#Latepost : Basi! Madingnya Udah Terbit!

Merepih ingatan sepanjang tahun 2014…

Biasanya orang membuat sebuah kaleidoskop di penghujung tahun dan ramai-ramai meng-uploadnya saat pergantian tahun. Semua hal yang disukai, menyenangkan, sampai yang menyedihkan dirangkum dalam sebuah catatan kecil (meski isinya sangat panjang) sebagai renungan akhir tahun dan gambaran resolusi untuk tahun berikutnya. Walaupun tak semua orang melakukan hal serupa.

Perkara mengingat kejadian sepanjang tahun bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya, entah bagi yang lainnya. Terlalu banyak kejadian yang harus di ingat dalam setahun penuh, dan saya tidak mungkin mengingatnya satu persatu selama 365 hari, mesikpun Tuhan memberikan akal dan pikiran. Ah, maafkan aku Tuhan pemberianmu ini jarang di asah bahkan untuk mengingat pun aku sulit. Tapi tentu dari sekian banyak kejadian selama satu tahun ada beberapa kejadian yang paling saya ingat, dan itulah yang coba saya runut dan tuliskan kembali dalam sebuah catatan kecil ini, meski tidak beraturan. Sebutlah dengan sebutan yang kalian mau, abaikan sisanya jika dirasa mengganggu. Meskipun di rasa kurang pas jika disebut kaleidoskop karena “Basi! Madingnya udah terbit!”

Teruntuk Nona Yang Kutunggu

From : Irfan Nasution <irfan.noiseyouth></irfan.noiseyouth>

To     : *** *********

Send : Tue, Jul 29, 2014 at 8:19 PM

Subject : Sebuah catatan, kalau dirasa tidak penting masukan spam saja 🙂

Ini terakhir kali aku mengganggumu 🙂 hehehehe

Sampai hari dan detik ini aku masih diam di tempat yang sama. Ya, sama seperti pertemuan pertama saat aku mengenalmu. Dari sejak awal perjalanan sudah ku relakan jika kemudian hanya bayangan yang kutemui. Aku tahu Nona, kau tidak mungkin mengingkari janjimu sendiri. Mungkin aku saja yang terlalu naif. “Kalau aku main-main, mungkin sudah kutinggalkan orang yang kutunggu untuk mu,” aku ingat betul kata-katamu. Aku tahu kau tak ingin aku berlama-lama berharap. Aku tahu kau tak ingin aku berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi pada akhirnya rasa sakit, marah, dan kecewa ini sesuatu yang aku pahami dan syukuri. Seperti sudah ku bilang Tuhan bekerja secara misterius.

Dengan catatan kecil ini, izinkanlah aku berterima kasih karena telah mengisi waktu luangku yang begitu banyak ini. Dan kau menggantinya dengan kebahagiaan dan semangat yang tak bisa ku gambarkan. Jika pada kemudian hari aku yang menunggumu ini hilang bersama angin, ingatlah bahwa ada seseorang yang pernah begitu bahagia mengenalmu. Jika pada saat ini ada sesorang yang jauh membuatmu utuh, aku senang.  Hanya sebuah doa dari semua doa yang paling baik yang dapat aku panjatkan dalam setiap tarikan nafasku.

Mungkin kita hanya salah satu kemungkinan dari ribuan kemungkinan.

Terimakasih sudah mau mengerti, Nona.

Sejak aku mengenalmu, aku mengenal aku….

Sebuah re-interpretasi dari salah satu puisi Andy Gunawan. Aku pikir kamu pun pernah membacanya. Maaf aku tak se-puitis Sapardi atau mungkin Pram yang begitu cekatan dalam meramu kata-kata. Aku hanya bisa menulis dan mereka ulang apa yang aku rasakan dalam sebuah interpretasi. Maaf juga jika kau rasa puisi ini menjadi sesuatu yang buruk dari aslinya.

Hari ini adalah hari yang (kalau bisa) aku hilangkan dari memori ku. Hari dimana semua perasaan bercampur aduk jadi satu. Marah, sedih, gusar, atau kesal beririsan tipis dengan rasa lega dan bahagia. Seperti sudah kubilang aku bukan orang yang mudah berbicara. Semua aku rasa jauh lebih mudah aku tulis atau aku gambar. Meskipun tidak semua orang dengan mudah dapat memahaminya.

