#Late Post : Sewindu, Dari Bandung Sampai Amsterdam

Time flies..Teruntuk dirimu yang jauh di negeri kincir sana,

Bukan lagi sekedar kabar angin, karena nyatanya kau tak lagi disini. Bukan pula perkara ‘tidak bisa beranjak’. Ini hanya perkara senja dan kuningnya yang membawa ingatan ini kembali ke beberapa lembaran awal catatan kecil ku, yang sudah lama tersimpan rapih dalam laci. Maka aku tuliskan baik-baik ingatan ku disini.

Ribuan mil terbentang jauh antara Bandung dan Amsterdam. Terhalang jarak, berkalang rindu. Apa yang tidak lebih menyakitkan dari sebuah kerinduan yang terpisah jarak, ruang dan waktu? Ini hikayat si anak tunggal yang masih kebingungan menyelami pikirannya sendiri. Si anak bengal yang setengah mati terus membenahi hidupnya. Merekontruksi ulang impiannya, mengumpulkan kembali sedikit demi sedikit semangat yang sempat tercecer, berserakan.

Sampai saat ini aku masih saja menepuk jidat jika mengingat apa yang terjadi di depan gapura sebuah pasar dekat sekolah kita dulu. Kau ‘menyelamati’ aku karena mendapatkan jawaban yang aku inginkan, waktu itu. Mungkin, ada ragu menyertai kita. Namun perlahan kita mulai menyatu, seiring baris-baris kata yang keluar masuk dalam pesan singkat di Nokia usang keluaran tahun-tahun awal. Kadang saling memuji, tak jarang juga kita saling mengumpat. Tapi satu yang pasti, sejumput doa dan segenggam harap selalu terselip disana. Menjaga asa untuk tetap terjaga. Mengawal nalar untuk tetap di ambang waras.

Aku masih ingat betul saat kita pulang larut malam dari sebuah pertunjukan musik. Kau tersenyum manis kepadaku saat kita berjalan diantara pohon-pohon yang melindungi kita dari gerimis yang manis. Itu juga pertama kalinya aku memegang tangan mu. Malam itu ingin rasanya aku berbisik, namun hanya ku bingkai indah dalam hati, ‘aku menyanyangi mu’. Yang terasa hangat dan nyata hanya sebuah rangkulan. Kita pun menyusuri malam, merajut cinta dalam gita, menjemput lelah dalam tawa, untuk kemudian berpisah di persimpangan jalan pulang.

Aku juga masih terkekeh-kekeh jika melihat sebuah video hasil movie maker yang ku hadiahkan pada hari ulang tahun mu yang berbarengan dengan Dian Sastro. Malu sendiri jika mendengar lagu ‘I do’ milik Ten 2 Five mengudara di satasiun radio favorit mu. Heran sendiri karena dulu dengan pede-nya aku bernyanyi di depan orang tua dan sahabat-sahabat mu. Merasa ‘lebay’ sendiri ketika melihat hasil foto box ukuran 3 x 4 yang terselip diantara gundukan potongan tiket bioskop dan pensi jaman SMA. Konyolnya lagi foto itu pula yang aku repro dengan ukuran beberapa kali lipatnya, supaya bisa menjadi latar sebuah jam meja kecil yang kemudian aku hadiahkan juga di hari ulang tahun mu.

Namun semuanya hanya bisa kusimpan erat dalam hati, terikat kencang diantara beribu ingatan baik lainnya bersamamu. Hanya repihan kecil yang ku tuliskan dengan baik disini..

Senja kini perlahan pudar. Tersaturasi oleh hitam yang kian pekat. Ini perkara mengingat, bukan sebuah rengekan. Aku masih peracaya rotasi matahari, pun meyakini kekuatan sebuah hasrat. Tak ada penyesalan, meski hanya triwulan yang di banjiri kasih. Aku juga bukan berharap, hanya memutar ingatan sedikit kebelakang. Memperpanjang ingatan, menegur kesombongan, berkelahi melawan ego untuk sekadar melepas resah, dan berkata rindu dengan lirih. Meski mungkin kau tak akan pernah tahu, sampai pada waktunya ingatan mu sendiri yang memaksa untuk mengingat.

Sewindu sudah berlalu. Kopi secawan di malam sendu bagai anastesi bagi hati yang tak karuan ini. Potongan-potongan prosa, kutipan kalimat, serta sebait keresahan mengalir deras namun teratur dalam layar 15 inci ini. Aku sudah terbiasa dengan pertemuan kosong. Pertemuan yang hanya ada dalam kanal-kanal berlabel sosial media yang konon viral, dan ampuh memperpendek jarak. Meski tetap saja terhalang layar berbatas kuota internet. Fana!

Sebenarnya aku tak mau tahu lagi tentang kabar mu yang paling kekinian, tapi rasanya aku tak bisa bohong pada diri sendiri. Ah! Maka demi Tuhan dengan segala kebesaran NYA, demi kejujuran yang aku perjuangkan dalam setiap berita yang ku tulis. Demi setiap peluh yang berjatuhan, dan demi setiap rasa marah yang selalu menyiksa. Jangan biarkan ‘gengsi’ ini membuatku lupa diri. Biarkan aku menjilat ludah untuk kembali menginjak bumi, dan berkata ‘Aku rindu padamu!’. Lagi! Dengan terbata-bata bersama doa-doa di setiap helaan nafas ku, sekali lagi, sebelum mata ini tertutup dan kembali ke pusara.

10/04/15 – 01.58 WIB – Antara “Seribu Mil Lebih Sedepa” yang menenangkan, dan Manic Street Preacher yang begitu lirih dalam  “Suicide Is Painless”

Advertisements

Review-Durhaka Album Samasthamarta

Zoo – Samasthamarta : Merekontruksi Ulang Peradaban

“Untuk menjadi abadi bukanlah menjadi tinggi, tapi menjadi sejajar dengan tanah,” – Zoo.

Jika bukan anjing! mungkin brengsek adalah ungkapan paling representatif bagi rasa kagum, sekaligus nyinyir untuk kalian, dan khususnya saya setelah mendengarkan album Zoo yang bertajuk Samasthamarta pertama kalinya. Album ini dirilis bertepatan dengan Netlabel Day dan MP3 Day, pada 14 Juli 2015 oleh Yes No Wave Music, yang merupakan sebuah Netlabel asal Yogyakarta, sebagai sebuah peringatan 20 tahun format audio.mp3 kali pertama dibuat.

Gampangnya, mereka adalah sebuah unit math-rock/experimental-hardcore asal Yogyakarta yang cukup mencuri perhatian saya pribadi khususnya, atau khalayak dengan segudang ‘keganjilan’ dan ‘kegilaan’ yang mereka ciptakan di luar nalar siapa pun. Tepatnya saya kesulitan, dan memang tidak mengerti, serta minim referensi untuk mengklasifikasikan mereka berada di belahan genre atau sub-genre manapun. Dasarnya adalah telinga dan google, saya kemudian melabeli mereka dengan seenak pantat sebagai band experimental berdasarkan apa yang saya dengar dan baca.Underrated! versi saya.

Saya tidak pernah benar-benar mengikuti perjalanan mereka sejak awal, atau saat Kebun Binatang yang merupakan EP mereka dirilis 2007  silam. Samasthamarta sendiri belum lebih dari dua minggu berada di hardisk saya, meski sebenarnya saya sudah mendengarkan beberapa lagunya melalui soundcloud. Saya memahami mereka secara lambat, tertinggal jauh, dan terbalik. Jika Samasthamarta adalah sebuah aplikasi dari cetak biru yang akan segera di eksekusi, saya baru mundur kebelakang saat mereka masih (mungkin) mengkonsumsi kopi murahan, bertukar pikiran, menentukan konsep, hingga akhirnya menghasilkan sebuah rekontruksi perdaban baru melalui dua buah pondasi berupa Prasasti dan Trilogi Peradaban yang sudah lebih dulu saya unduh. Kedua album tersebut baru saya pahami setelah menyelami Samasthamarta dua minggu belakangan.

Label sebagai sebuah band tribal, sudah kadung melekat pada Rully Sabara dan kawan-kawan. Meski di era Prasasti dan Trilogi Peradaban saya menemukan sentuhan kekacauan yang begitu megah, dan perlahan tersetruktur hasil reduksi dari Mr. Bungle, Boredoms, bahkan Charles Bronson yang cukup kentara, itu pun berdasarkan ke-sok-tahu-an saya. Untuk menghasilkan kekacauan massive ini Rully Sabara (vokal/jimbe/synth) tidak sendiri, ia dibantu oleh Dimas Budhi Satya (bedhug/drum), Bhakti Prasetyo (bas/ukulele/mandolin), Ramberto Agozalie (drum).

Seperti sudah saya bilang, saya menikmati mereka terbalik, dari Samasthamarta baru mundur ke Prasasti, Trilogi Peradaban, serta Kebun Binatang. Jika di luar sana banyak yang kecewa mendengarkan rilisan terbaru mereka, dengan alasan kurang buas, justru saya sebaliknya. Saya begitu menikmati trek demi trek yang mengalun, menyihir mistis, dan sesekali kekacauan luar biasa sebagai ciri khas mereka di beberapa bagian. Meski tak se-brutal album-album sebelumnya. Menikmati mereka bagai asupan nutrisi, mengenyangkan layaknya buku pelajaran, mencerahkan seperti rangkaian trivia, dan minimal ; mencerdaskan seperti Wikipedia.

Tengok saja betapa mistisnya Giza, sebuah piramida Mesir kuno yang mereka jadikan gerbang pembuka untuk lagu-lagu lainnya. Meski banyak yang bilang tak se-dominan Kedo-kedo atau Manekin Bermesin, lagu bernas yang tak bisa dipahami dengan sekali mendengar oleh orang minim wawasan macam saya ini, membawa pendengarnya untuk memahami lebih jauh perihal horizon yang bukan hanya perkara tempat terbit-tenggelamnya Matahari, namun mengahdirkan pemahaman lain atas sebuah siklus hidup. Vokal Rully saat melafalkan “Ikhet Khufu” (atau Akhet Khufu menurut hasil googling) dengan lambat yang kemudian menjadi cepat kembali bagai mantra dalam sebuah ritus. “Akhet Khufu” sendiri merupakan bahasa mesir kuno, yang merupakan sebutan untuk Piramida Giza.

