#DaftarPutar; Menjemput Pagi

Mendengarkan musik adalah sebuah terapi bagi saya. Setidaknya, ketika tak ada seseorang dalam keadaan terburuk sekalipun yang bisa di ajak bicara, musik mungkin bisa jadi salah satu teman penghibur atau bahkan juru selamat. Dalam edisi susah payah untuk ‘membiasakan’ kembali menulis ini, saya akan berbagi daftar putar musik dalam berbagai platform yang saya gunakan yang paling sering mengisi hari-hari saya (yang mungkin biasa saja bagi kalian) di setiap minggunya. Kali ini saya berbagi daftar putar di waktu-watu saya menjemput pagi. Akan di update tiap akhir pekan, mungkin juga tidak tergantung koneksi internet kantor. 

Liz Phair – Exile In Guyville
Pertama kali mengenal perempuan ini justru melaui album sophomore-nya Whip-Smart. Saya dapat dari seorang teman yang memang memiliki selera musik yang cukup ajaib melalui sharing USB. Lagu yang pertama saya dengar secara acak adalah Supernova, lagu ini pula yang membawa saya mencari tau lebih banyak tentang perempuan pengusung alternative /grunge-pop ini hingga akhirnya menemukan album perdananya Exile In Guyville. Meski banyak teman bilang Liz adalah penyanyi kelas dua, tapi saya menggemarinya. Satu minggu belakangan, Liz selalu menemani saya melamun sambil menatap nanar tumpukan pekerjaan yang tak kunjung saya kerjakan. Nomor-nomor sederhana dalam album ini seperti Divorce Song, Girls! Girls! Girls! dan Explain It To Me tak pernah terlewat untuk saya putar ulang.

The Sundays – Static and Silence
Awalnya saya menyangka mereka adalah The Cardigans, atau mungkin referensi  saya saja yang kurang. Album ini bagi saya adalah album terbaik mereka. Semua track-nya favorit. Tapi bagi kalian yang kali pertama mendengarkannya, untuk perkenalan, saya yakin Summertime, She, dan I Can’t Wait memiliki kadar adiksi yang paling besar untuk jatuh cinta pada band ini. Apalagi jika kalian memutarnya dengan volume minim dan sayup-sayup di penghujung malam yang gerimis.

The Cure – Pornography
Lupakan sejenak Boys Don’t Cry, Just LIke Heaven, bahkan Trust sekali pun. Setahun kebelakang saya gemar ‘digging’ kalau menurut teman saya penggila rilisan fisik. Bedanya, ‘digging’ yang saya lakukan sebagian besar saya lakukan di internet. Kalau ada budget lebih ya beli rilisannya, kalau enggak ya spotify atau download. Dari sekian banyak album The Cure yang saya tau, album ini ternyata punya efek palik muram bagi saya. Siamese Twins, selalu sukses membuat saya merinding tiap kali memutarnya. A Short Term Effect juga tidak kalah gelap, apalagi jika suasana hati tak karuan. Tapi diantara ke semuanya, Pornography adalah juaranya. Depresif, saya tak menyarankan kalian mendengarkan album ini, terutama lagu terakhir yang disebut dalam pengaruh substansi apa pun saat dini hari tiba.

Bruce Springsteen – Lucky Town

Umur 28 tahun, banyak perihal yang merubah hidup saya. Ada yang menyenangkan tak sedikit  pula yang menyebalkan. Atau bisa jadi saya memang belum siap menerima kenyataan dan ekspektasi yang sialnya tak melulu sesuai harapan. Album Lucky Town ini agaknya membawa energi positif bagi saya. Meski saya tak benar-benar menggemari “The Boss”, paling tidak saya percaya, meski satu atau dua album, karya legenda hidup folk-rock asal New Jersey ini harus dimiliki dalam deretan koleksi CD / Vinyl atau Mp3 kalian! If I Should Fall Behind, Living Proof, dan Local Hero adalah soundtrack yang pas untuk menertawakan kehidupan.