Tapi sudahlah, aku bisa apa? Seperti yang sering kau bilang. Aku cukup berbesar hati dan ikhlas. Aku menyukaimu tanpa alasan tanpa pula pamrih. Jadi aku mohon jangan berpikiran sedikitpun apa yang aku buat adalah pamrih. Dan aku yakin kau tidak mungkin berpikiran seperti itu.

Sudah lama aku ingin bicarakan ini denganmu. Tapi mungkin tuhan belum mengijinkannya. Maka dari itu, hanya bisa kutulis kembali dalam catatan kecil ini. Nona, bukan aku tak tahu diri tapi pada akhirnya memang aku tahu apa dan siapa yang kau tunggu. Tapi tak sedikit pun menciutkan nyali untuk mundur, meskipun aku sadar aku hanya prajurit biasa yang di hadapkan dengan goliath. Senjata yang kumiliki hanyalah keyakinan dan harapan. Itupun kau yang ajarkan.

Tapi semua kembali lagi pada nalar. Ketika semua orang berkata tentang seribu harapan dan kemungkinan, aku berpegang pada rasionalitas dan keharusan. Karena dari sekian banyak kemungkinan tidak semuanya harus. Nona, mungkin kau bosan mendengarnya tapi memang benar aku menyimpan rasa sayang yang begitu besar. Walaupun pada akhirnya hanya bisa ku simpan sendiri. Bukan tak mau kubagi tapi biar aku tabung hingga waktunya nanti kubagi. Sama halnya dengan teori menabung rindu milikmu.

Kehilangan? Jelas! Tapi rasa sayang ini aku rasa lebih besar dari sebuah kehilangan. Lelah? Tidak! Aku mohon jangan pernah bertanya tentang rasa lelah, karena sudah pasti jawabannya tidak. “Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kau kepadaku, terserah. Itu urusanmu,” ujar si Ayah urakan itu. Aku yakin kau paham betul konteks kalimat itu.

Tapi Nona, tak perlu kau khawatir. Aku masih dibatas kesadaran yang paling wajar. Jangan merasa terganggu olehku. Jangan pula merasa terhalangi. Jalani apa yang kau yakini. Mencintaimu dari jauh sudah cukup bagiku. Aku minta maaf jika memang selama ini aku jadi penghalang dalam setiap langkahmu. Percayalah.

Biarkan aku menyayangimu cukup  dalam sunyi. Seperti kau bilang “Ada sunyi yang tak bisa dibagi, ada sepi sendiri yang menenangkan hati.”

Terimakasih…

Kira-kira begitulah isi dari surat elektronik yang saya kirimkan kepada  “Si Nona Yang Kutunggu” (dulu). Memberanikan diri dengan kemampuan menulis seadanya. Sudah sekira 4 tahun belakangan memang tidak ada seorang perempuan pun yang mengalihkan isi pikiran saya selain Ibu saya sendiri. Barulah di awal tahun kemarin saya mengenal sosok yang cukup pendiam ini. Perilakunya cukup misterius, namun pribadinya yang unik, mudah akrab, serta “berpendirian” membuat saya sulit tidur nyenyak selama setahun kebelakang. Singkat cerita, sama seperti yang sudah ditulis, bahwa Tuhan memang bekerja secara misterius. Ada hal-hal yang harus di maklumi dan di ikhlaskan tanpa harus menggerutu. Dalam setiap perencanaan tak selamanya akan berhasil sempurna, pun di setiap doa yang terpanjat tak semua mesti terkabul. Pada akhirnya kesunyian adalah tempat paling nyaman untuk bersandar.

Kemanakah Ikhlas Itu ?    

