[Review] Barasuara – Taifun : Menyalak Galak Dengan Suara

Dok.Barasuara / https://barasuara.wordpress.com/
Dok.Barasuara / https://barasuara.wordpress.com/

Lembaran almanak murahan yang tergantung pada dinding kamar sudah menunjukan bulan November. Artinya, penghujung tahun segera tiba. Waktu-waktu dimana semua orang berkejaran dengan ‘garis mati’. Berusaha sedemikian rupa dengan sekuat tenaga, memenuhi janji-janji yang terucap, dan sebenarnya tidak-penting-penting amat ketika pergantian taun kemarin (resolusi).

Melihat orang lain sibuk membuat so-called resolusi, saya juga mungkin akan sedikit terbawa arus. Misal, saya sedang berencana membuat kaleidoskop berisikan rilisan album favorit saya sepanjang 2015. Ditambah dengan beberapa daftar pendek mengenai penyesalan-penyesalan yang saya alami sepanjang tahun ini. Kalau pun kaleidoskop mengenai daftar penyesalan tersebut jadi, maka melewatkan konser peluncuran album Barasuara dan kolaborasi mereka bersama Efek Rumah Kaca adalah ; hal utama yang akan saya tulis. Belum habis rasanya kesal ini.

Namun, saat ini saya mengobati kekesalan tersebut dengan menikmati album mereka. Band math-rock/alternative paling menjajikan yang gaungnya sedang sekencang badai tropis Taifun (yang juga menjadi nama debut album mereka) ini begitu mengusik bagi saya. Lirik dengan tema bertiras, lugas, cerdas serta tersusun rapih dalam bahasa Indonesia yang baik, adalah salah satu keperkasaan mereka yang tak bisa terbantahkan. Tidak ketinggalan, suguhan aneka ragam bunyi yang bersilangan ganjil, namun tetap indah dan nyaman di telinga. Mereka adalah kebanalan yang ‘pop’ di tengah brengseknya istilah arus utama-tepian.

Penampilan Barasuara di Festival Arsitektur, Univeritas Parahyangan.Pertemuan saya dengan Barasuara berawal dari sebuah artikel di majalah tempat saya bekerja sebelumnya. Saya lupa tepatnya,  tidak terlalu menarik saat saya membacanya, hanya namanya yang menggunakan bahasa Indonesia yang langsung tertanam di memori kolektif saya. Itu semua karena saya belum pernah mendengarkan mereka. Saat itu, saya hanya tau Iga Massardi (vokal),  yang  juga gitaris dari Tika and The Dissidents, mantan personil Soulvibe dan The Trees and The Wild. Kemudian Gerald Situmorang,  yang beberapa kali saya lihat bermain dengan musisi jazz sperti Indra Lesmana dan Tohpati. Nama lainnya tak  sedikit pun saya kenal.  Ah, jurnalis macam apa saya ini (?!) Dan saya pun melewatkan mereka seiring dengan lembaran halaman majalah lainnya yang saya buka.

Beberapa waktu berselang, Barasuara jadi topik hangat di beberapa tongkrongan kekinian dan milis yang saya ikuti. Mereka membicarakan penampilan live mereka di sebuah kanal youtube bernama, Sound From The Corner. Sebuah kanal yang sebenarnya sudah saya subscribe. Lagi-lagi saya terlambat tau, dan mengutuk diri saya. Apa fungsi saya men-subscribe, kalau toh saya tau dari obrolan di tongkrongan. Akhirnya, demi sebuah gengsi dan harga diri karena tidak ingin ketinggalan topik, saya mencari tau sendiri tentang mereka, terima kasih google atas segala informasinya. Dan terima kasih pula Sound From The Corner telah menjadi medium perkenalan saya lebih lanjut dengan Barasuara. Meski belakangan, baru saya tau, video penampilan mereka di Tokove-lah yang merupakan kali pertama mereka manggung.