The Japanese House – Clean
Pulang kerja pagi buta, masih menyisakan revisi untuk siang hari, dan ketika sampai teras kunci rumah ketinggalan di co-working space. Ah, dasar freelancer! Menemukan bidang datar dengan permukaan yang cukup empuk di teras rumah adalah kemewahan. Rebahan sejenak, sambil menunggu orang rumah buka pintu dan mendengarkan satu atau dua lagu dalam album Clean bernuansa dreamy-pop milik Amber Bain yang lebih dikenal dengan moniker-nya The Japanese House adalah relaksasi.

Eleventtwelft – Self Titled

Yap! album ini adalah album teratas dalam daftar putar saya kali ini. Satu minggu ini hampir tidak pernah kurang dari dua putaran menemani saya menjemput pagi. Mendampingi saya menggambar, menulis, atau bahkan sekadar stalking instagram. Representasi paling mutakhir dari tagar #makeemogreatagain di (((skena))) saat ini. Jika Your Head As My Favourite Book Store adalah koentji maka perempuan berambut pendek dengan kaca mata adalah calon istri idaman!

 

Advertisements

Surat Rindu ; Untuk Kalian Yang Terbuang Dari Kumpulan

Untuk Angga, Bacang, Pepey, Kams dan Tomang dimana pun kalian berada. Turut berduka cita Mang, kuat, Gusti boga cara lain keur ngbagjakeun babeh!

Sinar-sinar menerjang, rentang waktu kian merenggang, hingga ruang kosong tidak lagi sanggup menolong. Mungkin, jika ada hari yang sangat ingin kau hapus dari ingatan, ini adalah waktu yang bertepatan. Belum kering peluh ini berkejaran dengan realitas. Tanpa sadar air mata berkelindan di ujung mata, perlahan menetes menyambut tangis yang mengeras dari sebuah teras.

Kawan, aku masih ingat betul rasanya badai dan petir bertubi yang singgah padamu pekan kemarin. Semua luluh lantah, menyisakan puing kekecewaan yang berserakan tak beraturan. Merisak batin, menghujam tajam hingga yang paling dalam meski terasa perlahan.

Badai itu pula yang menghantam keras aku disini sebelas tahun silam. Memaksa aku untuk berdiri di kaki sendiri. Menuntut aku untuk tau diri, mengajarkan aku untuk  membela diri sendiri, dan mendidik aku untuk mempelajari hari-hari hingga menjaga Ibu, meski sendiri.

Kawan, jangan anggap ini sebagai sebuah dikte. Tidak pula aku sedang menceramahi mu. Bukan juga aku menggurui mu. Ini adalah sebuah surat cinta dari aku, sahabat mu yang juga tak kalah terpukul oleh berita duka pekan kemarin. Kalimat-kalimat terangkum jelas dalam wajah mu yang lesu saat pagi kembali datang merenggut malam. Meski tak sedikit pula pengharapan dan kelegaan dalam suasana yang muram.

Kematian adalah puisi cinta Tuhan paling indah bagi ummatnya. Kesedihannya tak pernah bisa kita dustakan dengan rasa. Ia hadir tak pernah mengenal ruang, waktu, dan cara bekerja. Kadang kita hanya bisa terpana tanpa bisa meronta. Karena ternyata kita baru sadar kuasa Tuhan nyata adanya dan kita memang batu seada-adanya.

Kawan, ternyata menjadi mujahid itu tak melulu seperti artikel dan buku yang kita baca. Kematian juga tak mesti menyeramkan seturut nasibnya Widji Tukhul yang tak jua terang: masih hidup atau sudah berjumpa Pram di nirwana. Jika merujuk catatan editor website kegemaranmu, Indoprogress atau buku-buku kiri (konon) yang sering kita gilir bersama.

