Keisengan Malam : Lyssa Belum Tidur Begitu Juga Aku

Sabtu, 2 Agustus 2014

22.57 WIB

Tanggal di kalender masih menunjukan angka dua, yang artinya baru dua hari berjalan di bulan Agustus ini, masih awal bulan tentunya. Belum lagi Lebaran baru saja beberapa hari lewat. Tapi kesialan sudah banyak terjadi di awal – awal bulan ini dan mungkin sampai akhir bulan ini. Semoga saja tidak! Aku harap! Istilah populer tiap kali pergantian bulan yang selalu bertebaran di media sosial macam “ August, please be nice” nampaknya sedikit banyak menggagguku sekarang.  Di awal bulan ini aku harus menelan ludahku dalam–dalam seraya menarik nafas yang juga tak kalah dalam dari biasanya.

Hati dan pikiran sudah kadung berada di gunung Semeru. Seperti sudah ku rencanakan jauh-jauh hari aku memang berencanan melakukan pendakian untuk memenuhi nazar-ku pada almarhum Ayah. Tapi badan dan kenyataanya aku belum tahu. Rencana bisa jadi tinggal rencana. Setumpuk penugasan kantor kembali membawaku berhadapan dengan data, rekaman dan layar  laptop 17” sederhana ini lengkap dengan koneksi internet yang tak boleh putus. Bututnya server surel kantor yang baru ini, oh sungguh menjengkelkan! Memasuki waktu deadline memang paling menyebalkan diantara waktu– waktu lain yang memang terbuang sia–sia juga sebenarnya.

Ketika teman-temanku bisa dengan congkaknya mengirimkan foto melalui whatsapp atau pamer di path sedang berjalan-jalan, kenapa aku tidak? Ah,

tapi aku sadar dan mengukur diri. Aku tidak mau membuat masalah semakin rumit dengan meninggalkan pekerjaan untuk sekedar berlibur menghibur diri.  Aku tidak mau kehilangan pekerjaan tentunya. Hutangku pada diri sendiri saja sudah menumpuk, aku tidak mau menumpuk hutang pada orang lain juga. Sial ! Beginilah, nasib yatim yang belajar  menjadi (sok) mandiri.

Itulah  kebusukan sebagai seorang  pegawai organik kacangan. Satu–satunya hiburan adalah kembali meningkatnya minat baca dan tulis. Kembali teringat sebuah wawancara yang cukup membuka pemikiran dan wawasan, kali ini kembali ke laptop! Seperti yang sering tukul bilang, malam ini hanya berkunjung ke blog gutterspit.com, weblog milik Herry  “Ucok” Sutresna  salah satu weblog favorit yang paling sering ku jelajahi. Selain Zarry Hendrik tentunya sebagai tempat untuk mencari kata–kata yang luar biasa jijik untuk merayu wanita. Meski tetap saja jadi inspirasi untuk merayu. Balik ke“gutterspit” disitulah tempat aku menemukan tulisan–tulisan yang menimbulkan semangat, rasa penasaran, lengkap dengan kalimat–kalimat pedas dan diksi yang cukup eksentrik dan jarang kutemui.

Aku sedang keranjingan zine, dan aku teringat zine buatan Ucok  yang dia  buat beberapa tahun silam “Lyssa Belum Tidur”. Zine yang diberi judul sama dengan nama anaknya tersebut berisi catatan harian yang menceritakan keseharian anaknya lengkap beserta segala tektek bengek pemikiran si bapak. Aku coba mendownload file PDF-nya, ternyata ada 7 seri atau edisi. Kubaca semua  sampai tamat dan dari beberapa tulisan makin menguatkan ku untuk terus belajar menulis. Setelah membaca, seketika pandangan ku terhadap si Boombap Master dan penjahat rima kelas wahid ini berubah seketika. Toh, ternyata dia hanya manusia biasa sama dengan yang lainnya, hanya saja memiliki sudut pandang yang berbeda akan beberapa hal.So,why everybody is fuckin serious about him?

Membaca “Lyssa Belum Tidur”  itu  asik dan  menyenangkan. Kalau dulu ada istilah “Fuck Shelia On 7” sekarang aku membuat sendiri “Fuck Raditya Dika” atau “Fuck Andrea Hirata”  beserta semua buku bodoh dan larisnya! Haha.. memahmi isi pemikiran seseorang jauh lebih menarik ketimbang membaca karya bodoh berlabel “best seller”. Ah, sudahlah tetap saja aku merasa busuk, belum lagi “kegagalan move –on “ yang sedikit mmengganggu stabilitas. Hah! Kalau kata sahabatku si Anjar “masalah hatee..” Tapi apa mau dikata ya, hati memang tak bisa dibohongi. Ah, kamu memang selalu mengganggu stabilitas!

Entah karena sepi atau apa, semua mendadak melankolis. Semua kenangan–kenangan belakangan ini kembali menyeruak. Sialnya aku malah senang mengenangnya dan malah sama sekali tidak ingin melupkannya. Aku memang bebal!

“Akan kemanakah, aku dibawanya hingga saat ini menimbulkan tanya..Engkau dan Aku menuju ruang hampa tak ada siapa, hanya kita berdua!” ada yang lebih romantis  ketimbang lagu Armada, ya Efek Rumah Kaca. Selalu sukses membuat penyakit ini kumat. Skip, lanjut di lain waktu…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s