Album ini memang bagai buku sejarah, jika bukan sebuah Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL).  Kali ini mereka menyoroti tema arsitektur dari pelbagai tempat di penjuru dunia melalui Samasthamarta. Dari mulai piramida Giza di atas, kemudian  Pagoda Leifeng di Hang Zhou, Gapura Matahari di Bolivia, Labirin Daedalus di Creta , Kota El Dorado, Jembatan Rama yang konon menjadi penghubung India dan Sri Lanka , Agora di Athena, hingga Bahtera Nuh, Borobudur dan terakhir kota ghaib Uwentira di Sulawesi. Prasasti tua hingga kota-kota yang misterius, bagi mereka adalah fragmen-fragmen moral, nilai, yang kemudian membentuk praksis budaya di sekitarnya.

Lagu-lagu dalam Samasthamarta tidak seperti epos Mahabarata, justru Zoo menurut saya sedang membuka perjalanan mereka menuju perhentian berikutnya, dan tujuan akhir yang jauh lebih besar dari itu. Dengan konsep yang tertata rapi, perlahan penggambaran ke-tribal-an mereka berubah dari sebuah rencana menuju eksekusi. Jika kalian telah mengunduh Samasthamarta, kalian bisa temukan berkas yang berisikan paparan detail mengenai apa yang sebenarnya mereka kerjakan (silahkan unduh dan baca sendiri, terlalu sulit dan panjang untuk di jelaskan). Mereka mempecundangi apa yang di sebut dengan ‘pakem’, jauh dari itu, mereka bukan  sekedar entitas musik belaka. Entah mereka yang kepalang pintar, atau saya yang terlalu minim wawasan. Bagi saya, mereka adalah sebuah pergerakan kolektif  yang mencoba merekontruksi ulang peradaban baru, atau lebih jauhnya menciptakan kebudayaan baru. Entah itu fiktif atau tidak, yang jelas mereka berhasil menyentil pola-pola peradaban (nyata) dengan cara mereka yang sebenarnya sudah mulai disisipi sejak Trilogi Peradaban dan Prasasti, salah satunya dengan aksara baru yang mereka ciptakan ; Zugrafi.

Mengunduh Samasthamarta sama halnya mengunduh tesis anak arsitektur, yang ternyata jauh lebih mencintai sejarah dan antropologi. Apa yang mereka sertakan di dalamnya membuat kerumitan dan kejeniusan Neil Peart bersama Rush seakan lelucon cemen. Dalam booklet-nya, tahapan kota fiktif rekaan Zoo mereka paparkan dengan gamblang , lengkap dengan sketsa cetak biru lanskapnya. Bukan gagah-gagahan, seperti yang tertulis di halaman yesnowave.com, Rully sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengerjaan cover ini, memang berkonsultasi dengan seorang konsultan arsitektur dan di garap serius di sebuah studio arsitek, di Yogyakarta.

Samasthamarta sendiri terdiri dari dua buah kata yaitu Samastha ; Sejajar dengan tanah, dan Amarta ; Kekal. Dan menurut mereka jika di rangkai menjadi sebuah kata memiliki arti ; “Untuk menjadi abadi bukanlah menjadi tinggi, tapi menjadi sejajar dengan tanah.”

Proyek ini akan berjangka 10 tahun lamanya. Sebuah instalasi berupa maket rencananya akan dibuat dan didirikan. Mereka ingin menggambarkan kehancuran kota fiksi dalam booklet tersebut. Ambisius! Se-ambisius gimmick mereka saat membungkus album Prasasti dalam batu granit seberat 1,7 Kg. Rencana yang berdurasi 10 tahun ini juga merupakan penyempurnaan dari berbagai proyek lainnya macam, aksara Zugrafi yang masuk pada fase ke dua, dan bahasa oral Zufrasi. Konon, kegilaan jangka panjang tersebut juga akan mencakup 5 buah album hingga 2025 mendatang. Temanya pun berbeda, dari mulai sains, ideologi, agama, perang, iklim, penjajahan hingga kebudayaan. Tidak percaya? Silahkan unduh, dan googling untuk informasi lainnya.

Kembali ke album mereka, lagu kedua berjudul Uventira ini tak kalah unik di banding dengan lagu lainnya. Judul lagu ini diambil dari nama sebuah kota di Sulawesi Tengah, Wentira. Seperti lagu Zoo lainnya, kekuatan mereka adalah kepiawaian Rully dalam berolah vokal. Senandung, geraman dan lolongan khas yang terkadang bagi saya terdengar seperti seorang dukun yang merapal mantra ini adalah sebuah penegas yang tidak bisa dipisahkan. Lagu ini cukup terdengar melankolis sekaligus magis. Dengan balutan suara bas dan perkusi yang cukup dominan, cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri. Syair indah gubahan Rully tak kalah epik, pasalnya setelah saya mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya di kota legenda bernama Wentira ini, penggalan syair ‘Ada apa di balik jembatan rapuh, berlumut, dan lusuh?’ ini selalu sukses menimbulkan teror tiap kali mendengarkannya. Setelah googling, Wentira sendiri merupakan kota yang di percaya berada di alam lain. Gambarannya, kota tersebut berwarna keemasan, berada di balik sebuah kebun kopi di kawasan trans Sulawesi, antara Sulawesi Selatan danTenggara. Jembatan di jalur trans Sulawesi tersebut juga, di percaya sebgai pintu masuk menuju kota tersebut.

Setelahnya Uventira ada El Dorado, yang lagi–lagi menyajikan sebuah mitologi akan arsitektur si kota emas yang hilang, di belahan Kolombia sana. Petikan bas serta dentingan piano yang mangalun pelan dan di barengi suara berat Rully, seakan menjadi sebuah pengantar menuju sebuah kekacauan. Seperti sedang rehat saat menaiki ratusan anak tangga, di taman hutan raya tanpa bekal air minum dalam tas, dan kemudian dipaksa berlari karena di kejar anjing. Mungkin, analogi cemen itu yang bisa saya reka untuk menggambarkan lagu ini. Apalagi saat pengulangan syair ‘manusia mencari’ dan ‘ambisi’ yang begitu agresif, cepat namun tetap lugas terdengar. Brutal!

Berikutnya, secara berurutan hadir Leifeng, Gapura Matahari, Labirin Daidalos, Bahtera Nuh, Rama Setu, Agora, dan Bara Beduhur. Jika kalian ingin menikmati karya mereka, dibutuhkan referensi yang cukup agar tidak jumud dan sakit kepala sebelah. Bagaimana membaca Daidalos yang membuat labirin untuk mengurung Minotaur (manusia setengah banteng) dalam mitologi Yunani. Atau mengingat kisah Nabi Nuh beserta Bahtera-nya, membayangkan pasukan kera yang dipimpin Hanuman saat menyeberang melintasi jembatan Rama menuju Alengka, yang konon terletak di antara India dan Sri Lanka. Lebih jauh lagi berimajinasi dengan Rama, Shinta serta Rahwana dalam Rama Setu, atau mempertanyakan kembali, relief Bara Beduhur yang lebih dikenal sebagai Borobudur.

Sungguh album yang luas. Bergizi, kaya akan referensi. Lirik-lirik yang mereka (terutama Rully ; pembuat semua lirik Zoo) buat cukup untuk memperlihatkan keseriusan, kejeniusan, atau bahkan kegilaan mereka tanpa terkesan dipaksakan. Meski keliararan mereka berkurang dalam Samasthamarta ini, Zoo menyimpan energi lebih mereka untuk mega-proyek jangka panjang  selanjutnya.

Dalam folder unduhan Samasthamarta terdapat berkas dengang format .pdf yang memuat visi-misi Zoo hingga tahun 2025, sebagian sudah saya ceritakan di atas. Pendeknya, saya akan terus menunggu apalagi yang akan mereka hadirkan, dan mudah-mudahan mereka tidak kehabisan energi untuk melakukannya. Jauhnya lagi, semoga saya masih hidup untuk bisa menikmati karya mereka.

Walaupun banyak penggemar dan review  bernada kecewa, saya sendiri malah baru menjadi penggemar terbaru mereka. Bagi saya album ini adalah sebuah pencerahan yang luar biasa, dan pencapaian di luar ekspektasi banyak orang untuk sebuah kolektif ‘budaya’ yang dilabeli predikat band. Dalam review suka-suka dan cenderung durhaka ini, kiranya tak perlu lagi saya memberi nilai dengan skala berapa pun, toh ini album yang memuaskan bagi saya. Jika nantinya saya membuat daftar rilisan terbaik 2015 versi saya, tentunya Samasthamarta ini masuk di dalamnya. Saat ini juga saya sedang menunggu  akan seperti apa bentuk rilisan fisik album ini. Setelah kotak kayu dan batu granit, apalagi? Salah satu yang menganjal saya hingga saat ini adalah, saya belum berkesempatan untuk mewawancarai mereka, semoga kesempatan itu segera hadir.

*) Semua gambar di ambil dari berkas unduhan.

Pasar Bisa Dikonserkan : Keharuan dan Kembalinya Adrian

tes9

Efek Rumah Kaca, band asal Jakarta ini menandai kembalinya mereka dengan sebuah konser bertajuk ‘Pasar Bisa Dikonserkan’ di Balai Sartika, jalan Suryalaya, Bandung. Jumat (18/09/15). Untuk mengobati kerinduan penggemarnya, mereka membawakan lebih dari 20 lagu, yang diambil dari kedua album serta single terbaru mereka .

