Review-Durhaka Album Samasthamarta

Zoo – Samasthamarta : Merekontruksi Ulang Peradaban

“Untuk menjadi abadi bukanlah menjadi tinggi, tapi menjadi sejajar dengan tanah,” – Zoo.

Jika bukan anjing! mungkin brengsek adalah ungkapan paling representatif bagi rasa kagum, sekaligus nyinyir untuk kalian, dan khususnya saya setelah mendengarkan album Zoo yang bertajuk Samasthamarta pertama kalinya. Album ini dirilis bertepatan dengan Netlabel Day dan MP3 Day, pada 14 Juli 2015 oleh Yes No Wave Music, yang merupakan sebuah Netlabel asal Yogyakarta, sebagai sebuah peringatan 20 tahun format audio.mp3 kali pertama dibuat.

Gampangnya, mereka adalah sebuah unit math-rock/experimental-hardcore asal Yogyakarta yang cukup mencuri perhatian saya pribadi khususnya, atau khalayak dengan segudang ‘keganjilan’ dan ‘kegilaan’ yang mereka ciptakan di luar nalar siapa pun. Tepatnya saya kesulitan, dan memang tidak mengerti, serta minim referensi untuk mengklasifikasikan mereka berada di belahan genre atau sub-genre manapun. Dasarnya adalah telinga dan google, saya kemudian melabeli mereka dengan seenak pantat sebagai band experimental berdasarkan apa yang saya dengar dan baca.Underrated! versi saya.

Saya tidak pernah benar-benar mengikuti perjalanan mereka sejak awal, atau saat Kebun Binatang yang merupakan EP mereka dirilis 2007  silam. Samasthamarta sendiri belum lebih dari dua minggu berada di hardisk saya, meski sebenarnya saya sudah mendengarkan beberapa lagunya melalui soundcloud. Saya memahami mereka secara lambat, tertinggal jauh, dan terbalik. Jika Samasthamarta adalah sebuah aplikasi dari cetak biru yang akan segera di eksekusi, saya baru mundur kebelakang saat mereka masih (mungkin) mengkonsumsi kopi murahan, bertukar pikiran, menentukan konsep, hingga akhirnya menghasilkan sebuah rekontruksi perdaban baru melalui dua buah pondasi berupa Prasasti dan Trilogi Peradaban yang sudah lebih dulu saya unduh. Kedua album tersebut baru saya pahami setelah menyelami Samasthamarta dua minggu belakangan.

Label sebagai sebuah band tribal, sudah kadung melekat pada Rully Sabara dan kawan-kawan. Meski di era Prasasti dan Trilogi Peradaban saya menemukan sentuhan kekacauan yang begitu megah, dan perlahan tersetruktur hasil reduksi dari Mr. Bungle, Boredoms, bahkan Charles Bronson yang cukup kentara, itu pun berdasarkan ke-sok-tahu-an saya. Untuk menghasilkan kekacauan massive ini Rully Sabara (vokal/jimbe/synth) tidak sendiri, ia dibantu oleh Dimas Budhi Satya (bedhug/drum), Bhakti Prasetyo (bas/ukulele/mandolin), Ramberto Agozalie (drum).

Seperti sudah saya bilang, saya menikmati mereka terbalik, dari Samasthamarta baru mundur ke Prasasti, Trilogi Peradaban, serta Kebun Binatang. Jika di luar sana banyak yang kecewa mendengarkan rilisan terbaru mereka, dengan alasan kurang buas, justru saya sebaliknya. Saya begitu menikmati trek demi trek yang mengalun, menyihir mistis, dan sesekali kekacauan luar biasa sebagai ciri khas mereka di beberapa bagian. Meski tak se-brutal album-album sebelumnya. Menikmati mereka bagai asupan nutrisi, mengenyangkan layaknya buku pelajaran, mencerahkan seperti rangkaian trivia, dan minimal ; mencerdaskan seperti Wikipedia.

Tengok saja betapa mistisnya Giza, sebuah piramida Mesir kuno yang mereka jadikan gerbang pembuka untuk lagu-lagu lainnya. Meski banyak yang bilang tak se-dominan Kedo-kedo atau Manekin Bermesin, lagu bernas yang tak bisa dipahami dengan sekali mendengar oleh orang minim wawasan macam saya ini, membawa pendengarnya untuk memahami lebih jauh perihal horizon yang bukan hanya perkara tempat terbit-tenggelamnya Matahari, namun mengahdirkan pemahaman lain atas sebuah siklus hidup. Vokal Rully saat melafalkan “Ikhet Khufu” (atau Akhet Khufu menurut hasil googling) dengan lambat yang kemudian menjadi cepat kembali bagai mantra dalam sebuah ritus. “Akhet Khufu” sendiri merupakan bahasa mesir kuno, yang merupakan sebutan untuk Piramida Giza.

