyi. Berada di belakang sebuah SPBU, di sebelah Pusat Pelelangan Ikan, Pelabuhan Ratu. Sesampainya disana teman-teman yang lain mencari info dan merencanakan untuk memotret  fenomena lainnya yang dapat dijadikan bahan berita (karena belum ada kejelasan info dari Reza). Sementara saya yang sudah sangat mengantuk setelah berkendara berjam-jam, hanya bisa merebahkan badan di teras pos Polisi sambil mengisi daya baterai telepon genggam yang sekarat dan menunggu pagi.

“Bro, infona valid teu? Kumaha mun kudu ka Ujung Genteng?(Apa infonya valid, bagaimana kalau harus ke Ujung Genteng?),“ tanya saya pada Anjar dengan nada curiga.

“Hahaha, teuing bro kumaha si eta weh (Reza), aing ge asa teu puguh (Tidak tahu, bagaimana dia saja, perasaan saya juga tidak jelas),” timpal Anjar dengan nyinyir.

Sambil kembali menunuggu pagi , kami masih terperangkap dalam mobil dengan rasa kantuk yang kian menggelayut di mata. Belum selesai dengan menahan lapar karena puasa, masalah bertambah dengan penat di kepala akibat bau anyir khas kawasan pelelangan ikan.

_MG_9113

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s