Setelah menunggu lama dan sempat bersitegang dengan panitia karena tertahan di pintu masuk, akhirnya P! dan beberapa teman media lain masuk saat akhir repertoar kedua ”Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” dimainkan. Kor masal sudah menggemuruh sejak awal, meski P! hanya bisa mendengarkannya di antrian pintu masuk. Penonton yang hadir malam itu cukup lintas generasi, mereka tanpa canggung menyanyikan penggalan lirik terakhir lagu paling intens milik Efek Rumah Kaca (ERK) tersebut. ERK sendiri malam itu tampil bersama formasi terbaiknya yaitu Cholil (gitar), Poppie Airil (bas), Akbar Bagus (drum), beserta empat penyanyi latar mereka Natasha Abigail, Monica Hapsari, Irma Cholil, dan Wisnu (Monkey To Millionaire).

Seperti biasa, Cholil dan kawan-kawan irit bicara di atas panggung. Mengisi sesi pertama “Mosi Tidak Percaya”, “Hujan Jangan Marah”, dan “Belanja Terus Sampai Mati” mereka mainkan berurutan. Mereka tahu betul bagaimana menciptakan kor masal berulang sepanjang lagu, tanpa harus banyak gimmick.

tes8

Histeria semakin menjadi saat Adrian, pencabik bas awal ERK naik panggung. Adrian terpaksa harus ‘pensiun dini’ karena mengalami penurunan kondisi kesehatan, akibat sejenis virus pada bagian mata yang dideritanya. Ia naik panggung menggunakan kursi roda, yang disambut riuh tepuk tangan penonton.

Dengan lantang dia menyebutkan nama-nama seperti Wiji Thukul, Dedy Hamdun, Petrus Bima Anugrah, dan beberapa nama aktivis 1998 lainnya, yang hilang dan tidak diketahui keberadaanya sampai saat ini. Daftar nama tersebut merupakan bagian lagu ‘Hilang’, single ERK yang masuk dalam kompilasi berjudul ‘Perdamaian’ yang di prakarsai Buffetlibre, untuk disumbangkan ke Amnesty Internasional. Sebuah organisasi internasional di bidang kemanusian dan hak asasi manusia. Momen langka ini cukup emosional bagi para personil lainnya, termasuk Cholil yang nampak menitikan air mata. Adrian kembali naik pentas saat “Pasar Bisa Diciptakan”dibawakan.

“Cuma Adrian yang bisa menyebutkan nama-nama tersebut dengan pas. Pas lagu selesai, nama terakhir juga selesai. Kita pernah coba sendiri, nggak pernah pas,”ujar Cholil.

tes3

Kurang persiapan

Sekira 1500 penonton, secara berangsur memadati lokasi pertunjukan sejak pukul 17.00, meski open gate baru di buka pukul 18.00 WIB. Sayangnya, dengan jumlah penonton sebanyak itu kurang di antisipasi oleh pihak penyelenggara konser, Black and Brown. Lokasi penukaran tiket presale terhalang oleh panjangnya antrian penonton. Beberapa penyebabnya adalah kecilnya gate dan lamanya pemindaian barcode, karena alatnya hanya satu. Belum lagi body check serta penukaran gelang yang  memakan waktu yang tidak sedikit.

Pembagian empat jalur antrian, terasa tidak efektif dengan minimnya signage. Menjelang lagu kedua berakhir ratusan penonton masih tertahan di luar. Buruknya komunikasi penyelenggara nampaknya jadi masalah yang cukup krusial. Jumlah panitia terlihat cukup banyak, namun mereka nampak bingung dengan tugas yang harus mereka kerjakan. Beberapa hanya terlihat bergerombol.

Pengelolaan photo pit pun semerawut. Beberapa teman media yang meliput dilarang masuk, termasuk media partner. Panitia hanya berargumen, photo pit penuh dan diperuntukan untuk kru acara. Pada saat di cek ulang, P! melihat photo pit hanya dipenuhi sekelompok orang lengkap dengan kaos panitia yang sibuk memotret dengan kamera SLR.

Kolaborasi apik

Memasuki sesi berikutnya, ERK  berganti kostum dengan piama (pakaian tidur). Monica Hapsari maju kedepan mendampingi Cholil untuk menyanyikan lagu‘ Insomnia’ gubahan versi album kompilasi ERK RMX.  Setelah itu giliran duo pendatang baru yang sedang memikat hati banyak penikmat musik lokal, Tetangga Pak Gesang. Mereka menyanyikan “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” dengan cara mereka, sederhana, hanya dengan ukulele dan kazoo namun tetap memikat seperti biasanya.

Lagu “Debu-debu Beterbangan” pun dibuat cukup trippy dan berisik. Oknumnya adalah Bin Idris yang merupakan side project dari Haikal Azizi yang juga vokalis band Sigmun. Sesi kedua ini memang diisi kolaborasi dengan banyak musisi tamu, Mondo Gascarro pun turut ambil bagian dalam lagu “Banyak Asap Di Sana”.

Keriaan kembali memuncak saat  Roni ‘Meng’ Simamora (Float) naik pentas. Penonton sempat di buat tertipu dengan intro lagu “Stupid Ritmo” yang dinyanyikan. Intro tersebut adalah penanda kolaborasi apik mereka dalam lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika” yang di mash up beberapa bagian dengan lagu Float tersebut.

(*)

tes6Mengakhiri sesi kedua, ERK menggandeng The Adams yang menyisakan Saleh Husein dan Ario Hendarwan. Kali ini “Lagu Cinta Melulu” jadi bahan eksplorasi kedua band tersebut. Lagu ini menurut mereka memiliki beberapa partitur yang sama dengan “Konservatif”. Ale dan Ario juga sempat berkelakar di atas panggung, kalau ERK meniru mereka. Kolaborasi ini cukup unik saat Ale membagi penonton ke dalam dua bagian. Sebagian penonton diarahkan untuk bersenandung lagu ERK, sementara bagian lainnya lagu The Adams. Dan hasilnya, sebuah ‘atraksi’ yang mengejutkan, saling bersautan namun tetap seirama. Riuh tepuk tangan, serta sing along penonton dalam penggalan lirik lagu The Adams menutup manis sesi kedua ini.

“Jadi ERK sebenernya niru lagu The Adams. Kalau yang lain diajak kolaborasi, khusus The Adams kita yang minta,” ujar pria yang akrab di sapa Ale tersebut.

Kembalinya Adrian

Setelah istirahat beberapa menit, sesi ketiga di buka oleh atraksi badut sulap. Tak lama berselang personil ERK kembali naik pentas dengan kostum badut, lengkap dengan riasannya. Kali ini sekelompok mini string orchestra turut meramaikan panggung. Mengiringi ERK dalam beberapa nomor seperti “Melankolia”, “Efek Rumah Kaca”, “Laki-laki Pemalu” yang terdengar lebih megah.

(*)

tes7

Seakan tidak pernah kehabisan energi, para penonton yang hadir makin keras bernyanyi bersama ERK saat “Di Udara” dan “Desember” di pentaskan.  Secara konsep, konser ini dikemas cukup baik, meski sound yang keluar agak sedikit bermasalah di beberapa lagu. Hal tersebut ditutupi dengan baik oleh suguhan visual di layar LED yang terkonsep baik dalam setiap lagunya. Hanya saja beberapa suguhan teatrikal di atas panggung terasa sedikit kurang tepat.

Mendekati akhir pertunjukan, banyak penonton mulai menghitung lagu apa saja yang belum di bawakan. Rasanya, hampir semua sudah selesai di pentaskan. Baru, saat Adrian kembali naik panggung, mereka berani menebak. Jika dalam dua lagu sebelumnya Adrian hanya duduk di kursi roda, kali ini dia berdiri dengan tegak, lengkap dengan topi pet yang menjadi ciri khasnya.

(*)

tes4

Begitu intro ‘Sebelah Mata’ diperdengarkan, banyak penonton yang tampak histeris. Tanpa aba-aba, mereka bernyanyi sepanjang lagu, dan semakin keras pada setiap baitnya. Adrian sendiri  hanya mengisi bagian chorus saat mementaskan lagu yang ia ciptakan ini. Dengan kondisi kesehatan yang mungkin terbatas, ia menyanggupi untuk berdiri sepanjang lagu. Kembalinya ia di atas panggung memberikan energi cukup besar bagi seisi ruangan pertunjukan. Tak sedikit di antara banyak penonton yang hadir menitikan air mata. Layaknya sebuah pasar yang selalu riuh, konser ini pun berakhir dengan riuh dengan segala haru birunya.

Credit Foto (*) : Mentari Nurmalia

*Tulisan ini di buat untuk Provoke! Magazine, bisa di simak di tautan berikut :

http://www.provoke-online.com/index.php/music/musicnews/4748-pasar-bisa-dikonserkan-keharuan-dan-kembalinya-adrian

Hidup Dan Remeh Temeh yang Tak Kunjung Usai

SONY DSC
SONY DSC

Melewati fase remaja untuk kemudian masuk kedalam transisi menuju dewasa, dan dunia kerja adalah sebuah pencarian. Ada egoisme, perayaan hidup, dan kebanggaan tersendiri saat menjadi pribadi yang ‘individualis’. Seperti ; si jalang dalam kumpulan terbuang yang ingin hidup 1000 tahun lagi. Belum lagi, fragmen-fragmen lain macam keterasingan, pemberontakan, gaya hidup, elegi percintaan, tikam menikam sesama teman dan remeh temeh lainnya sebagai sebuah manifestasi atas eksistensi diri. Hingga sampai di sebuah persimpangan, untuk kemudian mencoba keluar dari tataran norma dan keteraturan hidup yang dirasa datar. Bosan!

Merasakan kegelisahan adalah sebuah kewajaran, saat usia bukan tolak ukur utama atas kedewasaan. Karena proses adalah ekstase dari perputaran waktu. Kesal, muram, lalai, acuh, tidak peduli sampai sesuatu yang meledak-ledak tereduksi  baik di dalamnya. Sampai pada gilirannya, saya atau siapa pun di luar sana (mungkin) menasbihkan diri sebagai sebuah ‘penyimpangan’. Merasakan diri sebagai titik terjauh yang berada di luar arus utama. Saya adalah representasi dari sebuah anomali bagi lingkungannya sendiri. Baik dari pemikiran, selera, jalan hidup dan keyakinan. Namun di sisi lain, saya percaya jika saya berada jauh dari arus utama lingkungan tempat saya tinggal, maka sebenarnya saya sedang mendekati arus utama lainnya, dengan pencarian yang tak kunjung usai.