Kawan, jika alrmarhum Bapak meninggalkan mu di hari dimana kau sedang merancang masa depan. Ayah  meninggalkanku  bahkan di saat aku belum tau sama sekali apa dan akan bagaimana tujuan hidupku. Yang aku tau hanya bermain, bercita-cita untuk berbagi panggung bersama Sick Of It All, dan memutar dengan keras suara Eddie Vedder yang terekam dalam kaset pita bootleg murahan kala sendu mengganggu.

Kawan, beberapa waktu kebelakang, ada sepenggal kalimat yang konon menurut beberapa teman lain adalah sebuah pencapaian omong kosong paling mutakhir yang pernah aku buat. Aku pun tak pernah tau apakah membuat kalimat tersebut dalam kondisi sadar atau setengah mabuk. Yang aku ingat saat itu aku sedang memutar lagu berjudul ‘Putih’ milik band yang sama-sama kita puja, Efek Rumah Kaca. Tapi kira-kira begini bunyinya, “Karena hidup tak harus selalu rumit. Begitu pula kematian tak selamanya menakutkan. Selama harapan dan keyakinan masih bermekaran, sudah saatnya kita rayakan. Tak perlu bersedu sedan, karena bersyukur adalah keharusan.”

Kawan, perkara meninggalkan atau ditinggalkan adalah sebuah keniscayaan meski dalam kesementaraan. Suatu saat aku, kamu, Ibu dan mereka lainnya juga akan menyusul Ayah dan Bapak untuk bertemu kembali. Merayakan kematian dengan menuju kekekalan dalam keniscayaan.

Kala itu, emperan toko tempat mu bekerja adalah tempat yang santai untuk nongkrong.  Karena terus-menerus membuat nyaman untuk sekedar mabuk, bergunjing, atau omong kosong seputar skena musik sampai pada aktivisme kiri politik yang menggelikan dan sama sekali berjarak dengan apa yang kita lakukan. Hingga  “Lekra Tak Bakar Buku” , “Aku Ingin Jadi Peluru” dan tulisan Martin Aleida mulai mencuri topik di tengah sela obrolan tongkrongan.

Ketimbang sebuah bacaan yang menyadarkan, kumpulan wacana dan artikel tersebut waktu itu lebih terdengar seperti; bagaiamana agar terlihat keren dan kekinian diantara kumpulan lainnya. Buku tersebut begitu membawa suasana, hingga akhirnya kita menyimpan kekaguman untuk kemudian terus jatuh cinta pada topik yang sama. Kata per katanya begitu lantang menghantam. Metaforanya adalah kebanalan, yang begitu akur dengan diri dan situasi kita belakangan. Menyulut emosi, seakan dunia akan berakhir terlalu dini tanpa revolusi.

Kawan, belakangan aku tau kau tak terlalu suka keramaian. Bukan perkara menarik diri dari kumpulan, tapi ada hal yang begitu personal yang kami pahami betul kau tak mungkin membaginya. Ada rencana-rencana besar yang sedang kau gambar cetak birunya, untuk kemudian kau wujudkan dengan tangan mu sendiri sebagai arsitek ataupun mandornya. Aku cukup hafal kau tak lagi menggebu untuk hura-hura atau sekedar membuat kegaduhan dengan cabikan bas di ruang-ruang kecil kerumunan. Kami paham betul alasan mu.

Tapi bagi aku dan mereka yang ada di samping mu, kesedihan adalah sebuah pengecualian. Kami tak bisa membiarkan mu sendiri memikulnya. Meski, belum tentu kehadiran kami menghapus kesedihan mu. Tapi satu yang harus aku, kamu dan mereka pahami, bahwasannya bertemu, berkumpul untuk sekedar melepas tawa meski dalam kondisi berduka adalah sesuatu yang penting untuk tetap menjaga waras, mengikis bias-bias batas agar tak terhempas dalam mitos. Walau, sekali lagi, kami paham betul ada sepi untuk sendiri dan ada sunyi yang tak mungkin kau bagi.

