Putih : Merayakan Manisnya Kematian Dengan Kehidupan

Credit Foto : www.efekrumahkaca.net
Credit Foto : http://www.efekrumahkaca.net

Efek Rumah Kaca sebagai entitas pop paling berpengaruh asal Jakarta, kembali melepas single terbaru yang berjudul ‘Putih’. Ini merupakan lagu terbaru kedua setelah sebelumnya ‘Biru’ mereka perdengarkan terlebih dahulu. Lagu ini merupakan gabungan dari dua lagu yang berjudul “Tiada” dan “Ada”, direkam sejak 2010 silam dan membutuhkan kurang lebih 5 tahun sebelum di sebar ke khalayak, seperti yang mereka tuliskan dalam siaran pers di website resmi mereka.

Kedua lagu tersebut memiliki durasi yang cukup panjang, di luar kebiasaan band yang kerap dijuluki trio pop minimalis ini. Usut punya usut kedua single ini rencananya memang menjadi bagian dari album penuh ketiga mereka, yang konon dirangkum dalam sebuah judul, Sinestesia*. Album yang masih ‘katanya’ akan berisikan 6 buah lagu tersebut, konon memiliki durasi terpendek 8 menit dan yang paling panjang adalah 14 menit.

Mereka merilisnya pada Rabu 23 September 2015, tepat enam hari setelah perayaan konser perdana mereka setelah kurang lebihnya 8 perjalanan musik mereka. ‘Putih’ dibagikan secara gratis guna berbagi kebahagian dengan teman-teman yang kebetulan berhalangan hadir pada konser kemarin. Mengingat pada konser tersebut ERK sudah membagikan lagu ‘Putih’ terlebih dahulu pada penonton yang hadir dan membawa flashdisk.

Belum habis keharuan ini saat menyelami ‘Sebelah Mata’ yang dengan sangat sengaja di jadikan lagu penutup konser kemarin, ERK kembali membuat saya tertohok. Saya masih ingat betul, bunyi confetti yang begitu mengganggu sekalipun tak mengurangi rasa khidmat saya dan kami (penonton lain) mungkin saat terlibat dalam koor masal yang begitu riuh dan haru. Saya juga masih ingat betul wajah-wajah yang berada di kanan dan kiri saya yang tampak menitikan air mata, saat Adrian bersenandung di bagian chorus lagu ciptaanya tersebut. Se-ingat saya semua lagu mereka bawakan, cukup? Tidak! Rasanya saya ingin mereka lebih lama berada di atas panggung.

Konser tersebut memang ; pecah se-pecah-pecahnya. Hampir semua lini masa membicarakan konser ini. Meski sebagian besar bernada sumbang pada penyelenggara konser, termasuk saya melalui sebuah artikel di tempat saya bekerja. Tapi, kalau saya boleh sesumbar, saya menasbihkan konser ini sebagai konser terbaik sepanjang 2015, dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Meski rasa haru dan kesal sempat membuncah, toh pada akhirnya saya menerimanya. Terlebih setelah band pemberani ini menyatakan permohonan maafnya yang menurut saya seharusnya yang pihak penyelenggara yang melakukannya terlebih dahulu, melalui siaran pers, yang di sebar melalui website resmi mereka yang seketika viral dalam hitungan menit.

 

Artwork credit : Bebewahyu / www.efekrumahkaca.net
Artwork credit : Bebewahyu / http://www.efekrumahkaca.net

 

PUTIH

‘Tiada’ (untuk Adi Amir Zainun)
Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga

Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

‘Ada’ (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)

Lalu pecah tangis bayi Seperti kata Wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api

Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran

Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

Merayakan manisnya kematian dengan kehidupan. (Mengingat 9 Tahun kepergian Ayahanda tercinta, Arifin Muzaffir Nasution.)

Ayah, dan saya ketika masih di Taman Kanak-kanak

 “Karena hidup tak harus selalu rumit. Begitu pula kematian tak selamanya menakutkan. Selama harapan dan keyakinan masih bermekaran, sudah saatnya kita rayakan. Tak perlu bersedu sedan, karena bersyukur adalah keharusan.”

