Sebuah Kata Maaf

Dalam Sebuah Percakapan Telepon

“Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku pikir ini kabar bahagia. Aku akan menikah awal Oktober ini,” ujarnya, mengawali pembicaraan.

Saat deadline adalah waktu paling menyebalkan bagiku, dan aku pikir bagi siapapun yang berprofesi sebagai kuli tinta. Telepon genggam seakan tak pernah berhenti bekerja, kecuali jika baterainya habis. Notifikasi pada layar utama selalu penuh dengan surel kantor, pesan singkat, whatsapp dan lainnya. Belum lagi speaker telepon genggam murah milik ku ini terus mengeluarkan bebunyian yang makin lama suaranya seperti orang yang sedang tercekik.

Aku sendiri sebenarnya sudah mulai maklum pada waktu-waktu seperti ini. Biasanya aku menghadapinya dengan santai meski sedikit menggerutu, sembari di temani playlist musik metal yang kuputar dengan volume maksimal dalam media player-ku. Dari sekian banyak notifikasi dan nomer telepon orang kantor yang masuk hari itu, ada satu nomer dan nama kontak yang familiar tapi sudah sangat lama tidak pernah menghubungi telepon genggam ini. Hitungan tahun sudah namanya tidak pernah masuk dalam daftar panggilan tak terjawab sekalipun. Dua kali nomer telepon itu menghubungi ku. Aku hanya bisa terdiam tak percaya tanpa ku angkat teleponnya. Baru ku angkat saat nomer itu menelepon untuk kali ketiga.

“Assalamualaikum, apa kabar? mudah-mudahan kamu masih ingat. Bagaimana kabar ibu, sehat ?” tanya dia.

“Waalaikumsalam, alhamdulillah baik. Apa mungkin aku melupakan mu? Baik, ibu dalam kondisi baik saat ini, doakan saja seterusnya,”  Jawab ku dengan lirih, serta badan yang gemetaran.

“Sebelumnya aku mohon maaf atas semua yang sudah kita lewati dulu, aku sangat menyesal. Aku tak tahu kata apalagi selain maaf yang harus aku ucapkan padamu. Tapi aku pikir ini kabar bahagia. Aku akan menikah awal Oktober ini. Jika kamu tidak keberatan aku ingin kamu hadir pada pernikahan ku,” jawabnya lagi, dengan tersedu.

“Tidak perlu menangis, apa yang harus di sesali? Insyaallah, doakan saja aku bisa datang. Pekerjaan ku sekarang ini terkadang tak mengenal waktu. Tapi akan aku usahakan.”

“Aku mohon, sempatkan datang. Aku akan sangat bahagia jika kamu mau datang. Tapi sebelumnya, aku punya satu permintaan lagi. Aku ingin meminta waktu kamu besok. Aku ingin bertemu, ada hal yang harus aku bicarakan dengan kamu. Aku tunggu di tempat biasa.” tambahnya lagi, dengan terbata-bata.

“Aku tidak bisa janji, besok akan aku hubungi kamu lagi”

“Tak apa, akan aku tunggu di tempat biasa. Sebelumnya terimakasih masih mau mengangkat telepon ku. Sampai bertemu besok. Mudah-mudahan,” ujarnya, menutup pembicaraan.

Mendengar suaranya kembali setelah sekian lama membuatku kaget bukan main. Jantung ini serasa berhenti untuk beberapa waktu. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Bukan perkara mudah juga mengumpulkan ingatan yang berserakan pada masa itu. Tapi ini adalah sebuah pengecualian. Aku masih bisa dengan jelas membayangkan sosoknya dengan baik. Raut wajahnya seperti saat dia menangis di telepon tadi, ataupun senyumannya yang selalu menyejukan hati. Namun dari kesemua itu, yang paling aku ingat adalah sebuah rasa benci yang begitu mendalam. Benci pada diriku sendiri, benci pada dirinya dan kenyataan. Sebuah ingatan yang sudah lama kubuang jauh-jauh, sampai pada akhirnya kembali membuat kepala ini seakan mau pecah saat menerima telepon darinya.

Apalagi ini? Sebuah kebetulan atau pengulangan lagi? Kenapa baru sekarang ada kata maaf itu? Semangat mengerjakan deadline ini mendadak hilang entah kemana. Mood yang bagus mulai hilang secara perlahan, semua berantakan hanya karena sebuah percakapan di telepon. Sebuah kata maaf terasa jauh lebih menyakitkan dibanding makian kasar dari editor yang biasa aku terima jika telat mengirimkan materi pekerjaan. Sambil sedikit merebahkan badan, aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan dengan terus berusaha membuang ingatan tersebut jauh-jauh.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s