Cepatlah bangkit dari kesedihan! Aku rindu bersamamu dan kalian. Aku rindu menghabiskan sepertiga malam dengan obrolan bodoh tentang masa depan. Meski belakangan kita berbicara banyak hal namun tak sedikit melupakan perihal. Aku tak mau lagi menghitung kehilangan meski ada yang tak lagi sama dan banyak yang masih tetap tak berbeda. Aku salah seorang yang percaya kalau hidup ini tak  ada jalan memutar, bukan perkara juga ingatan yang harus dikubur tapi nyali yang patut di ukur. Bukan takabur.

Ini sahur kedua pada puasa tahun ini. Malam begitu panas terasa di dahi, angin pun hanya sayup-sayup kering melewati. Aku tak sabar untuk berkumpul kembali. Dan seperti Babap bilang ; Kita hanya manusia dengan kebanalan biasa – biasa dan sama sekali bukan binatang jalang meski kadang terbuang dari kumpulan. Dan kita ingin hidup seribu tahun lagi!

 

 

Tulus – Ruang Sendiri

Tulus, Kampoeng Jazz - Irfan Nasution
Tulus, Kampoeng Jazz – Irfan Nasution

Edisi rindu menulis,

Saya pribadi termasuk orang yang jarang mengikuti solois pria Indonesia sampai beberapa album, langka. Namun ada satu nama dari skeian banyak lainnya yang cukup menyita perhatian saya. Ya, Tulus. Ketiga albumnya saya ikuti. Sejak kali pertama kehadirannya merajai frekuensi radio dengan Sewindu sampai dengan Sepatu yang sukses mengukuhkan ia menjadi rookie of the year di sebuah majalah musik ternama, dan serentetan penghargaan yang ia dapatkan setelahnya.

Saya bukan pengamat musik, tidak juga sok-anti musik arus utama dan tidak pula mendewakan musik-musik arus tepian. Tapi memang, sedikit banyak telinga saya agaknya sulit berdamai dengan musik ‘populis’dengan tema remeh-temeh penderitaan cinta kebanyakan. Namun, kehadiran pria bertubuh besar ini membuka wacana baru dan referensi musik yang saya dengar. Belum lama ini Tulus merilis single terbaru kedua miliknya berjudul Ruang Sendiri. Setelah sebelumnya mem-bridging Teman Tulus (sebutan para penggemarnya) dengan Pamit terlebih dahulu.

Kehadiran Pamit sendiri cukup mengejutkan bagi saya. Pertama, suasana lagu tersebut yang agaknya cukup ‘gelap’ bagi Tulus, dalam sudut pandang dan pengalaman musikal saya saat pertama mendengarnya. Kedua, karena mindset saya sendiri akan Tulus yang selalu terlihat ceria melalui pembawaanya yang tenang. Lagi-lagi itu versi saya, namun mendengarkannya cukup menyenangkan, ia berhasil menyajikan sesuatu yang cukup berbeda dan multi tafsir.

Pada Rabu (27/07/16) kemarin, Tulus melepas single terbarunya yang berjudul Ruang Sendiri melalui layanan musik digital, Spotify, secara serentak. Lagu yang didapuk sebagai single kedua ini menjadi pengantar berikutnya bagi Teman Tulus yang sudah menantikan album ketiganya yang akan datang, Monokrom.

Berbeda dengan Pamit yang cukup rumit. Eksplorasi Tulus dalam single keduanya ini terdengar sederhana tapi sangat mengena lewat melodi yang iya buat sendiri. Tak perlu berulang kali untuk mendengarkan lagu ini, cukup sekali dengar kalian akan sangat mudah mengikuti melodinya untuk bersenandung. Salah satu kelebihannya sudah pasti adalah lirik dengan diksi yang pas dan dekat dengan keseharian. Ia adalah salah satu penulis lirik sangat baik, apalagi yang saya tahu melalui sebuah wawancara dengannya saat saya masih mengisi salah satu majalah musik ibu kota, ia selalu memperbaharui KBBI miliknya dengan edisi terbaru.