Kata orang ilmu ikhlas itu adalah ilmu yang paling sulit dikuasai. Baik secara pemahaman kontekstual, apalagi pada tataran prakteknya. Dan hal itu memang terbukti sulit! Perkara ini yang saya ingin luruskan biar orang-orang “sok tau!” di luar sana tak banyak komentar. Putus cinta, ditolak, di khianati? Itu semua hal biasa dan mendasar bagi siapa pun. Yang paling menyedihkan adalah kehilangan teman-teman satu kumpulan dengan perkara sepele “gara-gara cewe”. Terdengar tolol dan menggelikan. Ini bukan sebuah pembelaan, tapi jika kalian disana membacanya dengan pikiran jernih pasti akan mengerti masksudnya. Saya sama sekali tidak MENGELUHKAN masalah tolol seperti tikung-menikung dan hal kampungan lainnya. Yang saya keluhkan adalah pribadi seorang kawan yang sangat pi-anjing-eun se-kaa-lii! Kasar? Tidak juga! Jauh lebih kasar sudah salah malah menyalahkan orang. Jauh lebih hina berteriak brengsek padahal dirinya sendiri brengsek, dan yang paling mengkhawatirkan adalah menghasut orang untuk membenci orang lain dengan dengan alsan dan masalah yang sama sekali cemen! Sampai-sampai becandaan jaman anak ingusan di ulang lagi, ya “blok-blokan”. Hey kawan, masih ingatkah kita berbagi tawa di ruang bersofa itu ? Dimana cerita menyenangkan sampai kabar menyedihkan kita bagi bersama dalam petikan gitar dan suara pas-pasan yang dimiliki mengiringi senja yang perlahan menghilang di tiap minggu sorenya. Sekali lagi ini bukan masalah “perempuan”, tapi individu dan kalian tak perlu menghilang. Silahkan menghakimi, tapi bukan malah berjarak dan hilang. Karena tak sedikit pun ada dendam di hati ini, malah rindu yang membuncah. Kecuali bagi si “Tai” itu! Pahamilah, jangan hanya karena muka cemberut, omongan sinis, dan diamnya sesorang berarti mendendam. Meski memang pada akhirnya bagi teman kalian ini (kalau kalian masih menanggap ku teman), kesunyian lagi-lagi menjadi tempat yang nyaman untuk bersandar.***

 

Coincidence bahasa kerennya!

Teruntuk sahabat yang ‘indah’ sendiri disana. Karena sebuah ‘kebetulan’ adalah cara kerja nyata dari Tuhan paling misterius untuk mempertemukan seseorang. Bentuknya bisa apa saja, bisa jadi seperti penggalan adegan film televisi (FTV) yang ‘alay’ tiba-tiba bertabrakan di tengah pasar kemudian saling meminta maaf, untuk kemudian kenalan dan bertukar nomor telepon. Mungkin juga seperti balada tukang ojeg yang ditaksir penumpang cantik, dan jatuh cinta lalu tidak disetujui keluarganya, kemudian diajak kawin lari dan ya seperti biasa happy ending. Mungkin! Tapi apa yang kita alami ini adalah sesuatu yang rumit dan jauh lebih sulit di tebak ketimbang penggalan FTV tadi. Bagaimana mungkin bisa ditebak, seseorang yang tadinya tidak kenal satu sama lain akhirnya bisa berteman, meski sebenarnya masalah (dengan orang lain) yang menjadi awal mula pertemuan kita. Sampai pada urusan menikmati kuningnya senja dari tempat tinggi di setiap sorenya, atau kegemaran membaca lirik dan mendengarkan Efek Rumah Kaca yang ahh, kalau dipikir tidak masuk akal kalau bukan sebuah ‘kebetulan’. Kebetulan yang buakan di buat-buat, apalagi yang dipaksakan.

Hey sahabat, menutup akhir tahun 2014 jauh lebih terasa menenangkan ketika kita bisa saling memahami meski lewat pesan singkat dalam layar handphone berukuran 3,5 inchi. Lebih berwarna ketika sembunyi-sembunyi makan bakso ‘hipster’ yang di lanjut makan eskrim di restoran siap saji. Lebih melankolis ketika akhirnya kita satu sama lain berusaha ‘jujur’ pada diri sendiri tanpa ada yang harus ditutupi dan sakit hati kalau kita ternyata memang saling mengaggumi dan mencinta. Meski semua terungkap dalam satu kalimat ‘cukup tau sama tau’. Semua berawal dari kebetulan dan biarlah ini juga berakhir kebetulan. Siapa tau kita memang jodoh, percayakan sisanya pada Tuhan, dan ya beginilah hidup adanya, terlalu ‘Indah’ jika disesalkan. 