Album ini memang bagai buku sejarah, jika bukan sebuah Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL).  Kali ini mereka menyoroti tema arsitektur dari pelbagai tempat di penjuru dunia melalui Samasthamarta. Dari mulai piramida Giza di atas, kemudian  Pagoda Leifeng di Hang Zhou, Gapura Matahari di Bolivia, Labirin Daedalus di Creta , Kota El Dorado, Jembatan Rama yang konon menjadi penghubung India dan Sri Lanka , Agora di Athena, hingga Bahtera Nuh, Borobudur dan terakhir kota ghaib Uwentira di Sulawesi. Prasasti tua hingga kota-kota yang misterius, bagi mereka adalah fragmen-fragmen moral, nilai, yang kemudian membentuk praksis budaya di sekitarnya.

Lagu-lagu dalam Samasthamarta tidak seperti epos Mahabarata, justru Zoo menurut saya sedang membuka perjalanan mereka menuju perhentian berikutnya, dan tujuan akhir yang jauh lebih besar dari itu. Dengan konsep yang tertata rapi, perlahan penggambaran ke-tribal-an mereka berubah dari sebuah rencana menuju eksekusi. Jika kalian telah mengunduh Samasthamarta, kalian bisa temukan berkas yang berisikan paparan detail mengenai apa yang sebenarnya mereka kerjakan (silahkan unduh dan baca sendiri, terlalu sulit dan panjang untuk di jelaskan). Mereka mempecundangi apa yang di sebut dengan ‘pakem’, jauh dari itu, mereka bukan  sekedar entitas musik belaka. Entah mereka yang kepalang pintar, atau saya yang terlalu minim wawasan. Bagi saya, mereka adalah sebuah pergerakan kolektif  yang mencoba merekontruksi ulang peradaban baru, atau lebih jauhnya menciptakan kebudayaan baru. Entah itu fiktif atau tidak, yang jelas mereka berhasil menyentil pola-pola peradaban (nyata) dengan cara mereka yang sebenarnya sudah mulai disisipi sejak Trilogi Peradaban dan Prasasti, salah satunya dengan aksara baru yang mereka ciptakan ; Zugrafi.

Mengunduh Samasthamarta sama halnya mengunduh tesis anak arsitektur, yang ternyata jauh lebih mencintai sejarah dan antropologi. Apa yang mereka sertakan di dalamnya membuat kerumitan dan kejeniusan Neil Peart bersama Rush seakan lelucon cemen. Dalam booklet-nya, tahapan kota fiktif rekaan Zoo mereka paparkan dengan gamblang , lengkap dengan sketsa cetak biru lanskapnya. Bukan gagah-gagahan, seperti yang tertulis di halaman yesnowave.com, Rully sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengerjaan cover ini, memang berkonsultasi dengan seorang konsultan arsitektur dan di garap serius di sebuah studio arsitek, di Yogyakarta.

Samasthamarta sendiri terdiri dari dua buah kata yaitu Samastha ; Sejajar dengan tanah, dan Amarta ; Kekal. Dan menurut mereka jika di rangkai menjadi sebuah kata memiliki arti ; “Untuk menjadi abadi bukanlah menjadi tinggi, tapi menjadi sejajar dengan tanah.”

Proyek ini akan berjangka 10 tahun lamanya. Sebuah instalasi berupa maket rencananya akan dibuat dan didirikan. Mereka ingin menggambarkan kehancuran kota fiksi dalam booklet tersebut. Ambisius! Se-ambisius gimmick mereka saat membungkus album Prasasti dalam batu granit seberat 1,7 Kg. Rencana yang berdurasi 10 tahun ini juga merupakan penyempurnaan dari berbagai proyek lainnya macam, aksara Zugrafi yang masuk pada fase ke dua, dan bahasa oral Zufrasi. Konon, kegilaan jangka panjang tersebut juga akan mencakup 5 buah album hingga 2025 mendatang. Temanya pun berbeda, dari mulai sains, ideologi, agama, perang, iklim, penjajahan hingga kebudayaan. Tidak percaya? Silahkan unduh, dan googling untuk informasi lainnya.