Masuk ke ranah aransemen, Ari ‘Aru’ Renaldi kembali menjadi sosok penting bagi Tulus. Daya magis penata suara dan peramu rekam yang tak pernah absen sejak album pertama Tulus ini, bagi saya ia cukup sukses menhadirkan sudut padang baru bagi Teman Tulus khususnya dan pendengar lainya yang mengikuti Tulus sejak awal perjalanan bermusiknya (mungkin). Hadirnya banyak instrumen dalam single ini contohnya,  cukup menjadi pembeda yang mencolok dengan album sebelumnya, selain tema album tentunya. Pun, keterlibatan The City of Prague Philharmonic Orchestra, Republik Ceko  dalam lagu dan album ketiganya akan menjadi sesuatu yang patut dinanti. Melalui dua single-nya, saya pikir ini salah satu album penuh  solois pria yang wajib ditunggu tahun 2016. Tulus juga adalah salah satu penampil dengan kualtias live yang hampir selalu sedikit cela. Dengan didukung band yang pengiring yang mumpuni, penampilan live Tulus dengan materi barunya juga tidak boleh di lewatkan.

Mendengar ‘Ruang Sendiri’ ini memang seperti jalan cerita lagunya, butuh ruang, bebas dan sendiri. Sampai akhirnya kamu membangun jarak mu sendiri untuk memahami seberapa penting rindu, walau kadang lupa tentang sepi yang tak lagi bisa dirimu hargai.

Bandung – 29/07/16 – 00.57 WIB

Lupa(!)

Sekelumit keresahan dalam krisis usia seperempat abad menuju duapuluh tujuh yang keramat.

lupa/lu·pa/ v 1 lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi:
2 tidak teringat
3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dan sebagainya)
4 lalai; tidak acuh

Itu kira-kira pengertian kata ‘lupa’ menurut KBBI setelah saya berselancar di google. Lupa? Ya, manusia mana yang tak pernah lupa akan sesuatu, atau banyak hal lainnya dalam hidup. Terlebih jika manusia itu seperti saya, pelupa. Itu salah satu dari sekian banyak sifat buruk lainnya yang saya miliki. Contohnya ; lupa waktu, lupa shalat, lupa bersyukur, lupa diri, lupa bayar utang, lupa mandi, dan mungkin lupa sama kamu.

Mungkin (pasti) sudah banyak yang merasa di rugikan oleh sifat buruk saya itu, paling tidak diri saya sendiri yang merasakan secara langsung akibat dari sifat buruk tersebut. Belakangan, baru saya pahami bahwa hidup bukan perkara utopis macam ; masih muda senang-senang, sudah tua kaya raya, dan mati masuk surga bukan?

Tenang, ini bukan pencitraan, hanya saja saat ini saya sedang mencoba untuk tidak lupa diri. Perkara ‘lupa’ inilah yang akhirnya menuntut saya untuk berkontemplasi, belajar mengingat, untuk kemudian menyusun kembali daftar panjang dosa-dosa yang saya buat. Menyusun ulang rencana untuk membenahi setiap kekakacauan hidup yang saya bikin sendiri, dan yang terpenting adalah menyiapkan mental untuk berbesar hati mengakui setiap kesalahan yang sudah di perbuat.

Seperti sebuah quotes yang saya baca pada timeline path, “siapa pun kalian, dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf atas segala perbuatan saya yang dirasa merugikan”. Semoga kita bisa saling memaafkan, dan saya bisa menjadi orang yang lebih baik. Amin!

Meramu Sendu Dengan Lagu, Mengecap Rasa Dalam Nada

foto : diyphotography.net

Apa yang tidak lebih menyenangkan dari sepertiga akhir malam. Hening, menjelang petualangan pulang menuju dinding-dinding ruang tenang. Meraba sunyi, sambil meratap hari yang baru saja terlewati dalam letih yang menghampiri. Ada kalanya waktu-waktu tersebut berbuah sendu yang teramu dalam lagu, yang dapat dicecap rasanya dalam nada dan frasa. Ikhwal cinta kadang memang terlalu remeh-temeh untuk di bicarakan. Meski terkadang menghasilkan kepedihan yang tak berkesudahan, pun air mata yang berkelindan bagi siapa pun yang penasaran untuk merasakan.