Sementara, mereka sudah terbentuk sejak 2011 dan mulai intens membuat materi di tahun berikutnnya, itu pun menurut berbagai sumber yang saya kumpulkan. Band yang di gawangi Iga Massardi (vokal/gitar), Marco Steffiano (drum), Gerald Situmorang (bas), TJ Kusuma (gitar), kemudian dua perempuan cantik yang memberi warna tersendiri bagi mereka Asteriska si pemilik album Distance dan Puti Citara pada vokal latar.

Mereka, (selain Iga dan Gerald) yang tergabung dalam Barasuara ini bukan orang sembarangan, bukan pula orang baru di skena. Maafkan, ketidaktahuan saya ini. Sebut saja Marco Steffiano, drummer enerjik ini merupakan session player dari penyanyi cantik bersuara merdu, Raisa. Itu pula mungkin salah satu faktor Raisa dan Boim (manajer Raisa) menjadi produser bagi album Barasuara. Ada juga TJ Kusuma yang juga tergabung dalam unit rock-elektronik LCD Trip.

Barasuara-blogBarasuara baru saja merilis debut album mereka yang berjudul Taifun pada 22 Oktober 2015 lalu di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan. Album ini berada dalam naungan Juni Suara Kreasi, sebuah label yang juga mengurusi album salah satu solois wanita terbaik Indonesia, Raisa. Menyelami album mereka sama halnya dengan bermeditasi. Butuh konsentrasi dan ketenangan saat meresapi tiap larik dan frasa pada tiap lagunya. Haram hukumnya membandingkan lagu mereka dengan materi pop murahan, dengan lirik cinta-cintaan yang norak. Dari mulai keteguhan untuk berbahasa ibu, sampai dengan kutipan ayat dari Alkitab ada di dalamnya. Pejal, berisi.

Coba dengar Nyala Suara, ketukan ganjil dengan riff-catchy mendekati rock-berhitung ala band Jepang sana yang penuh trik, cukup menggambarkan betapa luar biasanya asupan yang mereka lahap. Meski dengan tempo yang tak terlalu cepat, potongan syair “kala merdeka ada suara, riak melebur, peluh membaur” adalah pemantik semangat sebagai trek pembuka. Kelembutan suara Asteriska dan Putri Citara di bagian tengah lagu menambah kemegahan serta sensualitas lagu ini.

Siapa di antara kita yang tidak pernah merindu dalam sendu, jika bukan ‘galau’ dalam fase hidupnya? Jika menyendiri-kesendirian adalah sebuah keniscayaan, maka Sendu Melagu adalah soundtrack paling tepat untuk di putar berulang dalam playlist saat-saat tersebut. Tanpa sadar menggumamkan “waktu yang berlalu, ingatmu kau merayu” saat menunggu hujan reda bersama kepulan nikotin, untuk kemudian mengulang ingatan akan mantan adalah sebuah pembenaran, tanpa harus bersedu sedan. Meski saya yakin Iga sendiri tak memaknai lagu ini se-cemen saya.

Barasuara-blog2Trek berikutnya juga adalah salah satu yang paling mencuri perhatian. Selain karena lagu ini adalah debut single mereka, Bahas Bahasa, adalah lagu komplit yang kaya akan bebunyian. Mungkin banyak alat musik tambahan yang mereka sertakan dengan sedikit nuansa oriental, tapi saya enggan menebak-nebak alat apa saja, karena menikmatinya saja sudah menyenangkan. Video klip lagu ini juga tak boleh di lewatkan, sederhana tapi begitu menarik perhatian. Mungkin bagi sebagian orang, video ini adalah video lirik biasa, namun bagi saya lirik-lirik yang mereka tuliskan dalam beberapa movable book, atau beberapa pop-up yang di sodorkan dengan silih berganti sesuai dengan berjalannya lagu, adalah sebuah karya seni yang eksentrik. Lagu ini juga adalah pointer bagi keteguhan mereka dalam penggunaan lirik bahasa Indonesia yang baik. Tabik!