***

Waktu-waktu menuju musim hujan seperti sekarang ini, membuat saya merindukan musim kemarau dengan matahari teriknya yang membakar kulit. Segala kesibukan kota dengan deru mesin yang saling berkejaran setiap hari, dan ke-individualis-an para penduduknya yang cenderung apatis. Tidak lupa macam-macam bebunyian, peluh keringat, beratnya polutan yang terhirup, dan segala sesuatunya tentang musim kemarau.

Blog-6Musim kemarau juga adalah perihal perasaan yang memuncak, kegelisahan menuju depresi dan emosi yang teralineasi. Meski tetap beririsan tipis dengan perasaan-perasaan jujur tentang jatuh cinta yang kemudian di tolak, atau tentang berharap lantas kecewa, pun perihnya disalip di tikungan terakhir.

Ah, sudahlah, itu masa lalu! Perlahan ia jauh dari dominan, meredup, memberikan ruang pada perasaan ini untuk mengisi lorong-lorong sepi dalam hati. Serupa gerbang rumah tua khas kolonial yang begitu luas,  masa lalu menyediakan ruang untuk beradaptasi dan keleluasaan untuk beranjak. Mengingat juga sebuah keharusan, agar kiranya kita mengerti kedatangan-kepergian, adalah sebuah ironi dengan kemuramannya sendiri.

DCIM100GOPRO
DCIM100GOPRO

Saya menyukai kesendirian, entah dengan kalian. Jika ternyata kalian juga menyukai kesendirian, maka kebosanan sepanjang perjalanan adalah purwarupa dari jatuh cinta. Meski kerap kali melelahkan dan membuang waktu, bepergian sendiri dengan jarak yang jauh adalah proses penyadaran, pengingat atas keterikatan seorang pengelana dengan rumah.

Kesendirian juga merupakan cara lain untuk bersenang-senang. Menyeret diri kedalam kegetiran masa lalu. Berpura-pura, menganggap semua baik-baik saja dengan dungu tanpa pretensi menjadi orang lain. Belajar waras dari segala ke-tidak-warasan ini. Seolah-olah menjadi dewasa dengan klise namun paradoks dan segala kebanalan di dalamnya.

Blog-1Hingga akhirnya, sepi adalah sebuah penutup yang indah. Tidak berlebihan, tidak pula kurang, sederhana namun manis. Seperti secangkir kopi panas dan kue tambang saat menikmati senja di musim kemarau. Hangat, dan cukup untuk membuat tersenyum seolah di dunia ini tak ada kata; masalah. Sepi bagi saya adalah segala sesuatu yang bernama bersenang-senang, ia gudang segala masalah yang tak kunjung usai. Sesederhana kata bosan, karena dewasa adalah pilihan dan tanggung jawab adalah sebuah keharusan.

Putih : Merayakan Manisnya Kematian Dengan Kehidupan

Credit Foto : www.efekrumahkaca.net
Credit Foto : http://www.efekrumahkaca.net

Efek Rumah Kaca sebagai entitas pop paling berpengaruh asal Jakarta, kembali melepas single terbaru yang berjudul ‘Putih’. Ini merupakan lagu terbaru kedua setelah sebelumnya ‘Biru’ mereka perdengarkan terlebih dahulu. Lagu ini merupakan gabungan dari dua lagu yang berjudul “Tiada” dan “Ada”, direkam sejak 2010 silam dan membutuhkan kurang lebih 5 tahun sebelum di sebar ke khalayak, seperti yang mereka tuliskan dalam siaran pers di website resmi mereka.

Kedua lagu tersebut memiliki durasi yang cukup panjang, di luar kebiasaan band yang kerap dijuluki trio pop minimalis ini. Usut punya usut kedua single ini rencananya memang menjadi bagian dari album penuh ketiga mereka, yang konon dirangkum dalam sebuah judul, Sinestesia*. Album yang masih ‘katanya’ akan berisikan 6 buah lagu tersebut, konon memiliki durasi terpendek 8 menit dan yang paling panjang adalah 14 menit.

Mereka merilisnya pada Rabu 23 September 2015, tepat enam hari setelah perayaan konser perdana mereka setelah kurang lebihnya 8 perjalanan musik mereka. ‘Putih’ dibagikan secara gratis guna berbagi kebahagian dengan teman-teman yang kebetulan berhalangan hadir pada konser kemarin. Mengingat pada konser tersebut ERK sudah membagikan lagu ‘Putih’ terlebih dahulu pada penonton yang hadir dan membawa flashdisk.

Belum habis keharuan ini saat menyelami ‘Sebelah Mata’ yang dengan sangat sengaja di jadikan lagu penutup konser kemarin, ERK kembali membuat saya tertohok. Saya masih ingat betul, bunyi confetti yang begitu mengganggu sekalipun tak mengurangi rasa khidmat saya dan kami (penonton lain) mungkin saat terlibat dalam koor masal yang begitu riuh dan haru. Saya juga masih ingat betul wajah-wajah yang berada di kanan dan kiri saya yang tampak menitikan air mata, saat Adrian bersenandung di bagian chorus lagu ciptaanya tersebut. Se-ingat saya semua lagu mereka bawakan, cukup? Tidak! Rasanya saya ingin mereka lebih lama berada di atas panggung.

Konser tersebut memang ; pecah se-pecah-pecahnya. Hampir semua lini masa membicarakan konser ini. Meski sebagian besar bernada sumbang pada penyelenggara konser, termasuk saya melalui sebuah artikel di tempat saya bekerja. Tapi, kalau saya boleh sesumbar, saya menasbihkan konser ini sebagai konser terbaik sepanjang 2015, dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Meski rasa haru dan kesal sempat membuncah, toh pada akhirnya saya menerimanya. Terlebih setelah band pemberani ini menyatakan permohonan maafnya yang menurut saya seharusnya yang pihak penyelenggara yang melakukannya terlebih dahulu, melalui siaran pers, yang di sebar melalui website resmi mereka yang seketika viral dalam hitungan menit.

 

Artwork credit : Bebewahyu / www.efekrumahkaca.net
Artwork credit : Bebewahyu / http://www.efekrumahkaca.net

 

PUTIH

‘Tiada’ (untuk Adi Amir Zainun)
Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga

Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

‘Ada’ (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)

Lalu pecah tangis bayi Seperti kata Wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api

Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran

Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

Merayakan manisnya kematian dengan kehidupan. (Mengingat 9 Tahun kepergian Ayahanda tercinta, Arifin Muzaffir Nasution.)

Ayah, dan saya ketika masih di Taman Kanak-kanak

 “Karena hidup tak harus selalu rumit. Begitu pula kematian tak selamanya menakutkan. Selama harapan dan keyakinan masih bermekaran, sudah saatnya kita rayakan. Tak perlu bersedu sedan, karena bersyukur adalah keharusan.”

Ini adalah sebuah ke-kurang-ajar-an lainnya yang saya lakukan. Menginterpretasi atau mengulas sebuah lagu memerlukan pemahaman lebih, terlebih band yang di ulas sekelas ERK. Siapa yang meragukan keahlian mereka dalam mengolah sebuah lirik penuh makna? Siapa pula yang akan mencela kehebatan Cholil dan kawan-kawan saat memilih diksi untuk kemudian menyusunnya dalam sebuah struktur lagu utuh yang megah dan kaya secara bahasa. Setidaknya itu berlaku bagi saya yang awam, entah bagi kalian yang mungkin jauh lebih paham atau mungkin berprofesi sebagai pemerhati dan ahli bahasa. Saya hanya bercerita semata, membagi asa atas apa yang di rasa.

Sebelum mengunduh lagu ‘Putih’ ini, saya terlebih dahulu membaca liriknya yang sengaja mereka cantumkan dalam siaran persnya. Tak perlu mendengarkan musiknya dulu, membaca liriknya pun saya sudah tertohok. Merinding kagum dan merenung, itulah perasaan saya saat pertama kali membaca liriknya. Seketika saya pun berujar dalam hati, “ini lagu udah pasti bagus!”. Proses pembuatan lagu yang mencapai 5 tahun, sangat sebanding dengan hasilnya. Bisa jadi, sementara ini, lagu ‘Putih’ adalah lagu paling indah yang pernah ERK ciptakan. Menurut saya.

Seperti yang sudah mereka jelaskan ‘Putih’ merupakan gabungan dari dua lagu berjudul ‘Tiada’ dan ‘Ada’. Lagu ini berbicara tentang keluarga, dengan sudut pandang yang berlawanan satu sama lain. Yang satu bicara kematian, satunya lagi tentang kehidupan. Meski lirih terdengar, namun begitu manis terasa. Tanpa harus mendengar dan membaca lirik ‘Putih’ secara berulang, saya cukup merasakan kedekatan emosional dengan lagu ini. Entah kenapa, saya langsung teringat almarhum Ayah yang meninggalkan kami (saya dan ibu) 2006 silam.

Bait pertama lagu tersebut membawa ingatan saya pada salah satu hari paling menyedihkan dalam hidup saya. Hari dimana saya merasakan kehilangan yang mendalam atas seseorang yang paling saya sayang dan hormati dalam hidup ini. Penggalan bait tersebut jugalah yang mengingatkan saya pada hari pemakaman ayah. Beliau meninggalkan keluarga kecilnya pada Jumat, 14 Februari 2006 tengah malam, 5 menit  menuju pergantian hari. Meninggalkan kami delam keniscayaan dan tak pernah kembali.

Namun pada akhirnya kami percaya, itu hanya sementara, karena suatu saat kami pun akan menyusulnya untuk bertemu kembali. Merayakan kematian dengan manis, dalam kekekalan, setelah memahami kehidupan terlebih dahulu tentunya.

