Surat Rindu ; Untuk Kalian Yang Terbuang Dari Kumpulan

Untuk Angga, Bacang, Pepey, Kams dan Tomang dimana pun kalian berada. Turut berduka cita Mang, kuat, Gusti boga cara lain keur ngbagjakeun babeh!

Sinar-sinar menerjang, rentang waktu kian merenggang, hingga ruang kosong tidak lagi sanggup menolong. Mungkin, jika ada hari yang sangat ingin kau hapus dari ingatan, ini adalah waktu yang bertepatan. Belum kering peluh ini berkejaran dengan realitas. Tanpa sadar air mata berkelindan di ujung mata, perlahan menetes menyambut tangis yang mengeras dari sebuah teras.

Kawan, aku masih ingat betul rasanya badai dan petir bertubi yang singgah padamu pekan kemarin. Semua luluh lantah, menyisakan puing kekecewaan yang berserakan tak beraturan. Merisak batin, menghujam tajam hingga yang paling dalam meski terasa perlahan.

Badai itu pula yang menghantam keras aku disini sebelas tahun silam. Memaksa aku untuk berdiri di kaki sendiri. Menuntut aku untuk tau diri, mengajarkan aku untuk  membela diri sendiri, dan mendidik aku untuk mempelajari hari-hari hingga menjaga Ibu, meski sendiri.

Kawan, jangan anggap ini sebagai sebuah dikte. Tidak pula aku sedang menceramahi mu. Bukan juga aku menggurui mu. Ini adalah sebuah surat cinta dari aku, sahabat mu yang juga tak kalah terpukul oleh berita duka pekan kemarin. Kalimat-kalimat terangkum jelas dalam wajah mu yang lesu saat pagi kembali datang merenggut malam. Meski tak sedikit pula pengharapan dan kelegaan dalam suasana yang muram.

Kematian adalah puisi cinta Tuhan paling indah bagi ummatnya. Kesedihannya tak pernah bisa kita dustakan dengan rasa. Ia hadir tak pernah mengenal ruang, waktu, dan cara bekerja. Kadang kita hanya bisa terpana tanpa bisa meronta. Karena ternyata kita baru sadar kuasa Tuhan nyata adanya dan kita memang batu seada-adanya.

Kawan, ternyata menjadi mujahid itu tak melulu seperti artikel dan buku yang kita baca. Kematian juga tak mesti menyeramkan seturut nasibnya Widji Tukhul yang tak jua terang: masih hidup atau sudah berjumpa Pram di nirwana. Jika merujuk catatan editor website kegemaranmu, Indoprogress atau buku-buku kiri (konon) yang sering kita gilir bersama.

Kawan, jika alrmarhum Bapak meninggalkan mu di hari dimana kau sedang merancang masa depan. Ayah  meninggalkanku  bahkan di saat aku belum tau sama sekali apa dan akan bagaimana tujuan hidupku. Yang aku tau hanya bermain, bercita-cita untuk berbagi panggung bersama Sick Of It All, dan memutar dengan keras suara Eddie Vedder yang terekam dalam kaset pita bootleg murahan kala sendu mengganggu.

Kawan, beberapa waktu kebelakang, ada sepenggal kalimat yang konon menurut beberapa teman lain adalah sebuah pencapaian omong kosong paling mutakhir yang pernah aku buat. Aku pun tak pernah tau apakah membuat kalimat tersebut dalam kondisi sadar atau setengah mabuk. Yang aku ingat saat itu aku sedang memutar lagu berjudul ‘Putih’ milik band yang sama-sama kita puja, Efek Rumah Kaca. Tapi kira-kira begini bunyinya, “Karena hidup tak harus selalu rumit. Begitu pula kematian tak selamanya menakutkan. Selama harapan dan keyakinan masih bermekaran, sudah saatnya kita rayakan. Tak perlu bersedu sedan, karena bersyukur adalah keharusan.”

Kawan, perkara meninggalkan atau ditinggalkan adalah sebuah keniscayaan meski dalam kesementaraan. Suatu saat aku, kamu, Ibu dan mereka lainnya juga akan menyusul Ayah dan Bapak untuk bertemu kembali. Merayakan kematian dengan menuju kekekalan dalam keniscayaan.

Kala itu, emperan toko tempat mu bekerja adalah tempat yang santai untuk nongkrong.  Karena terus-menerus membuat nyaman untuk sekedar mabuk, bergunjing, atau omong kosong seputar skena musik sampai pada aktivisme kiri politik yang menggelikan dan sama sekali berjarak dengan apa yang kita lakukan. Hingga  “Lekra Tak Bakar Buku” , “Aku Ingin Jadi Peluru” dan tulisan Martin Aleida mulai mencuri topik di tengah sela obrolan tongkrongan.

Ketimbang sebuah bacaan yang menyadarkan, kumpulan wacana dan artikel tersebut waktu itu lebih terdengar seperti; bagaiamana agar terlihat keren dan kekinian diantara kumpulan lainnya. Buku tersebut begitu membawa suasana, hingga akhirnya kita menyimpan kekaguman untuk kemudian terus jatuh cinta pada topik yang sama. Kata per katanya begitu lantang menghantam. Metaforanya adalah kebanalan, yang begitu akur dengan diri dan situasi kita belakangan. Menyulut emosi, seakan dunia akan berakhir terlalu dini tanpa revolusi.

Kawan, belakangan aku tau kau tak terlalu suka keramaian. Bukan perkara menarik diri dari kumpulan, tapi ada hal yang begitu personal yang kami pahami betul kau tak mungkin membaginya. Ada rencana-rencana besar yang sedang kau gambar cetak birunya, untuk kemudian kau wujudkan dengan tangan mu sendiri sebagai arsitek ataupun mandornya. Aku cukup hafal kau tak lagi menggebu untuk hura-hura atau sekedar membuat kegaduhan dengan cabikan bas di ruang-ruang kecil kerumunan. Kami paham betul alasan mu.

Tapi bagi aku dan mereka yang ada di samping mu, kesedihan adalah sebuah pengecualian. Kami tak bisa membiarkan mu sendiri memikulnya. Meski, belum tentu kehadiran kami menghapus kesedihan mu. Tapi satu yang harus aku, kamu dan mereka pahami, bahwasannya bertemu, berkumpul untuk sekedar melepas tawa meski dalam kondisi berduka adalah sesuatu yang penting untuk tetap menjaga waras, mengikis bias-bias batas agar tak terhempas dalam mitos. Walau, sekali lagi, kami paham betul ada sepi untuk sendiri dan ada sunyi yang tak mungkin kau bagi.

Cepatlah bangkit dari kesedihan! Aku rindu bersamamu dan kalian. Aku rindu menghabiskan sepertiga malam dengan obrolan bodoh tentang masa depan. Meski belakangan kita berbicara banyak hal namun tak sedikit melupakan perihal. Aku tak mau lagi menghitung kehilangan meski ada yang tak lagi sama dan banyak yang masih tetap tak berbeda. Aku salah seorang yang percaya kalau hidup ini tak  ada jalan memutar, bukan perkara juga ingatan yang harus dikubur tapi nyali yang patut di ukur. Bukan takabur.

Ini sahur kedua pada puasa tahun ini. Malam begitu panas terasa di dahi, angin pun hanya sayup-sayup kering melewati. Aku tak sabar untuk berkumpul kembali. Dan seperti Babap bilang ; Kita hanya manusia dengan kebanalan biasa – biasa dan sama sekali bukan binatang jalang meski kadang terbuang dari kumpulan. Dan kita ingin hidup seribu tahun lagi!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s