Ini adalah sebuah ke-kurang-ajar-an lainnya yang saya lakukan. Menginterpretasi atau mengulas sebuah lagu memerlukan pemahaman lebih, terlebih band yang di ulas sekelas ERK. Siapa yang meragukan keahlian mereka dalam mengolah sebuah lirik penuh makna? Siapa pula yang akan mencela kehebatan Cholil dan kawan-kawan saat memilih diksi untuk kemudian menyusunnya dalam sebuah struktur lagu utuh yang megah dan kaya secara bahasa. Setidaknya itu berlaku bagi saya yang awam, entah bagi kalian yang mungkin jauh lebih paham atau mungkin berprofesi sebagai pemerhati dan ahli bahasa. Saya hanya bercerita semata, membagi asa atas apa yang di rasa.

Sebelum mengunduh lagu ‘Putih’ ini, saya terlebih dahulu membaca liriknya yang sengaja mereka cantumkan dalam siaran persnya. Tak perlu mendengarkan musiknya dulu, membaca liriknya pun saya sudah tertohok. Merinding kagum dan merenung, itulah perasaan saya saat pertama kali membaca liriknya. Seketika saya pun berujar dalam hati, “ini lagu udah pasti bagus!”. Proses pembuatan lagu yang mencapai 5 tahun, sangat sebanding dengan hasilnya. Bisa jadi, sementara ini, lagu ‘Putih’ adalah lagu paling indah yang pernah ERK ciptakan. Menurut saya.

Seperti yang sudah mereka jelaskan ‘Putih’ merupakan gabungan dari dua lagu berjudul ‘Tiada’ dan ‘Ada’. Lagu ini berbicara tentang keluarga, dengan sudut pandang yang berlawanan satu sama lain. Yang satu bicara kematian, satunya lagi tentang kehidupan. Meski lirih terdengar, namun begitu manis terasa. Tanpa harus mendengar dan membaca lirik ‘Putih’ secara berulang, saya cukup merasakan kedekatan emosional dengan lagu ini. Entah kenapa, saya langsung teringat almarhum Ayah yang meninggalkan kami (saya dan ibu) 2006 silam.

Bait pertama lagu tersebut membawa ingatan saya pada salah satu hari paling menyedihkan dalam hidup saya. Hari dimana saya merasakan kehilangan yang mendalam atas seseorang yang paling saya sayang dan hormati dalam hidup ini. Penggalan bait tersebut jugalah yang mengingatkan saya pada hari pemakaman ayah. Beliau meninggalkan keluarga kecilnya pada Jumat, 14 Februari 2006 tengah malam, 5 menit  menuju pergantian hari. Meninggalkan kami delam keniscayaan dan tak pernah kembali.

Namun pada akhirnya kami percaya, itu hanya sementara, karena suatu saat kami pun akan menyusulnya untuk bertemu kembali. Merayakan kematian dengan manis, dalam kekekalan, setelah memahami kehidupan terlebih dahulu tentunya.

Saya saat sedang menurunkan jenazah Ayah, saat prosesi pemakaman.
Saya saat sedang menurunkan jenazah Ayah, saat prosesi pemakaman.

Lain cerita jika lagu ini sudah tercipta, dan saya sudah mendengranya pada 2006 silam. Situasi dalam mobil ambulan, mungkin tak se-getir yang saya alami. Waktu itu, saya  hanya bisa menatap nanar sosok Ayah yang sudah berada dalam keranda, sepanjang perjalanan dari rumah duka menuju pemakaman. Saya hanya bisa menahan tangis, yang akhirnya pecah seketika setelah saya selesai menurunkan jenazahnya ke dalam liang berukuran 2m x 1m tersebut.

Lagi-lagi, mungkin jika saya sudah mendengarkan lagu ini, derai air mata yang begitu deras itu akan berubah menjadi sebuah senyum simpul. Mengembang, seiring doa yang terpanjat, dan rasa syukur yang lalai saya jalankan meski sebuah keharusan. Karena pada akhirnya kematian bukan untuk disesali, tapi di rayakan, karena membukakan jalan menuju Tuhan, bagi  Ayah yang akan melengkapi proses transedental paling indah dalam perjalanan hidupnya.

“Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian,” – Ya, karena memang Ayah tidak pernah benar-benar ‘mati’. Semangatnya selalu ada dalam setiap langkah saya di setiap harinya. Keteguhan hatinya selalu ada, tiap kali saya mengambil sebuah keputusan. Rasa marahnya selalu ada saat saya melihat Ibu ada yang menyakiti. Kejujurannya selalu ada dalam setiap usaha anaknya yang sedang mecari tujuan hidupnya dengan membenahi setiap kerumitan yang dibuatnya, agar se-segera mungkin memahami kehidupan, hingga tiba saatnya merayakan manisnya kematian. Lagi-lagi, dengan bersyukur sebagai sebuah keharusan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s