Saya saat sedang menurunkan jenazah Ayah, saat prosesi pemakaman.
Saya saat sedang menurunkan jenazah Ayah, saat prosesi pemakaman.

Lain cerita jika lagu ini sudah tercipta, dan saya sudah mendengranya pada 2006 silam. Situasi dalam mobil ambulan, mungkin tak se-getir yang saya alami. Waktu itu, saya  hanya bisa menatap nanar sosok Ayah yang sudah berada dalam keranda, sepanjang perjalanan dari rumah duka menuju pemakaman. Saya hanya bisa menahan tangis, yang akhirnya pecah seketika setelah saya selesai menurunkan jenazahnya ke dalam liang berukuran 2m x 1m tersebut.

Lagi-lagi, mungkin jika saya sudah mendengarkan lagu ini, derai air mata yang begitu deras itu akan berubah menjadi sebuah senyum simpul. Mengembang, seiring doa yang terpanjat, dan rasa syukur yang lalai saya jalankan meski sebuah keharusan. Karena pada akhirnya kematian bukan untuk disesali, tapi di rayakan, karena membukakan jalan menuju Tuhan, bagi  Ayah yang akan melengkapi proses transedental paling indah dalam perjalanan hidupnya.

“Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian,” – Ya, karena memang Ayah tidak pernah benar-benar ‘mati’. Semangatnya selalu ada dalam setiap langkah saya di setiap harinya. Keteguhan hatinya selalu ada, tiap kali saya mengambil sebuah keputusan. Rasa marahnya selalu ada saat saya melihat Ibu ada yang menyakiti. Kejujurannya selalu ada dalam setiap usaha anaknya yang sedang mecari tujuan hidupnya dengan membenahi setiap kerumitan yang dibuatnya, agar se-segera mungkin memahami kehidupan, hingga tiba saatnya merayakan manisnya kematian. Lagi-lagi, dengan bersyukur sebagai sebuah keharusan.

#Latepost : Basi! Madingnya Udah Terbit!

Merepih ingatan sepanjang tahun 2014…

Biasanya orang membuat sebuah kaleidoskop di penghujung tahun dan ramai-ramai meng-uploadnya saat pergantian tahun. Semua hal yang disukai, menyenangkan, sampai yang menyedihkan dirangkum dalam sebuah catatan kecil (meski isinya sangat panjang) sebagai renungan akhir tahun dan gambaran resolusi untuk tahun berikutnya. Walaupun tak semua orang melakukan hal serupa.

Perkara mengingat kejadian sepanjang tahun bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya, entah bagi yang lainnya. Terlalu banyak kejadian yang harus di ingat dalam setahun penuh, dan saya tidak mungkin mengingatnya satu persatu selama 365 hari, mesikpun Tuhan memberikan akal dan pikiran. Ah, maafkan aku Tuhan pemberianmu ini jarang di asah bahkan untuk mengingat pun aku sulit. Tapi tentu dari sekian banyak kejadian selama satu tahun ada beberapa kejadian yang paling saya ingat, dan itulah yang coba saya runut dan tuliskan kembali dalam sebuah catatan kecil ini, meski tidak beraturan. Sebutlah dengan sebutan yang kalian mau, abaikan sisanya jika dirasa mengganggu. Meskipun di rasa kurang pas jika disebut kaleidoskop karena “Basi! Madingnya udah terbit!”

Teruntuk Nona Yang Kutunggu

From : Irfan Nasution <irfan.noiseyouth></irfan.noiseyouth>

To     : *** *********

Send : Tue, Jul 29, 2014 at 8:19 PM

Subject : Sebuah catatan, kalau dirasa tidak penting masukan spam saja 🙂

Ini terakhir kali aku mengganggumu 🙂 hehehehe

Sampai hari dan detik ini aku masih diam di tempat yang sama. Ya, sama seperti pertemuan pertama saat aku mengenalmu. Dari sejak awal perjalanan sudah ku relakan jika kemudian hanya bayangan yang kutemui. Aku tahu Nona, kau tidak mungkin mengingkari janjimu sendiri. Mungkin aku saja yang terlalu naif. “Kalau aku main-main, mungkin sudah kutinggalkan orang yang kutunggu untuk mu,” aku ingat betul kata-katamu. Aku tahu kau tak ingin aku berlama-lama berharap. Aku tahu kau tak ingin aku berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi pada akhirnya rasa sakit, marah, dan kecewa ini sesuatu yang aku pahami dan syukuri. Seperti sudah ku bilang Tuhan bekerja secara misterius.

Dengan catatan kecil ini, izinkanlah aku berterima kasih karena telah mengisi waktu luangku yang begitu banyak ini. Dan kau menggantinya dengan kebahagiaan dan semangat yang tak bisa ku gambarkan. Jika pada kemudian hari aku yang menunggumu ini hilang bersama angin, ingatlah bahwa ada seseorang yang pernah begitu bahagia mengenalmu. Jika pada saat ini ada sesorang yang jauh membuatmu utuh, aku senang.  Hanya sebuah doa dari semua doa yang paling baik yang dapat aku panjatkan dalam setiap tarikan nafasku.

Mungkin kita hanya salah satu kemungkinan dari ribuan kemungkinan.

Terimakasih sudah mau mengerti, Nona.

Sejak aku mengenalmu, aku mengenal aku….

Sebuah re-interpretasi dari salah satu puisi Andy Gunawan. Aku pikir kamu pun pernah membacanya. Maaf aku tak se-puitis Sapardi atau mungkin Pram yang begitu cekatan dalam meramu kata-kata. Aku hanya bisa menulis dan mereka ulang apa yang aku rasakan dalam sebuah interpretasi. Maaf juga jika kau rasa puisi ini menjadi sesuatu yang buruk dari aslinya.

Hari ini adalah hari yang (kalau bisa) aku hilangkan dari memori ku. Hari dimana semua perasaan bercampur aduk jadi satu. Marah, sedih, gusar, atau kesal beririsan tipis dengan rasa lega dan bahagia. Seperti sudah kubilang aku bukan orang yang mudah berbicara. Semua aku rasa jauh lebih mudah aku tulis atau aku gambar. Meskipun tidak semua orang dengan mudah dapat memahaminya.

Tapi sudahlah, aku bisa apa? Seperti yang sering kau bilang. Aku cukup berbesar hati dan ikhlas. Aku menyukaimu tanpa alasan tanpa pula pamrih. Jadi aku mohon jangan berpikiran sedikitpun apa yang aku buat adalah pamrih. Dan aku yakin kau tidak mungkin berpikiran seperti itu.

Sudah lama aku ingin bicarakan ini denganmu. Tapi mungkin tuhan belum mengijinkannya. Maka dari itu, hanya bisa kutulis kembali dalam catatan kecil ini. Nona, bukan aku tak tahu diri tapi pada akhirnya memang aku tahu apa dan siapa yang kau tunggu. Tapi tak sedikit pun menciutkan nyali untuk mundur, meskipun aku sadar aku hanya prajurit biasa yang di hadapkan dengan goliath. Senjata yang kumiliki hanyalah keyakinan dan harapan. Itupun kau yang ajarkan.

Tapi semua kembali lagi pada nalar. Ketika semua orang berkata tentang seribu harapan dan kemungkinan, aku berpegang pada rasionalitas dan keharusan. Karena dari sekian banyak kemungkinan tidak semuanya harus. Nona, mungkin kau bosan mendengarnya tapi memang benar aku menyimpan rasa sayang yang begitu besar. Walaupun pada akhirnya hanya bisa ku simpan sendiri. Bukan tak mau kubagi tapi biar aku tabung hingga waktunya nanti kubagi. Sama halnya dengan teori menabung rindu milikmu.

Kehilangan? Jelas! Tapi rasa sayang ini aku rasa lebih besar dari sebuah kehilangan. Lelah? Tidak! Aku mohon jangan pernah bertanya tentang rasa lelah, karena sudah pasti jawabannya tidak. “Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kau kepadaku, terserah. Itu urusanmu,” ujar si Ayah urakan itu. Aku yakin kau paham betul konteks kalimat itu.

Tapi Nona, tak perlu kau khawatir. Aku masih dibatas kesadaran yang paling wajar. Jangan merasa terganggu olehku. Jangan pula merasa terhalangi. Jalani apa yang kau yakini. Mencintaimu dari jauh sudah cukup bagiku. Aku minta maaf jika memang selama ini aku jadi penghalang dalam setiap langkahmu. Percayalah.

Biarkan aku menyayangimu cukup  dalam sunyi. Seperti kau bilang “Ada sunyi yang tak bisa dibagi, ada sepi sendiri yang menenangkan hati.”

Terimakasih…

Kira-kira begitulah isi dari surat elektronik yang saya kirimkan kepada  “Si Nona Yang Kutunggu” (dulu). Memberanikan diri dengan kemampuan menulis seadanya. Sudah sekira 4 tahun belakangan memang tidak ada seorang perempuan pun yang mengalihkan isi pikiran saya selain Ibu saya sendiri. Barulah di awal tahun kemarin saya mengenal sosok yang cukup pendiam ini. Perilakunya cukup misterius, namun pribadinya yang unik, mudah akrab, serta “berpendirian” membuat saya sulit tidur nyenyak selama setahun kebelakang. Singkat cerita, sama seperti yang sudah ditulis, bahwa Tuhan memang bekerja secara misterius. Ada hal-hal yang harus di maklumi dan di ikhlaskan tanpa harus menggerutu. Dalam setiap perencanaan tak selamanya akan berhasil sempurna, pun di setiap doa yang terpanjat tak semua mesti terkabul. Pada akhirnya kesunyian adalah tempat paling nyaman untuk bersandar.

Kemanakah Ikhlas Itu ?    