Satu hari di bulan Oktober…

Malam itu, masih kuingat jelas wajah resah berlinang air mata yang perlahan bersandar lesu di pundak ini. Di pundak yang juga perlahan basah menampung keresahan. Ada ketenangan menghangati tubuh yang menggigil menunggu pagi, ketika akhirnya kau tidur tanpa tangis dan meracau. Saat kau tidur, aku adalah Paulo Colelho yang berbangga hati karena bisa menciptakan alkemis yang melegenda itu. Atau Sisiphus yang berhenti menggulirkan batu dari masa ke masa. Aku bahagia! Karena wajahmu memaparkan negeri damai, bertanah melati.

Sosok yang selama ini saya tidak harapkan kembali dalam kehidupan tiba-tiba datang bagai petir di siang bolong. Tanpa ada aba-aba sebelumnya dan tidak menyisakan sedikit pun celah untuk bernafas, dengan perlahan namun pasti sosoknya kembali meracuni hati dan pikiran. Ingatan buruk empat tahun kebelakang memang tak mungkin diulang, tapi kenangan tak kunjung dapat di hapus. Tanpa harus mencari siapa yang benar atau salah, saya mencoba memaklumi dengan segenap tenaga yang tersisa. Mencoba waras di ambang kesadaran yang perlahan buyar. Seiring harap yang kian lantang terucap, dan doa yang makin pekat terpanjat saya memaafkan dia.

 

Kebuasan harimau sumatera bersama mamah-mamah ‘metal’ dari Amrik…

Saya masih ingat malam itu adalah malam minggu. Malam yang biasanya orang pakai untuk pacaran, malah saya pakai untuk bekerja (derita jomblo). Melihat jadwal di handphone, saya pun bergegas menuju venue yang kali ini terletak di salah satu dataran tinggi kota kembang. Awalnya sempat ragu apa ‘si jagur’ yang sudah dua bulan belum sempat saya service akan ngadat di jalan atau tidak. Tapi demi sesuap nasi dan sebongkah berlian (katanya) saya terus memacu ‘si jagur’ dengan akselerasi yang maskimal menuju Maja House, jalan Sersan bajuri, Bandung.

Sebenarnya acara ini cukup unik, entah kadar ke-hipsteran saya yang masih rendah atau memang panitia acara ini memang sangat out of the box. Sepengetahuan saya biasanya Maja House ini digunakan oleh para penikmat musik-musik so-called EDM atau dugem biasa saya sebut tapi malam minggu 12 April 2014 kemarin menjadi malam minggu terbising yang pernah ada di Maja House.

Ada SSSLOTHHH unit sludge metal lokal favorit saya, belum lagi segerombolan southern son berlabel ((AUMAN)) yang jauh-jauh datang dari Palembang, sampai yang paling jauh adalah mamah-mamah metal seksi Laura Pleasant yang menggawangi Kylessa, band sludge metal underated berbahaya asal Savannah, Georgia, Amerika Serikat. Nama acaranya adalah Maternal DSSTR Showcase Vol 3. Acara keren ini digagas oleh Maternal Disaster dan Live One. Mereka sebelumnya sudah mendatangkan Dead In The Dirt dan (((SATAN!))), dalam dua acara sebelumnya. Dan malam itu pun dibuka dengan apik oleh SSSLOTHHH. Materi  andalan dari debut album Phenomenon mereka geber  selama 30 menit dan sukses membuat suasana cukup panas dan mengawang, meskipun masih banyak penonton terlihat malu-malu untuk sekedar ber-hadbang. Band ini epik, vokalisnya jarang bicara, aksi panggungnya pun cenderung pasif, tapi justru itulah yang membuat band menjadi band ini underated versi saya. Musikalitasnya? Tak perlu ditanya salah satu personilnya jebolan Hark It’s Crawling Tar Tar, belum lagi referensi musik mereka begitu kaya, hingga orang yang terlibat dalam produksi album mereka yang bukan sekedar orang ‘biasa’.