Kembali ke album mereka, lagu kedua berjudul Uventira ini tak kalah unik di banding dengan lagu lainnya. Judul lagu ini diambil dari nama sebuah kota di Sulawesi Tengah, Wentira. Seperti lagu Zoo lainnya, kekuatan mereka adalah kepiawaian Rully dalam berolah vokal. Senandung, geraman dan lolongan khas yang terkadang bagi saya terdengar seperti seorang dukun yang merapal mantra ini adalah sebuah penegas yang tidak bisa dipisahkan. Lagu ini cukup terdengar melankolis sekaligus magis. Dengan balutan suara bas dan perkusi yang cukup dominan, cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri. Syair indah gubahan Rully tak kalah epik, pasalnya setelah saya mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya di kota legenda bernama Wentira ini, penggalan syair ‘Ada apa di balik jembatan rapuh, berlumut, dan lusuh?’ ini selalu sukses menimbulkan teror tiap kali mendengarkannya. Setelah googling, Wentira sendiri merupakan kota yang di percaya berada di alam lain. Gambarannya, kota tersebut berwarna keemasan, berada di balik sebuah kebun kopi di kawasan trans Sulawesi, antara Sulawesi Selatan danTenggara. Jembatan di jalur trans Sulawesi tersebut juga, di percaya sebgai pintu masuk menuju kota tersebut.

Setelahnya Uventira ada El Dorado, yang lagi–lagi menyajikan sebuah mitologi akan arsitektur si kota emas yang hilang, di belahan Kolombia sana. Petikan bas serta dentingan piano yang mangalun pelan dan di barengi suara berat Rully, seakan menjadi sebuah pengantar menuju sebuah kekacauan. Seperti sedang rehat saat menaiki ratusan anak tangga, di taman hutan raya tanpa bekal air minum dalam tas, dan kemudian dipaksa berlari karena di kejar anjing. Mungkin, analogi cemen itu yang bisa saya reka untuk menggambarkan lagu ini. Apalagi saat pengulangan syair ‘manusia mencari’ dan ‘ambisi’ yang begitu agresif, cepat namun tetap lugas terdengar. Brutal!

Berikutnya, secara berurutan hadir Leifeng, Gapura Matahari, Labirin Daidalos, Bahtera Nuh, Rama Setu, Agora, dan Bara Beduhur. Jika kalian ingin menikmati karya mereka, dibutuhkan referensi yang cukup agar tidak jumud dan sakit kepala sebelah. Bagaimana membaca Daidalos yang membuat labirin untuk mengurung Minotaur (manusia setengah banteng) dalam mitologi Yunani. Atau mengingat kisah Nabi Nuh beserta Bahtera-nya, membayangkan pasukan kera yang dipimpin Hanuman saat menyeberang melintasi jembatan Rama menuju Alengka, yang konon terletak di antara India dan Sri Lanka. Lebih jauh lagi berimajinasi dengan Rama, Shinta serta Rahwana dalam Rama Setu, atau mempertanyakan kembali, relief Bara Beduhur yang lebih dikenal sebagai Borobudur.

Sungguh album yang luas. Bergizi, kaya akan referensi. Lirik-lirik yang mereka (terutama Rully ; pembuat semua lirik Zoo) buat cukup untuk memperlihatkan keseriusan, kejeniusan, atau bahkan kegilaan mereka tanpa terkesan dipaksakan. Meski keliararan mereka berkurang dalam Samasthamarta ini, Zoo menyimpan energi lebih mereka untuk mega-proyek jangka panjang  selanjutnya.

Dalam folder unduhan Samasthamarta terdapat berkas dengang format .pdf yang memuat visi-misi Zoo hingga tahun 2025, sebagian sudah saya ceritakan di atas. Pendeknya, saya akan terus menunggu apalagi yang akan mereka hadirkan, dan mudah-mudahan mereka tidak kehabisan energi untuk melakukannya. Jauhnya lagi, semoga saya masih hidup untuk bisa menikmati karya mereka.

Walaupun banyak penggemar dan review  bernada kecewa, saya sendiri malah baru menjadi penggemar terbaru mereka. Bagi saya album ini adalah sebuah pencerahan yang luar biasa, dan pencapaian di luar ekspektasi banyak orang untuk sebuah kolektif ‘budaya’ yang dilabeli predikat band. Dalam review suka-suka dan cenderung durhaka ini, kiranya tak perlu lagi saya memberi nilai dengan skala berapa pun, toh ini album yang memuaskan bagi saya. Jika nantinya saya membuat daftar rilisan terbaik 2015 versi saya, tentunya Samasthamarta ini masuk di dalamnya. Saat ini juga saya sedang menunggu  akan seperti apa bentuk rilisan fisik album ini. Setelah kotak kayu dan batu granit, apalagi? Salah satu yang menganjal saya hingga saat ini adalah, saya belum berkesempatan untuk mewawancarai mereka, semoga kesempatan itu segera hadir.

*) Semua gambar di ambil dari berkas unduhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s