Membedah Keresahan Milik Payung Teduh Dengan “Cocoklogi”

Musikalisasi puisi merupakan hal yang cukup aneh bagiku. Setidaknya beberapa tahun ke belakang. Sebelum aku menjalani profesi yang sekarang ini dan sebelum aku kenal beberapa penyair yang luar biasa di tempat aku biasa berkumpul dengan kawan-kawan. Jangankan membuat puisi mengapresisiasi karya sastra merupakan sesuatu yang langka untuk aku lakukan secara langsung.

Dulu aku hanya paham kalau puisi ya Chairil Anwar, itupun gara-gara sindrom film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Film yang begitu ‘hype’ pada masanya, dengan dua tokoh fiktif yang begitu ikonik dan menjadi ‘role model’ cara pacaran ala remaja saat itu, Rangga dan Cinta yang diperankan sangat baik oleh dua bintang film pendatang baru Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Film ini juga nampaknya memiliki dampak yang luar biasa besar bagi remaja di pertengahan 2000-an. Dan konon film  ini juga yang dianggap sebagai ‘tonggak’ kebangkitan perfilman Indonesia.

Bagaimana tidak, saat itu rata-rata remaja laki-laki seumuran ku mendadak keranjingan puisi dan berburu buku “Aku” milik Sjuman Dajaja di pasar buku loakan. Tujuannya? Sudah pasti agar terlihat ‘nyastra’ seperti sosok Rangga untuk dapat meluluhkan hati wanita satu sekolah. Naif memang, tapi setidaknya itu yang aku alami sendiri. Norak! Memang. Hehe

Namun, tiga atau empat tahun kebelakang persinggungan aku dengan dunia sastra mulai sedikit berkembang dan cukup serius. Bukan karena ingin menjadi Rangga, tapi karena tuntutan dan kesadaran profesi. Meskipun tidak se-dalam teman-teman yang lain. Sejauh ini bagiku secara pribadi bersinggungan dengan dunia sastra semata-mata untuk menambah pengetahuan, wawasan, diksi, dan melatih  kemampuan berpikir serta menulis. Dan itu cukup berhasil.

Tapi dalam keisengan yang aku buat kali ini bukan hal tersebut yang akan di bahas. Aku akan sedikit mengulas tentang musikalisasi puisi, menurut interpretasi pribadi. Bukan secara teori dan keilmuan, karena bukan bidangnya dan aku rasa aku belum cukup ilmu membahas sejauh itu. Sedikit cerita, aku mulai mengenal beberapa sosok penting dunia sastra di Bandung.

Di tempat aku sering berkumpul ini ada komunitasnya juga salah satunya adalah Majelis Sastra Bandung, yang didalamnnya banyak terdapat penyair yang karyanya sangat menarik dan bagus. Salah satunya yang sering aku baca adalah karya-karya  Kang Matdon. Belum lagi seniman lainnya khususnya musisi yang sering datang dan memang berada didalam lingkaran sastra Bandung seperti Kang Muktimukti dan Ferry Curtis. Karya musik balada yang mereka mainkan bagiku yang awam, merupakan musikalisasi puisi yang begitu menarik dan enak di dengarkan. Menambahkan pemaknaan yang dalam bagi puisinya sendiri.

Nampaknya membedah lagu yang berasal dari sebuah puisi, bukan sesuatu yang menarik bagi orang pada umumnya. Mungkin. Tapi aku pikir bisa jadi sesuatu yang menyenangkan apalagi lagu tersebut memiliki keterikatan khusus bagi si pendengar seperti yang aku lakukan sekarang.

Payung Teduh, adalah sebuah sebuah band yang baru terbentuk tahun 2007 silam. Band yang beranggotakan Is, Comi, Cito dan Ivan ini berasal dari Jakarta. Keempat personilnya sendiri merupakan mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Mereka juga merupakan pemusik di teater Pagupon. Band ini cukup unik, selain karena musik yang mereka mainkan di luar kebiasaan band lainnya saat ini. Materi musik yang mereka mainkan cukup beragam. Terkadang terdengar jazzy dengan sedikit ketukan bosas hingga balutan keroncong yang kental, cukup membuatku kesulitan mendefinisikan genre musik yang mereka mainkan. Tapi aku pikir tak terlalu penting, justru itulah yang membuat Payung Teduh. Mereka merilis album perdana mereka secera independen pada tahun 2010.