Kata orang ilmu ikhlas itu adalah ilmu yang paling sulit dikuasai. Baik secara pemahaman kontekstual, apalagi pada tataran prakteknya. Dan hal itu memang terbukti sulit! Perkara ini yang saya ingin luruskan biar orang-orang “sok tau!” di luar sana tak banyak komentar. Putus cinta, ditolak, di khianati? Itu semua hal biasa dan mendasar bagi siapa pun. Yang paling menyedihkan adalah kehilangan teman-teman satu kumpulan dengan perkara sepele “gara-gara cewe”. Terdengar tolol dan menggelikan. Ini bukan sebuah pembelaan, tapi jika kalian disana membacanya dengan pikiran jernih pasti akan mengerti masksudnya. Saya sama sekali tidak MENGELUHKAN masalah tolol seperti tikung-menikung dan hal kampungan lainnya. Yang saya keluhkan adalah pribadi seorang kawan yang sangat pi-anjing-eun se-kaa-lii! Kasar? Tidak juga! Jauh lebih kasar sudah salah malah menyalahkan orang. Jauh lebih hina berteriak brengsek padahal dirinya sendiri brengsek, dan yang paling mengkhawatirkan adalah menghasut orang untuk membenci orang lain dengan dengan alsan dan masalah yang sama sekali cemen! Sampai-sampai becandaan jaman anak ingusan di ulang lagi, ya “blok-blokan”. Hey kawan, masih ingatkah kita berbagi tawa di ruang bersofa itu ? Dimana cerita menyenangkan sampai kabar menyedihkan kita bagi bersama dalam petikan gitar dan suara pas-pasan yang dimiliki mengiringi senja yang perlahan menghilang di tiap minggu sorenya. Sekali lagi ini bukan masalah “perempuan”, tapi individu dan kalian tak perlu menghilang. Silahkan menghakimi, tapi bukan malah berjarak dan hilang. Karena tak sedikit pun ada dendam di hati ini, malah rindu yang membuncah. Kecuali bagi si “Tai” itu! Pahamilah, jangan hanya karena muka cemberut, omongan sinis, dan diamnya sesorang berarti mendendam. Meski memang pada akhirnya bagi teman kalian ini (kalau kalian masih menanggap ku teman), kesunyian lagi-lagi menjadi tempat yang nyaman untuk bersandar.***

 

Coincidence bahasa kerennya!

Teruntuk sahabat yang ‘indah’ sendiri disana. Karena sebuah ‘kebetulan’ adalah cara kerja nyata dari Tuhan paling misterius untuk mempertemukan seseorang. Bentuknya bisa apa saja, bisa jadi seperti penggalan adegan film televisi (FTV) yang ‘alay’ tiba-tiba bertabrakan di tengah pasar kemudian saling meminta maaf, untuk kemudian kenalan dan bertukar nomor telepon. Mungkin juga seperti balada tukang ojeg yang ditaksir penumpang cantik, dan jatuh cinta lalu tidak disetujui keluarganya, kemudian diajak kawin lari dan ya seperti biasa happy ending. Mungkin! Tapi apa yang kita alami ini adalah sesuatu yang rumit dan jauh lebih sulit di tebak ketimbang penggalan FTV tadi. Bagaimana mungkin bisa ditebak, seseorang yang tadinya tidak kenal satu sama lain akhirnya bisa berteman, meski sebenarnya masalah (dengan orang lain) yang menjadi awal mula pertemuan kita. Sampai pada urusan menikmati kuningnya senja dari tempat tinggi di setiap sorenya, atau kegemaran membaca lirik dan mendengarkan Efek Rumah Kaca yang ahh, kalau dipikir tidak masuk akal kalau bukan sebuah ‘kebetulan’. Kebetulan yang buakan di buat-buat, apalagi yang dipaksakan.

Hey sahabat, menutup akhir tahun 2014 jauh lebih terasa menenangkan ketika kita bisa saling memahami meski lewat pesan singkat dalam layar handphone berukuran 3,5 inchi. Lebih berwarna ketika sembunyi-sembunyi makan bakso ‘hipster’ yang di lanjut makan eskrim di restoran siap saji. Lebih melankolis ketika akhirnya kita satu sama lain berusaha ‘jujur’ pada diri sendiri tanpa ada yang harus ditutupi dan sakit hati kalau kita ternyata memang saling mengaggumi dan mencinta. Meski semua terungkap dalam satu kalimat ‘cukup tau sama tau’. Semua berawal dari kebetulan dan biarlah ini juga berakhir kebetulan. Siapa tau kita memang jodoh, percayakan sisanya pada Tuhan, dan ya beginilah hidup adanya, terlalu ‘Indah’ jika disesalkan. 

Satu hari di bulan Oktober…

Malam itu, masih kuingat jelas wajah resah berlinang air mata yang perlahan bersandar lesu di pundak ini. Di pundak yang juga perlahan basah menampung keresahan. Ada ketenangan menghangati tubuh yang menggigil menunggu pagi, ketika akhirnya kau tidur tanpa tangis dan meracau. Saat kau tidur, aku adalah Paulo Colelho yang berbangga hati karena bisa menciptakan alkemis yang melegenda itu. Atau Sisiphus yang berhenti menggulirkan batu dari masa ke masa. Aku bahagia! Karena wajahmu memaparkan negeri damai, bertanah melati.

Sosok yang selama ini saya tidak harapkan kembali dalam kehidupan tiba-tiba datang bagai petir di siang bolong. Tanpa ada aba-aba sebelumnya dan tidak menyisakan sedikit pun celah untuk bernafas, dengan perlahan namun pasti sosoknya kembali meracuni hati dan pikiran. Ingatan buruk empat tahun kebelakang memang tak mungkin diulang, tapi kenangan tak kunjung dapat di hapus. Tanpa harus mencari siapa yang benar atau salah, saya mencoba memaklumi dengan segenap tenaga yang tersisa. Mencoba waras di ambang kesadaran yang perlahan buyar. Seiring harap yang kian lantang terucap, dan doa yang makin pekat terpanjat saya memaafkan dia.

 

Kebuasan harimau sumatera bersama mamah-mamah ‘metal’ dari Amrik…

Saya masih ingat malam itu adalah malam minggu. Malam yang biasanya orang pakai untuk pacaran, malah saya pakai untuk bekerja (derita jomblo). Melihat jadwal di handphone, saya pun bergegas menuju venue yang kali ini terletak di salah satu dataran tinggi kota kembang. Awalnya sempat ragu apa ‘si jagur’ yang sudah dua bulan belum sempat saya service akan ngadat di jalan atau tidak. Tapi demi sesuap nasi dan sebongkah berlian (katanya) saya terus memacu ‘si jagur’ dengan akselerasi yang maskimal menuju Maja House, jalan Sersan bajuri, Bandung.

Sebenarnya acara ini cukup unik, entah kadar ke-hipsteran saya yang masih rendah atau memang panitia acara ini memang sangat out of the box. Sepengetahuan saya biasanya Maja House ini digunakan oleh para penikmat musik-musik so-called EDM atau dugem biasa saya sebut tapi malam minggu 12 April 2014 kemarin menjadi malam minggu terbising yang pernah ada di Maja House.

Ada SSSLOTHHH unit sludge metal lokal favorit saya, belum lagi segerombolan southern son berlabel ((AUMAN)) yang jauh-jauh datang dari Palembang, sampai yang paling jauh adalah mamah-mamah metal seksi Laura Pleasant yang menggawangi Kylessa, band sludge metal underated berbahaya asal Savannah, Georgia, Amerika Serikat. Nama acaranya adalah Maternal DSSTR Showcase Vol 3. Acara keren ini digagas oleh Maternal Disaster dan Live One. Mereka sebelumnya sudah mendatangkan Dead In The Dirt dan (((SATAN!))), dalam dua acara sebelumnya. Dan malam itu pun dibuka dengan apik oleh SSSLOTHHH. Materi  andalan dari debut album Phenomenon mereka geber  selama 30 menit dan sukses membuat suasana cukup panas dan mengawang, meskipun masih banyak penonton terlihat malu-malu untuk sekedar ber-hadbang. Band ini epik, vokalisnya jarang bicara, aksi panggungnya pun cenderung pasif, tapi justru itulah yang membuat band menjadi band ini underated versi saya. Musikalitasnya? Tak perlu ditanya salah satu personilnya jebolan Hark It’s Crawling Tar Tar, belum lagi referensi musik mereka begitu kaya, hingga orang yang terlibat dalam produksi album mereka yang bukan sekedar orang ‘biasa’.

Rasanya tidak afdol mendengarkan band-band yang saya sebut tadi tanpa asupan fermentasi gandum yang di tempat ini (Maja House) di jual dengan harga yang cukup brengsek bagi kantong saya! Sembari menunggu penampilan berandalan asal selatan sumatera, ((AUMAN)) saya menepi di pojokan untuk menyegarkan diri dengan sebotol beer ditangan. Datang tanpa dibayar, menyiapkan set dengan ‘roadies’ atas nama pertemanan, sungguh komitmen dan semangat DIY yang patut di apresiasi. Tidak lama berselang saya kembali ambil posisi untuk memotret. Maklum saking multi talent-nya saya bekerja menulis dan memotret sekaligus (sebuah keterpaksaan sebenarnya). Saya segera berdesakan di samping kanan panggung mengambil posisi aman dengan pertimbangan lensa kamera yang seadanya.

Tak banyak bercuap-cuap, kelima pemuda yang concern dengan konservasi harimau sumatera ini mengambil alih panggung. Dengan intro Year Of The Tiger yang anthemic sukses memprovokasi penonton, bibir panggung kini mulai di padati tampang-tampang sangar yang setiap saat bisa saja naik panggung untuk kemudian terjun bebas ke arah kerumunan saling tindih satu sama lain. Di lanjut dengan Suar Marabahaya, Son Of The Sun makin membuat penonton liar. Band ini adalah salah satu band ‘keras’ yang cukup cerdas dan sukses untuk membuat crowd terlibat dalam koor masal. Bahkan Rian Pelorr sang vokalis yang dulu sempat bersama Dagger Stab saat masih di Jakarta, tak segan untuk turut berbaur dan berbagi keringat bersama penonton.

