Tulus – Ruang Sendiri

Tulus, Kampoeng Jazz - Irfan Nasution
Tulus, Kampoeng Jazz – Irfan Nasution

Edisi rindu menulis,

Saya pribadi termasuk orang yang jarang mengikuti solois pria Indonesia sampai beberapa album, langka. Namun ada satu nama dari skeian banyak lainnya yang cukup menyita perhatian saya. Ya, Tulus. Ketiga albumnya saya ikuti. Sejak kali pertama kehadirannya merajai frekuensi radio dengan Sewindu sampai dengan Sepatu yang sukses mengukuhkan ia menjadi rookie of the year di sebuah majalah musik ternama, dan serentetan penghargaan yang ia dapatkan setelahnya.

Saya bukan pengamat musik, tidak juga sok-anti musik arus utama dan tidak pula mendewakan musik-musik arus tepian. Tapi memang, sedikit banyak telinga saya agaknya sulit berdamai dengan musik ‘populis’dengan tema remeh-temeh penderitaan cinta kebanyakan. Namun, kehadiran pria bertubuh besar ini membuka wacana baru dan referensi musik yang saya dengar. Belum lama ini Tulus merilis single terbaru kedua miliknya berjudul Ruang Sendiri. Setelah sebelumnya mem-bridging Teman Tulus (sebutan para penggemarnya) dengan Pamit terlebih dahulu.

Kehadiran Pamit sendiri cukup mengejutkan bagi saya. Pertama, suasana lagu tersebut yang agaknya cukup ‘gelap’ bagi Tulus, dalam sudut pandang dan pengalaman musikal saya saat pertama mendengarnya. Kedua, karena mindset saya sendiri akan Tulus yang selalu terlihat ceria melalui pembawaanya yang tenang. Lagi-lagi itu versi saya, namun mendengarkannya cukup menyenangkan, ia berhasil menyajikan sesuatu yang cukup berbeda dan multi tafsir.

Pada Rabu (27/07/16) kemarin, Tulus melepas single terbarunya yang berjudul Ruang Sendiri melalui layanan musik digital, Spotify, secara serentak. Lagu yang didapuk sebagai single kedua ini menjadi pengantar berikutnya bagi Teman Tulus yang sudah menantikan album ketiganya yang akan datang, Monokrom.

Berbeda dengan Pamit yang cukup rumit. Eksplorasi Tulus dalam single keduanya ini terdengar sederhana tapi sangat mengena lewat melodi yang iya buat sendiri. Tak perlu berulang kali untuk mendengarkan lagu ini, cukup sekali dengar kalian akan sangat mudah mengikuti melodinya untuk bersenandung. Salah satu kelebihannya sudah pasti adalah lirik dengan diksi yang pas dan dekat dengan keseharian. Ia adalah salah satu penulis lirik sangat baik, apalagi yang saya tahu melalui sebuah wawancara dengannya saat saya masih mengisi salah satu majalah musik ibu kota, ia selalu memperbaharui KBBI miliknya dengan edisi terbaru.

Masuk ke ranah aransemen, Ari ‘Aru’ Renaldi kembali menjadi sosok penting bagi Tulus. Daya magis penata suara dan peramu rekam yang tak pernah absen sejak album pertama Tulus ini, bagi saya ia cukup sukses menhadirkan sudut padang baru bagi Teman Tulus khususnya dan pendengar lainya yang mengikuti Tulus sejak awal perjalanan bermusiknya (mungkin). Hadirnya banyak instrumen dalam single ini contohnya,  cukup menjadi pembeda yang mencolok dengan album sebelumnya, selain tema album tentunya. Pun, keterlibatan The City of Prague Philharmonic Orchestra, Republik Ceko  dalam lagu dan album ketiganya akan menjadi sesuatu yang patut dinanti. Melalui dua single-nya, saya pikir ini salah satu album penuh  solois pria yang wajib ditunggu tahun 2016. Tulus juga adalah salah satu penampil dengan kualtias live yang hampir selalu sedikit cela. Dengan didukung band yang pengiring yang mumpuni, penampilan live Tulus dengan materi barunya juga tidak boleh di lewatkan.

Mendengar ‘Ruang Sendiri’ ini memang seperti jalan cerita lagunya, butuh ruang, bebas dan sendiri. Sampai akhirnya kamu membangun jarak mu sendiri untuk memahami seberapa penting rindu, walau kadang lupa tentang sepi yang tak lagi bisa dirimu hargai.

Bandung – 29/07/16 – 00.57 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s