Selain musik tentunya kekutan karakter Payung Teduh bagiku adalah liriknya. Ya, tidak banyak band atau musisi Indonesia yang bisa membuat lirik dalam bahasa Indonesia yang benar, berkarakter, dan  ‘nyastra’ tetapi masih dapat dinikmati dengan nyaman. Sekalipun untuk orang cukup awam akan sastra sepertiku untuk ber-sing along. Dan mereka adalah salah satu band tersebut.

Buatku salah satu lagu mereka yang paling puitis adalah Resah. Entah kenapa lagu ini selalu sukses membuat merinding ketika aku mendengarnya, apalagi saat mereka bawakan secara live. Sebenarnya kata membedah yang aku jadikan judul agak sedikit berlebihan mungkin. Aku pikir terlalu jauh, toh yang aku pakai dalam pembahasan ini adalah sedikit teori “cocoklogi” ala website atau portal-portal berita partisan. Hehe Tapi tidak ada salahnya karena sama sekali tidak ada kesulitan ketika kita membahas sebuah karya yang sedari awal sudah mengena dalam pikiran.

Aku ingin berjalan bersamamu

Dalam hujan dan malam gelap

Tapi aku tak bisa melihat matamu

Ini adalah penggalan lirik pertama dari lagu Resah, Payung Teduh. Aku sengaja memenggalnya biar aku mudah menganalisa (sok-sokan). Kalimat pembuka yang sebenarnya aku pikir sangat sederhana. Entah jika menurut mereka yang paham linguistik. Bukan juga masalah kelogisan antar kalimat. Karena belum sampai ilmunya. Tapi yang terpenting bagiku dalam sebuah karya ada sesuatu yang lebih dalam dan kuat, mencakup keseluruhan, sehingga menjadi sebuah pemaknaan. Atau mungkin juga tidak, bahkan menyembunyikan sebuah makna tertentu bukan hanya sebatas karya.

Konon menurut apa yang aku baca (koreksi jika salah) dalam analisis semiotika milik Barthes, karya mengenal simbol untuk menjelaskan sesuatu di balik cerita secara konseptual. Atau lebih dikenal dengan second order semiotic system (gaya banget). Kebanyakan yang aku rasakan, atau mungkin teman-teman lain juga banyak berfokus pada analisis keberagaman dan kreativitas sudut pandang saja.

Lagi-lagi aku coba menganalisanya dengan “cocoklogi”. Seperti bait di atas, yang bagiku nampak tentang seseorang yang ingin berjalan bersama, dalam hujan dan gelap. Hujan dan Gelap adalah dua kata yang menggambarkan kondisi yang bukan terang dan jelas. Tentunya hanya akan dilakukan orang memiliki nyali lebih atau terdesak dalam berharap terhadap sesuatu. Jika penggalan lirik di atas ingin menceritakan sosok pujaan hati yang dikenalinya, mengapa harus ada kalimat dia tak dapat melihat matanya? Mata bagiku memiliki banyak tafsiran. Bisa diartikan tatapan, pandangan, perspektif, atau lainnya sesuai dengan karakter manusianya.

Bisa jadi kuncinya ada pada kata mata. Is (vokalis Payung Teduh), mencoba menggambarkan apa yang sebenarnya akan disampaikan atau dipendam. Perspektif adalah dunia manusia. Katakanlah ini tentang kekasih. Kekasih bersifat begitu umum, ia dapat menjadi hal yang tak bisa dijelaskan tapi begitu dekat tapi juga kadang tak terjangkau. Bentuknya bisa bermacam-macam bisa saja Tuhan, orang tua, suami, istri dan pacar tentunya. Bait yang menggambarkan keinginan berjalan dalam gelap dan hujan adalah hal sepele bagi mereka yang mau melakukannya demi kekasih. Meskipun sederhana, lagu ini cukup kompleks banyak bermain dengan simbol.