Rasanya tidak afdol mendengarkan band-band yang saya sebut tadi tanpa asupan fermentasi gandum yang di tempat ini (Maja House) di jual dengan harga yang cukup brengsek bagi kantong saya! Sembari menunggu penampilan berandalan asal selatan sumatera, ((AUMAN)) saya menepi di pojokan untuk menyegarkan diri dengan sebotol beer ditangan. Datang tanpa dibayar, menyiapkan set dengan ‘roadies’ atas nama pertemanan, sungguh komitmen dan semangat DIY yang patut di apresiasi. Tidak lama berselang saya kembali ambil posisi untuk memotret. Maklum saking multi talent-nya saya bekerja menulis dan memotret sekaligus (sebuah keterpaksaan sebenarnya). Saya segera berdesakan di samping kanan panggung mengambil posisi aman dengan pertimbangan lensa kamera yang seadanya.

Tak banyak bercuap-cuap, kelima pemuda yang concern dengan konservasi harimau sumatera ini mengambil alih panggung. Dengan intro Year Of The Tiger yang anthemic sukses memprovokasi penonton, bibir panggung kini mulai di padati tampang-tampang sangar yang setiap saat bisa saja naik panggung untuk kemudian terjun bebas ke arah kerumunan saling tindih satu sama lain. Di lanjut dengan Suar Marabahaya, Son Of The Sun makin membuat penonton liar. Band ini adalah salah satu band ‘keras’ yang cukup cerdas dan sukses untuk membuat crowd terlibat dalam koor masal. Bahkan Rian Pelorr sang vokalis yang dulu sempat bersama Dagger Stab saat masih di Jakarta, tak segan untuk turut berbaur dan berbagi keringat bersama penonton.

Selalu menarik saat menyaksikan mereka manggung di Bandung karena memang langka. Ini kali kedua saya menyaksikan mereka langsung setelah sebelumnya mendapat kesempatan di Bandung Berisik 2013 silam. Penampilan gahar, berkeringat dan intim ini ditutup dengan manis lagi-lagi dengan lagu yang anthemic, W.K.G.G. Buas, seperti harimau sumatera! Dan belum lama saat saya menulis tulisan ini sekarang, mereka baru saja menyatakan diri bubar! Fuck, so sad to hear that..

Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga diatas panggung. Ya, Kylessa band sludge metal yang berpersonilkan ‘mamah-mamah metal seksi’ Laura Pleasant (gitar/vokal), Philip Coupe (vokal/gitar), Chase Rudeseal (bass), Carl McGinley (Drum), Eric Hernandez (drum) sukses ‘membisingkan’ Bandung dengan lagu pembuka Bottom Line. Dilanjut Don’t Look Back, Tired Climb, Quicksand, terus di geber dan memancing crowd makin liar danstage dive yang berulang-ulang. Setelah dirasa cukup mengambil gambar, hasrat untuk berkeringat yang kian tak terbendung ini akhirnya mengalahkan kehawatiran akan sakit pinggang yang belakangan mulai menjangkiti saya hahaha… Setelah tengok kanan dan kiri, kebetulan ada kawan saya seorang jurnalis juga yang sedang bebas tugas. Setelah melobi dan sedikit basa-basi, saya dengan kurang ajarnya menitipkan tas kamera untuk kemudian berbaur di kerumunan. Nampaknya lagu milik Meggy Z tidak berlaku bagi saya, atau mungkin harus diganti liriknya. Karena bagi saya “lebih baik sakit hati, daripada sakit pinggang”. Hanya dua lagu yang sanggupi untuk berjibaku dengan penonton lainnya. Yah, lumayanlah cukup berkeringat meski sakit di pinggang yang justru lebih terasa.

Total sekira 13 lagu mereka bawakan malam itu, termasuk Hollow Severer [“You got it!”] sebagai encore. Penantian lama para penggila sludge metalterbayar lunas. Bahkan diamini sama oleh salah satu penonton  yang sujud sukur di hadapan panggung. Malam minggu kali ini itu bukan seperti malam minggu biasanya, tapi jadi malam minggu yang paling bising yang pernah ada di Bandung. Dan jadi malam yang penuh kalimat ‘anjing, poll pisan’ yang terlontar dari para penonton saat berbondong-bondong pulang. Pun ini menjadi salah satu konser terbaik yang sempat saya tonton dan abadikan.