Ada harap yang berbisik di balik larik-larik yang menarik. Ada pula kebencian di setiap pengandaian yang mengalun. Berikut adalah daftar putar lagu yang paling sering menjadi teman saya melamun, menunggu hujan di sepertiga ujung malam sebelum doa-doa terkabul..

The Radio Dept – Lost And Found

But where you are going I cannot follow / I know you hate this / But I hold on
To this life that I embrace / Despite amusements that I chase
So I’ll see you some day / I’ll see you some day, see you some day

Besarnya harapan belum tentu sesuai dengan hasil akhir, bukan?  Sudahlah..

M83 – Wait

Lagu ini merupakan bagian dari album mereka ‘Hurry Up, We’re Dreaming’ yang merupakan sebuah episode final dari trilogi proyek kolaborasi mereka bersama Fleur & Manu (Sebastien Tellier dan Bag Raiders) yang sudah berlasung sejak 2012 silam.  Entah kenapa saya selalu sulit berkata buruk pada proyek mereka baik lagu ataupun video clip yang kedua kolaborator tersebut hasilkan. Lagu ini salah satu yang paling favorit di antara banyak lagu favorit mereka lainnya.

There’s no end / There is no goodbye / Disappear / With the night

Dan  kata ‘No time’ yang berulang-ulang selalu sukses memberikan keresahan lainnya saat menunggu pagi.

Slowdive – Crazy For You

Crazy For you, no caption needed….

 Cigarette After Sex  – Affection

Pernah menyayangi, memberi perhatian pada seseorang dengan cara kalian sendiri, namun yang bersangkutan tidak menyadarinya? Ini soundtracknya…

It’s affection alwas / You’re gonna see it someday

/ My attention’s on you / Even if it’s not what you need

 Ary Juliyant – Cintamu Cintaku

Ini salah satu lagu berbahsa indonesia paling indah bagi saya. Pencipta liriknya adalah Muktimukti yang merupakan salah satu penyanyi balada cutting edge yang cukup legendaris. Namun saya lebih suka versi yang di nyanyikan oleh Ary Juliyant, yang juga salah satu penyanyi balada terbaik yang indonesia miliki. Keduanya bersahabat dan sering mengadakan pagelaran bersama, termasuk ‘akustikan’ sore sembari menikmati secangkir-dua-cangkir kopi bersama para pewarta di salah satu tongkrongan di Bandung.

Cintamu, cintaku / Sepasang sayap / Kita terbang menggapai langit

Cintamu, cintaku / Melukis indahnya / Di taman mawar / Semerbak wangi kehidupan

Cinta tak akan membuat kita mengeluh / Walau karenanya jatuh air mataku, air matamu

 Muktimukti – Aku Hanya Ingin

(Masih) menanggung rasa rindu pada orang yang pernah hadir dan mengisi hari-hari dalam hidup kita adalah keniscayaan. Tak perlu pura-pura selama tak kembali mengulang asa, dan memaksa.

Aku hanya ingin merindukan mu / Seperti saat menangis

/ Meraba malam pencarian / Segala jumpa

Aku ingin menyusuri bentang waktu / Dan menemukan rasa yang pernah terasa  

[Review] Barasuara – Taifun : Menyalak Galak Dengan Suara

Dok.Barasuara / https://barasuara.wordpress.com/
Dok.Barasuara / https://barasuara.wordpress.com/

Lembaran almanak murahan yang tergantung pada dinding kamar sudah menunjukan bulan November. Artinya, penghujung tahun segera tiba. Waktu-waktu dimana semua orang berkejaran dengan ‘garis mati’. Berusaha sedemikian rupa dengan sekuat tenaga, memenuhi janji-janji yang terucap, dan sebenarnya tidak-penting-penting amat ketika pergantian taun kemarin (resolusi).