Selalu menarik saat menyaksikan mereka manggung di Bandung karena memang langka. Ini kali kedua saya menyaksikan mereka langsung setelah sebelumnya mendapat kesempatan di Bandung Berisik 2013 silam. Penampilan gahar, berkeringat dan intim ini ditutup dengan manis lagi-lagi dengan lagu yang anthemic, W.K.G.G. Buas, seperti harimau sumatera! Dan belum lama saat saya menulis tulisan ini sekarang, mereka baru saja menyatakan diri bubar! Fuck, so sad to hear that..

Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga diatas panggung. Ya, Kylessa band sludge metal yang berpersonilkan ‘mamah-mamah metal seksi’ Laura Pleasant (gitar/vokal), Philip Coupe (vokal/gitar), Chase Rudeseal (bass), Carl McGinley (Drum), Eric Hernandez (drum) sukses ‘membisingkan’ Bandung dengan lagu pembuka Bottom Line. Dilanjut Don’t Look Back, Tired Climb, Quicksand, terus di geber dan memancing crowd makin liar danstage dive yang berulang-ulang. Setelah dirasa cukup mengambil gambar, hasrat untuk berkeringat yang kian tak terbendung ini akhirnya mengalahkan kehawatiran akan sakit pinggang yang belakangan mulai menjangkiti saya hahaha… Setelah tengok kanan dan kiri, kebetulan ada kawan saya seorang jurnalis juga yang sedang bebas tugas. Setelah melobi dan sedikit basa-basi, saya dengan kurang ajarnya menitipkan tas kamera untuk kemudian berbaur di kerumunan. Nampaknya lagu milik Meggy Z tidak berlaku bagi saya, atau mungkin harus diganti liriknya. Karena bagi saya “lebih baik sakit hati, daripada sakit pinggang”. Hanya dua lagu yang sanggupi untuk berjibaku dengan penonton lainnya. Yah, lumayanlah cukup berkeringat meski sakit di pinggang yang justru lebih terasa.

Total sekira 13 lagu mereka bawakan malam itu, termasuk Hollow Severer [“You got it!”] sebagai encore. Penantian lama para penggila sludge metalterbayar lunas. Bahkan diamini sama oleh salah satu penonton  yang sujud sukur di hadapan panggung. Malam minggu kali ini itu bukan seperti malam minggu biasanya, tapi jadi malam minggu yang paling bising yang pernah ada di Bandung. Dan jadi malam yang penuh kalimat ‘anjing, poll pisan’ yang terlontar dari para penonton saat berbondong-bondong pulang. Pun ini menjadi salah satu konser terbaik yang sempat saya tonton dan abadikan.

Jagger Meister rasa Akihabara…

Tak pernah sebelumnya terlintas dalam pikiran saya untuk menyaksikan idol grup yang belakangan cukup fenomenal dikalangan abege bahkan scenester Bandung dan Jakarta bernama JKT48 ini. Tidak mungkin! Sampai sampai saya pernah berujar di kasih tiket gratis atau jatah liputan pun saya pasti menolak! Tapi toh Tuhan berkata lain, dan akhirnya saya harus menelan ludah sendiri meski faktor keterpaksaan berperan lebih besar disana. Dan saya pun menyaksikan pertunjukan yang menggelikan dari idol group tersebut di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.

Memasuki akhir Desember tahun lalu dengan kondisi keuangan diambang kebangkrutan, emosi yang tidak stabil dengan ‘kebrengsekan’ yang hampir sepanjang tahun dialami kian meracuni pikiran saya bahwa tahun ini akan ditutup dengan kegalauan. Terlebih saya harus menyaksikan pertunjukan idol grup ini, lengkaplah sudah penderitaan ini.

Jadi begini awalnya (sedikit kronologi), ditengah kondisi keuangan yang kurang bersahabat saya memutuskan untuk bertandang ke Jakarta untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi dengan kantor yang belum terselesaikan. Lumayan lah buat tahun baruan, pikir saya. Tapi yang jadi masalahnya adalah saya sendiri tidak memiliki cukup uang untuk ongkos ke Jakarta. Sampai pada akhirnya datanglah tawaran yang menyenangkan sekaligus menggelikan dari teman-teman tongkrongan. Tawarannya adalah saya ‘nyupirin’ mereka untuk menonton konser 3rd Anniversary JKT48. Penawaran yang menggiurkan bukan? Selain memang tak ada pilihan lain ini kesempatan saya bisa berangkat ke Jakarta gratis tanpa keluar ongkos speser pun. Selain itu saya pikir toh tak ada salahnya saya hanya nge-drop mereka di senayan untuk kemudian saya tinggal ke daerah panglima polim sebentar, lalu nanti setelah mereka beres nonton konser saya jemput kembali di senayan. Sederhana bukan?

Tapi memang kenyataan tak selalu sesederhana yang dibayangkan. Saya tidak sadar berada di Jakarta hari sabtu, dan kantor saya libur. Itu petaka pertama, yang disusul petaka-petaka lainnya. Sesampainya di venue dengan harapan yang sedikit mengendur setelah tau tidak ada siapa pun di kantor, saya harus menerima kenyataan pahit lainnya kalau saudara saya destinasi alternatif lain yang akan saya kunjungi juga tidak ada di rumah. Pilihan terakhir adalah saya tinggal di mobil sampai konser beres sambil meratapi isi dompet yang nyata-nyata tidak akan terisi hari itu juga dan.

Baru dua langkah terhitung saat menuju mobil di parkiran, datanglah seorang sahabat si jurnalis bengal majalah dedek-dedek tetangga yang memaksa ditemani liputan konser menggelikan ini hahaha. Lagi-lagi tak ada pilihan lain akhirnya saya benar-benar menelan ludah sendiri, kalian boleh mentertawakan saya untuk hal itu. Berada di dunia antah berantah, itulah yang saya rasakan. Menjadi aisng diantara ribuan orang (mungkin) yang sedang bergumul dengan  libido dan fantasi seksual ala grup idol ini. Mungkin saya saja yang terlalu skeptis, tapi setelah beberapa lagu menonton dan memperhatikan kelakuan para penonton yang mayoritas laki-laki lintas usia dan suku bangsa ini saya makin muak dengan konser ini.

Belum lagi lirik-lirik yang cukup eksplisit dan tidak layak dicerna seperti “ciuman kidal” atau “virgin love” yang setelah saya amati terkesan mengajak atau secara tidak langsung ajakan untuk “memerawani” lawan jenis, shit! Skip, sisa konser lainnya tak perlu saya ceritakan karena saya lebih banyak menghabiskan waktu merokok di luar. Tapi petaka belum usai sampai disitu, karena teman-teman yang memberi tebengan menonton konser ini selama dua hari berturut-turut? Apaaahhh? Yauwoohh, tolong baim yauwooh…Apa saya harus menikmati kebodohan ini ‘lagi’ ? Sesampainya di kost-kostan harian yang kami sewa tiga kamar secara bersama-sama barulah kabar bahagia datang. Sebuah kalimat ajakan “Fan, besok lo ke Cadas Cult aja bareng gue..” begitu manis terasa di telinga. Tanpa pikir panjang saya mengamini ajakan tersebut. Dari pada saya harus kembali mengulangi kesalahan yang sama, telinga ini rasanya jauh lebih nyaman mendengung saat berada di sebelah sound system ribuan watt dengan musik metal.

Malam beranjak menjadi pagi, ditemani kopi dan lagu ‘Jakarta pagi ini’ serta cuaca yang mulai tidak ramah saya hanya bermalas-malalsan di kamar. Karena jadwal mengantar teman-teman menonton ‘lagi’ JKT48 adalah jam 12 siang, sedangkan Cadas Cult yang akan saya tonton satu jam setelahnya. Diselangi obrolan kecil tentang kegilaan teman-teman saya yang menghabiskan uang jutaan dalam waktu dua hari, saya dan teman jurnalis satunya hanya bisa cekikikan.

Cukup bicara JKT48 nya, setelah saya mengantar mereka ke senayan saya langsung bergegas menuju Bulungan Outdoor, venue tempat Cadas Cult berlangsung. Event yang di gagas oleh dua band metal kenamaan ibu kota ini mengklaim dirinya sebagai event paling ‘cult’ di tahun kemarin. Beberapa pengisi acaranya memang sudah tidak asing lagi bagi saya. Namun yang menarik ada beberapa band baru yang mencuri perhatian seperti Poison Nova unit nu-crusade black metal asal Cirebon yang dibawahi lawless record, serta SlutGuts band crust hardcore depok yang sangat ngebut dan ugal-ugalan besutan Argo veteran yang kembali turun gunung. Selain tentunya Seringai dan DeadSquad si empunya acara.

Sebenarnya ini adalah gig metal yang biasa saja, tapi menjadi luar biasa bagi  saya karena baru kali ini saya merasakan atmosfer skena metal ibu kota sampai beres. Biasanya hanya selewat-selewat. Penonton yang jauh lebih apresiatif di banding kota saya sendiri, pengisi acara yang cukup variatif sangat menghibur dan membuat saya lupa kalau saya sedang bangkrut. Meliput gig intim di Jakarta jarang saya lakukan karena biasanya hanya event-event besar yang saya rasakan itu pun kalau saya disuruh meliput. Tapi akhirnya event ini juga yang membuka mata saya kalau memang musikk adalah bahasa yang universal dalam dunia praktik bukan teori. Bukan hanya dapat pengalaman baru, tapi teman baru. Saya termasuk beruntung karena bisa masuk ke area back stage. Berbincang ringan dengan Arian13, belaga talent bareng anak-anak Revenge dan berbagi gelas Jagger Meister bersama Om Coky di akhir acara, meski saat kembali ke Senayan tetap saja ‘jus rusa’ tersebut berubah rasa menjadi sake ala Akihabara.