Jagger Meister rasa Akihabara…

Tak pernah sebelumnya terlintas dalam pikiran saya untuk menyaksikan idol grup yang belakangan cukup fenomenal dikalangan abege bahkan scenester Bandung dan Jakarta bernama JKT48 ini. Tidak mungkin! Sampai sampai saya pernah berujar di kasih tiket gratis atau jatah liputan pun saya pasti menolak! Tapi toh Tuhan berkata lain, dan akhirnya saya harus menelan ludah sendiri meski faktor keterpaksaan berperan lebih besar disana. Dan saya pun menyaksikan pertunjukan yang menggelikan dari idol group tersebut di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.

Memasuki akhir Desember tahun lalu dengan kondisi keuangan diambang kebangkrutan, emosi yang tidak stabil dengan ‘kebrengsekan’ yang hampir sepanjang tahun dialami kian meracuni pikiran saya bahwa tahun ini akan ditutup dengan kegalauan. Terlebih saya harus menyaksikan pertunjukan idol grup ini, lengkaplah sudah penderitaan ini.

Jadi begini awalnya (sedikit kronologi), ditengah kondisi keuangan yang kurang bersahabat saya memutuskan untuk bertandang ke Jakarta untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi dengan kantor yang belum terselesaikan. Lumayan lah buat tahun baruan, pikir saya. Tapi yang jadi masalahnya adalah saya sendiri tidak memiliki cukup uang untuk ongkos ke Jakarta. Sampai pada akhirnya datanglah tawaran yang menyenangkan sekaligus menggelikan dari teman-teman tongkrongan. Tawarannya adalah saya ‘nyupirin’ mereka untuk menonton konser 3rd Anniversary JKT48. Penawaran yang menggiurkan bukan? Selain memang tak ada pilihan lain ini kesempatan saya bisa berangkat ke Jakarta gratis tanpa keluar ongkos speser pun. Selain itu saya pikir toh tak ada salahnya saya hanya nge-drop mereka di senayan untuk kemudian saya tinggal ke daerah panglima polim sebentar, lalu nanti setelah mereka beres nonton konser saya jemput kembali di senayan. Sederhana bukan?

Tapi memang kenyataan tak selalu sesederhana yang dibayangkan. Saya tidak sadar berada di Jakarta hari sabtu, dan kantor saya libur. Itu petaka pertama, yang disusul petaka-petaka lainnya. Sesampainya di venue dengan harapan yang sedikit mengendur setelah tau tidak ada siapa pun di kantor, saya harus menerima kenyataan pahit lainnya kalau saudara saya destinasi alternatif lain yang akan saya kunjungi juga tidak ada di rumah. Pilihan terakhir adalah saya tinggal di mobil sampai konser beres sambil meratapi isi dompet yang nyata-nyata tidak akan terisi hari itu juga dan.

Baru dua langkah terhitung saat menuju mobil di parkiran, datanglah seorang sahabat si jurnalis bengal majalah dedek-dedek tetangga yang memaksa ditemani liputan konser menggelikan ini hahaha. Lagi-lagi tak ada pilihan lain akhirnya saya benar-benar menelan ludah sendiri, kalian boleh mentertawakan saya untuk hal itu. Berada di dunia antah berantah, itulah yang saya rasakan. Menjadi aisng diantara ribuan orang (mungkin) yang sedang bergumul dengan  libido dan fantasi seksual ala grup idol ini. Mungkin saya saja yang terlalu skeptis, tapi setelah beberapa lagu menonton dan memperhatikan kelakuan para penonton yang mayoritas laki-laki lintas usia dan suku bangsa ini saya makin muak dengan konser ini.