Aku ingin berdua denganmu

Di antara daun gugur

Aku ingin berdua denganmu

Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Masuk pada bait kedua ternyata lebih lebih miris lagi. Di antara daun gugur, tetapi tetap ingin bersama, meskipun nyatanya hanya dapat melihat resah si kekasih. Menarik, analogi daun gugur  kalau dilihat pada ruang-ruang simbol, multitafsir juga. Tapi bolehlah, aku artikan dengan harapan. Lagi-lagi menurut pengamatan ku. Kekasih yang sedikit ‘nekad’ terkadang rela harapannya berguguran untuk tetap bersama. Meskipun, hanya resah yang dapat dia lihat. Tapi disini bukan bagaimana resah itu terjadi. Resah disini aku pikir urusan si penunggu. Resah bisa jadi  sebagai penjabaran bahwa ada ruang-ruang  dalam diri manusia yang tak terjangkau oleh orang lain. Resah adalah ‘ketidakterjangkauan’. Si penunggu disini hanya melihat resah milik sang kekasih, sekaligus menunjukan si kekasih tersebut tak tergapai.

Aku menunggu dengan sabar

Di atas sini, melayang-layang

Tergoyang angin, menantikan tubuh itu

Perkara menunggu dan ditunggu adalah dua hal yang berbeda dalam ranah ‘cinta’. Realitas aku pikir. Menunggu memiliki dimensi waktu lebih lama dua kali lipat rasanya daripada yang ditunggu. Sederhananya, seperti menuggu angkutan umum. Yang menunggu biasanya meresa lebih gelisah pada lamanya waktu berputar. Sedangkan yang ditunggu akan merasa sudah maksimal. Mungkin sedikit ngawur perbandingannya. Namanya juga“cocoklogi”. Untuk ‘melayang-layang’ sendiri buatku nampak seperti penantian. Meskipun dalam penantian, aku pikir tak ada yang melayang-layang. Jadi? Sebentar aku pikirkan lagi.

Mungkin, melayang seperti layang-layang adalah simbol keprasahan (menurutku).

Melayang bagai layang-layang yang putus dari talinya dan hilang. Tapi melayang adalah kondisi antara tidak berpijak di tanah atau berada di langit seklaipun. Tengah-tengah. Dan aku pikir itulah mengapa ‘melayang’ bisa saja berakhir dalam kejatuhan yang begitu parah atau dibawa angin sampai pada tangan (tujuan) yang tepat. Sebab layang-layang bisa jadi simbol ketabahan dan kepasrahan, ia akan pasrah pada pengendalinya (baca:yang memegang benang). Kalau aku menyimpulkan, bait ini bercerita tentang penantian.

Tubuh bisa diartikan jawaban. Tempat di mana hal yang melayang-layang tak bertujuan menemukan ‘akhir’nya. Karena secara konseptual, memang istilah tubuh mengungkapkan media atau bentuk yang terlihat, dan barangkali pasti. Karena istilah lain dalam syair atau sastra, bagiku banyak mengandung unsur absurd yang tinggi dan luar biasa sulit kupahami.

Bait terakhir sama dengan bait yang pertama jadi cukuplah kukira tak perlu dibahas. Apa yang ku temukan dari keisengan ini? Aku pikir ini lagu cinta seperti kebanyakan namun, dikemas dalam syair yang puitis dan cerdas. Mereka berhasil membuat orang berpikir keras untuk memahaminya. Atau mungkin aku saja. Haha Buatku ada tiga poin utamanya. Yaitu, harapan, ketidakterjakauan, dan penantian. Maknanya aku rasa universal. Adapun sosok penunggu dan yang ditunggu adalah bonus. Seberapa banyak di antara kita yang mampu saling berinteraksi dengan bahasa hati terhadap kekasih? Bukan dengan bahasa logika. Lagi-lagi sok tahu!

Sederhana tapi cukup dalam makna lagunya. Lagu yang sedehana tapi memiliki makna yang dalam, dan agak sedikit sulit memahaminya, terkadang malah semakin mengundang orang untuk mengetahuinya lebih jauh. Sebetulnya tanpa dijabarkan maknanya pun, mereka yang tak peduli perihal semiotik akan langsung mengerti bahwa judul “resah” sudah mencakup arti yang tidak jauh berbeda dari ruang pemahaman para pendengarnya. Tentunya dalam perspektif yang beragam pula. Ya, sudah kubilang dari awal ini adalah sebuah keisengan belaka.

<photo id=”1″ />

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s