Ah, Tuhan terimakasih banyak atas kesempatan yang luar biasa selama satu tahun kemarin. Keberengsekan, rasa marah, benci, senang dan bahagia adalah nikmat kecil yang tak bisa terbayar oleh apa pun. Maafkan saya jika mungkin saya masih mengeluh, menggerutu, bahkan mendustakan nikmat Mu. Meski saya belum bisa se-ikhlas bang Jack, tapi saya tak pernah berhenti bersyukur atas kehidupan yang ‘indah’ begini adanya. Tak ada niatan sedikit pun untuk membual, tulisan ini hanya sebuah rangkuman ingatan yang coba saya syukuri dan tulis ulang. Sekali lagi jika ini dirasa tidak penting, abaikan saja.

Bandung, 26 Februari 2015

00.19 – Di Pojokan Cafe Gedung Tua, ditemani Danilla dengan Senja Diambang Pilu-nya

 

 

 

Sebuah Kata Maaf (Bagian 2)

Kemenangan Dalam Sepi

Di saat sedang rebahan dan mengehela nafas panjang, tiba-tiba telepon genggam ku berdering kembali. Hentakan suara drum yang repetitif, disertai raungan riff gitar yang cepat dan groovy dalam lagu Born To Lose milik Motorhead membuyarkan ingatan-ingatan yang sedang aku coba reka ulang. Ah! Apalagi ini editor ku? Sementara pikiran ini terus berkejaran dengan rasa marah yang aku sendiri tidak paham apa mau ku sebetulnya. Semua kewajiban edisi ini sudah seselsai aku kerjakan dan dikirim tepat sesuai dengan jadwalnya. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, sambil tetap berpura-pura tidak ada masalah saat mengangkat telepon.

“Lo tau waktu deadline kan?,” kalimat pertama yang terucap dari pria bengis di  ujung telepon.

“Tau Bang, emang ada yang kurang? Kenapa nggak di update di grup?”

“Ini artikel Pidi Baiq mana? Ko, nggak loe bikin? Lo harusnya tau, profesi kaya lo ini deadline ibarat Tuhan lo! Hidup mati lo bergantung sama deadline, paham!!”

“Pidi Baiq? Lah, bukannya Rian yang ngerjain, gue sih ngerjaian apa yang ada di TOR aja”

“Emang di TOR siapa yang garap? Rian? Bentar gue cek.”

“Anjing, beneran Rian yang garap. Sorry nih boy gue marah-marah sama lo”

“Nggak apa-apa bang, namanya juga deadline. Hidup mati kita kan disitu, wajar stressing tinggi, hehehe” jawabku, sambil menahan tawa.Karena kali ini aku menang telak!

“Oke, sorry nih. Happy weekend!” tutup editorku, dengan sedikit rasa malu.

Kemenangan telak atas editor ku hari ini menjadi sedikit hiburan dari sekian banyak kegelisahan yang dihadapi. Seharian ini aku hanya berkutat dengan tulisan dan foto di kantor. Belum lagi sebuah telepon yang mebuyarkan konsentrasi, bolehlah aku sedikit melepas tawa manis sebagai tanda kemenangan dalam sebuah sepi, di  penghujung hari. Matahari perlahan mulai menyembunyikan dirinya. Sambil membereskan barang-banrang, dari jendela kantor aku melihat terik-teriknya mulai membias. Menghasilkan warna jingga yang kemudian menguning dan menenangkan hati. Ah, Senja! Aku selalu suka senja, dia selalu menjadi pengingat hari berganti. Mengingatkan kita agar jangan pernah lupa beristirahat dan bersyukur, karena masih ada esok hari yang harus di hadapi.

Satu hal yang aku lupa, ini adalah hari Jumat. Waktu yang selalu menyebalkan bagi orang-orang yang tinggal di Bandung. Karena harus berebutan jalan dengan wisatawan dari kota lain, Jakarta khususnya. Niat ingin pulang ke rumah, aku urungkan. Terlintas dalam pikiran untuk mencari tempat menyendiri.Ya, dalam kondisi seperti ini aku lebih senang menyendiri, ketimbang harus bertemu banyak orang. Aku tidak ingin merusak keceriaan orang lain dengan keluhan-keluhan yang terlontar, nantinya. Sebelum terjebak macet, aku putar balik “Si Jagur” motor tua kesayangan ku menuju kawasan Dago pojok. Menuju sebuah beerhouse kecil yang tempatnya cukup nyaman untuk menyendiri.Sebelumnya aku berhenti sejenak di sebuah kios pinggir jalan untuk membeli rokok, dan mematikan telepon genggam. Aku tidak ingin di ganggu malam ini! Aku hanya ingin sendiri dan menyepi. Karena ada sepi sendiri yang bisa menenangkan hati, ada sunyi yang tidak bisa dibagi dengan siapapun.

***

Merekonstruksi Kenangan

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Tugasnya kini digantikan oleh lampu-lampu penerangan jalan yang menemani para penikmat dan pekerja malam. Waktu menunjukan pukul enam lebih tiga puluh menit. Akhirnya aku sampai di tempat tujuan setelah melewati ‘rusuhnya’ jalanan kota. Aku bukan lari dari masalah, ritual beer ini semata-mata hanya untuk stimulus otak yang mulai tumpul dalam kondisi seperti ini jika dipaksa merekonstruksi kenangan. Seperti biasa, jika aku datang sendirian kesini aku memilih tempat duduk di meja bar paling kanan. Tempatnya ada di pojokan, agak tersembunyi karena terhalang oleh sebuah tong kayu besar yang berisikan draft beer hasil home brewing ciri khas beerhouse ini. Malam ini aku hanya memesan satu pitcher besar draft beer, lengkap ditemani secarik kertas dan pinsil untuk menggambar. Satu tegukan pertama terasa begitu pahit, seiring dengan ingatan yang berjalan-jalan jauh pada kenangan empat tahun silam.

Dilla. Ya, aku masih ingat betul namanya. Bahkan tanggal lahir serta alamat rumahnya. Sosok manja, periang, cerewet, dan sesekali menyebalkan. Sosok yang suka atau tidak suka harus aku akui menemaniku melewati masa-masa sulit selama satu tahun setengah. Lawan bertengkar sekaligus teman berpikir yang paling sulit aku taklukan. Sosok yang mengajarkan aku arti sebuah tawa. Dia jugalah yang mengajarkaan aku bagaimana harus bersikap menjadi seorang teman, pacar dan kakak dalam waktu yang bersamaan. Pendeknya pada saat itu aku merasa sebagai seseorang  yang paling beruntung karena memiliki teman berbagi seperti Dilla.

Aku dan Dilla adalah teman satu kampus, namun berbeda fakultas. Memiliki pasangan satu kampus bisa jadi hal yang menyenangkan sekaligus hal yang paling buruk, pada akhirnya. Kampus tempat aku dan Dilla berkuliah ini bukanlah kampus favorit di Bandung, tempat kuliahnya pun kecil dan lingkungannya seputaran itu saja. Belum lagi mahasiswanya mayoritas berasal dari luar kota. Termasuk Dilla yang menghabiskan masa SMA-nya di di luar Bandung.

Aku bukanlah mahasiswa populer di kampus, bukan pula aktivis kampus. Aku malas bergaul di kampus. Waktu ku lebih banyak di habiskan untuk berkegiatan di luar kampus. Karena aku bekerja paruh waktu untuk tambahan uang jajan kuliah. Makanya aku memiliki teman jauh lebih banyak di luar kampus. Terlebih, aku pikir pergaulan di kampus ini tidak sesuai dengan ekspektasi ku.

Mulai mengenal Dilla pada pertengahan semester dua perkuliahan. Berawal dari sebuah kebetulan di lorong kampus, singkat cerita hingga akhirnya kita berpacaran. Dilla adalah mahasiswa yang cukup dikenal di kampus, karena dia anggota himpunan. Lain di kampus lain pada keseharian. Aku jauh lebih mengenal sosoknya di luar kampus. Dilla adalah anak rumahan yang jarang sekali bergaul. Lingkungan pertemanannya hanya seputaran rumah dan kampus. Tipikal anak bungsu memang. Dia bungsu dari dua bersaudara, dan kakaknya laki-laki.

Meskipun jarang bergaul, ternyata di kota asalnya dia adalah seorang penyiar di radio lokal. Karena salah satu hobinya sama denganku, mendengarkan musik. Meski dari sisi selera kita berdua jauh bertolak belakang. Pernah suatu hari ia berkata kalau ingin kembali siaran, tapi di Bandung. Melihat minat dan bakatnya aku berinisiatif mengenalkannya pada beberapa temanku yang memang bekerja di salah satu radio. Sampai pada akhirnya dia berhasil menjadi penyiar di salah satu radio di Bandung. Aku bangga di satu sisi, namun di sisi lain ke khawatiran muncul. Sebuah ketakutan akan kehilangan mulai menggerogoti dalam hati.

Pacaran bukan soal komitmen saja tapi lebih pada kebebasan. Ketika satu diantara kita  masih melarang-dilarang-terkekang, mana mungkin bisa mengenal satu sama lain. Sebuah hubungan menjadi sesuatu yang salah ketika kita membuatnya menjadi sebuah aturan baku. Setiap hari harus antar jemput, setiap hari harus sms, setiap hari harus bertemu dan seterusnya. Hubungan seperti itu hanya sebuah pengulangan, tanpa ada makna pembelajaran di dalamnya. Meskipun demikian aku sadar diri, dan tetap bertahan. Karena aku sayang Dilla. Meskipun bagi sebagian orang alasan ‘cinta’ merupakan sebuah pembodohan.

Bertemu setiap hari tentunya menyenangkan, pada awalnya. Tetapi intensitas yang sering berulang, toh menimbulkan rasa jenuh juga. Satu yang tidak kita sadari pada saat itu adalah komunikasi. Meskipun hampir setiap hari bertemu, tidak menjamin komunikasi yang dijalin itu purna. Terkadang segala sesuatunya menjadi samar, bahkan bias. Karena semua hanya terlihat dari permukaan tanpa bisa menyelami bagian paling dalam dari hubungan yang dijalani. Sejak awal September di lorong itu, hari dan bulan-bulan berikutnya tidak pernah lagi sama, yang ada dalam pikiran hanya kata ‘datar’.

Bersambung……