Menjajaki Hagia adalah proses memahami sisi religiusitas Barasuara. Lagi-lagi modal googling, lagu yang menurut beberapa sumber, yang setelah saya cek, bagian reffrain-nya memang mengutip salah satu ayat dalam Alkitab, tepatnya Matius 6:12 ini cukup untuk membuat saya bergetar saat mendengarkannya. Meski, aransemen lagu ini sedikit terdengar seperti american-rock tipikal, dan Iga hanya menyanyikan lirik singkat tersebut secara berulang. Kelugasan lirik dan tema yang mereka pilih untuk lagu ini berhasil menutupinya. Bagi saya, meski mereka belum tentu setuju dengan sebutan lagu ‘religi’, Haiga adalah salah satu lagu dengan kadar  religiusitas yang sangat menyentuh, tanpa harus terlihat alim atau dipaksakan seperti lagu-lagu lainnya yang mendadak ramai tiap kali ramadhan datang. Lagu yang cukup personal saya pikir. Dan mulai saat ini, saya menabalkan Iga Massardi sebagai salah satu penulis lagu berbahasa Indonesia terbaik dalam daftar saya.

Api dan Lentera adalah salah satu lagu dengan intro paling juara! Menghentak, menyalak, dan galak. Masih dalam nuansa math-rock yang kentara, serangkaian beat enerjik dan menyegarkan mereka sajikan dengan apik. Lagu ini adalah hasil fusion paling mutakhir Gerald Situmorang – Marco Steffiano, serta Iga dan TJ Kusuma pada level tertinggi di antara lagu lainnya. ‘Kelas!’ jika merujuk pada istilah kekinian, dan tanpa mengecilkan kemegahan materi lain dari album ini tentunya. Lagu ini adalah salah satu dari sekian banyak alasan, kenapa kalian harus mendengarkan album mereka. Oia, saya lebih menyukai karakter suara gitar lagu ini pada saat menyaksikan penampilan mereka secara langsung.

Masuk pada trek keenam album Taifun ini, Barasuara menghadirkan suasana yang cukup berbeda dari lagu lainnya.  Menunggang Badai menjadi salah satu pembeda yang cukup signifikan. Meski di bagian awal, terdengar seperti Inhaler milik Foals, hadirnya saksofon-trompet, sepotong bunyi Hammond organ yang identik (mungkin), ditambah part solo menggunakan synthesizer, beat drum dengan bassline yang sedikit R&B banyak funk-nya, mengingatkan saya pada album Power Of Soul milik Idris Muhammad. Menyanyikan bait “dalam peraduan dendam mu melagu” dengan keras, dan sedikit bergoyang saat melantai jadi salah satu cara terbaik menikmati lagu ini.

Jika Api dan Lentera adalah pencapaian tertinggi dalam permainan musik Barasuara, maka Tarintih adalah klimaks dari album ini. Emosional dan sentimentil. Pengakuan dosa seorang anak lelaki pada ibunya tak pernah terdengar se-lugas ini, setidaknya bagi saya. Jika boleh berandai-andai, album ini akan terasa lebih ‘pecah’ lagi ketika Tarintih yang enerjik dan ‘menaik’ ini menjadi trek penutup. Mengingat, Mengunci Ingatan yang ‘bernuansa’ – Toe pada beberapa bagian awalnya, mengajak pendengar untuk pendinginan. Begitu pun Taifun yang begitu indah mengalun, melandai dengan gemulai bersama iringan tabla. Karena Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu” bagai sebuah isyarat untuk kembali memulai sebuah petualangan.

Tapi sudahlah, itu hanya persepsi pribadi saya yang pastinya sedikit, bahkan jauh berbeda dengan kalian. Jika ada yang setuju mungkin kita memang berjodoh. Jika tidak, silahkan menjauh hehehe. Tak ada keharusan untuk mengamininya. Toh, secara keseluruhan album ini adalah satu rilisan terbaik di antara rilisan terbaik lainnya pada 2015 ini.

Berikut adalah tracklist lengkap album Taifun:

  1. Nyala Suara
  2. Sendu Melagu
  3. Bahas Bahasa
  4. Hagia
  5. Api dan Lentera
  6. Menunggang Badai
  7. Tarintih
  8. Mengunci Ingatan
  9. Taifun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s