Belum lagi lirik-lirik yang cukup eksplisit dan tidak layak dicerna seperti “ciuman kidal” atau “virgin love” yang setelah saya amati terkesan mengajak atau secara tidak langsung ajakan untuk “memerawani” lawan jenis, shit! Skip, sisa konser lainnya tak perlu saya ceritakan karena saya lebih banyak menghabiskan waktu merokok di luar. Tapi petaka belum usai sampai disitu, karena teman-teman yang memberi tebengan menonton konser ini selama dua hari berturut-turut? Apaaahhh? Yauwoohh, tolong baim yauwooh…Apa saya harus menikmati kebodohan ini ‘lagi’ ? Sesampainya di kost-kostan harian yang kami sewa tiga kamar secara bersama-sama barulah kabar bahagia datang. Sebuah kalimat ajakan “Fan, besok lo ke Cadas Cult aja bareng gue..” begitu manis terasa di telinga. Tanpa pikir panjang saya mengamini ajakan tersebut. Dari pada saya harus kembali mengulangi kesalahan yang sama, telinga ini rasanya jauh lebih nyaman mendengung saat berada di sebelah sound system ribuan watt dengan musik metal.

Malam beranjak menjadi pagi, ditemani kopi dan lagu ‘Jakarta pagi ini’ serta cuaca yang mulai tidak ramah saya hanya bermalas-malalsan di kamar. Karena jadwal mengantar teman-teman menonton ‘lagi’ JKT48 adalah jam 12 siang, sedangkan Cadas Cult yang akan saya tonton satu jam setelahnya. Diselangi obrolan kecil tentang kegilaan teman-teman saya yang menghabiskan uang jutaan dalam waktu dua hari, saya dan teman jurnalis satunya hanya bisa cekikikan.

Cukup bicara JKT48 nya, setelah saya mengantar mereka ke senayan saya langsung bergegas menuju Bulungan Outdoor, venue tempat Cadas Cult berlangsung. Event yang di gagas oleh dua band metal kenamaan ibu kota ini mengklaim dirinya sebagai event paling ‘cult’ di tahun kemarin. Beberapa pengisi acaranya memang sudah tidak asing lagi bagi saya. Namun yang menarik ada beberapa band baru yang mencuri perhatian seperti Poison Nova unit nu-crusade black metal asal Cirebon yang dibawahi lawless record, serta SlutGuts band crust hardcore depok yang sangat ngebut dan ugal-ugalan besutan Argo veteran yang kembali turun gunung. Selain tentunya Seringai dan DeadSquad si empunya acara.

Sebenarnya ini adalah gig metal yang biasa saja, tapi menjadi luar biasa bagi  saya karena baru kali ini saya merasakan atmosfer skena metal ibu kota sampai beres. Biasanya hanya selewat-selewat. Penonton yang jauh lebih apresiatif di banding kota saya sendiri, pengisi acara yang cukup variatif sangat menghibur dan membuat saya lupa kalau saya sedang bangkrut. Meliput gig intim di Jakarta jarang saya lakukan karena biasanya hanya event-event besar yang saya rasakan itu pun kalau saya disuruh meliput. Tapi akhirnya event ini juga yang membuka mata saya kalau memang musikk adalah bahasa yang universal dalam dunia praktik bukan teori. Bukan hanya dapat pengalaman baru, tapi teman baru. Saya termasuk beruntung karena bisa masuk ke area back stage. Berbincang ringan dengan Arian13, belaga talent bareng anak-anak Revenge dan berbagi gelas Jagger Meister bersama Om Coky di akhir acara, meski saat kembali ke Senayan tetap saja ‘jus rusa’ tersebut berubah rasa menjadi sake ala Akihabara.

Ah, Tuhan terimakasih banyak atas kesempatan yang luar biasa selama satu tahun kemarin. Keberengsekan, rasa marah, benci, senang dan bahagia adalah nikmat kecil yang tak bisa terbayar oleh apa pun. Maafkan saya jika mungkin saya masih mengeluh, menggerutu, bahkan mendustakan nikmat Mu. Meski saya belum bisa se-ikhlas bang Jack, tapi saya tak pernah berhenti bersyukur atas kehidupan yang ‘indah’ begini adanya. Tak ada niatan sedikit pun untuk membual, tulisan ini hanya sebuah rangkuman ingatan yang coba saya syukuri dan tulis ulang. Sekali lagi jika ini dirasa tidak penting, abaikan saja.

Bandung, 26 Februari 2015

00.19 – Di Pojokan Cafe Gedung Tua, ditemani Danilla dengan Senja Diambang Pilu-nya

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s