Melihat orang lain sibuk membuat so-called resolusi, saya juga mungkin akan sedikit terbawa arus. Misal, saya sedang berencana membuat kaleidoskop berisikan rilisan album favorit saya sepanjang 2015. Ditambah dengan beberapa daftar pendek mengenai penyesalan-penyesalan yang saya alami sepanjang tahun ini. Kalau pun kaleidoskop mengenai daftar penyesalan tersebut jadi, maka melewatkan konser peluncuran album Barasuara dan kolaborasi mereka bersama Efek Rumah Kaca adalah ; hal utama yang akan saya tulis. Belum habis rasanya kesal ini.

Namun, saat ini saya mengobati kekesalan tersebut dengan menikmati album mereka. Band math-rock/alternative paling menjajikan yang gaungnya sedang sekencang badai tropis Taifun (yang juga menjadi nama debut album mereka) ini begitu mengusik bagi saya. Lirik dengan tema bertiras, lugas, cerdas serta tersusun rapih dalam bahasa Indonesia yang baik, adalah salah satu keperkasaan mereka yang tak bisa terbantahkan. Tidak ketinggalan, suguhan aneka ragam bunyi yang bersilangan ganjil, namun tetap indah dan nyaman di telinga. Mereka adalah kebanalan yang ‘pop’ di tengah brengseknya istilah arus utama-tepian.

Penampilan Barasuara di Festival Arsitektur, Univeritas Parahyangan.Pertemuan saya dengan Barasuara berawal dari sebuah artikel di majalah tempat saya bekerja sebelumnya. Saya lupa tepatnya,  tidak terlalu menarik saat saya membacanya, hanya namanya yang menggunakan bahasa Indonesia yang langsung tertanam di memori kolektif saya. Itu semua karena saya belum pernah mendengarkan mereka. Saat itu, saya hanya tau Iga Massardi (vokal),  yang  juga gitaris dari Tika and The Dissidents, mantan personil Soulvibe dan The Trees and The Wild. Kemudian Gerald Situmorang,  yang beberapa kali saya lihat bermain dengan musisi jazz sperti Indra Lesmana dan Tohpati. Nama lainnya tak  sedikit pun saya kenal.  Ah, jurnalis macam apa saya ini (?!) Dan saya pun melewatkan mereka seiring dengan lembaran halaman majalah lainnya yang saya buka.

Beberapa waktu berselang, Barasuara jadi topik hangat di beberapa tongkrongan kekinian dan milis yang saya ikuti. Mereka membicarakan penampilan live mereka di sebuah kanal youtube bernama, Sound From The Corner. Sebuah kanal yang sebenarnya sudah saya subscribe. Lagi-lagi saya terlambat tau, dan mengutuk diri saya. Apa fungsi saya men-subscribe, kalau toh saya tau dari obrolan di tongkrongan. Akhirnya, demi sebuah gengsi dan harga diri karena tidak ingin ketinggalan topik, saya mencari tau sendiri tentang mereka, terima kasih google atas segala informasinya. Dan terima kasih pula Sound From The Corner telah menjadi medium perkenalan saya lebih lanjut dengan Barasuara. Meski belakangan, baru saya tau, video penampilan mereka di Tokove-lah yang merupakan kali pertama mereka manggung.

Sementara, mereka sudah terbentuk sejak 2011 dan mulai intens membuat materi di tahun berikutnnya, itu pun menurut berbagai sumber yang saya kumpulkan. Band yang di gawangi Iga Massardi (vokal/gitar), Marco Steffiano (drum), Gerald Situmorang (bas), TJ Kusuma (gitar), kemudian dua perempuan cantik yang memberi warna tersendiri bagi mereka Asteriska si pemilik album Distance dan Puti Citara pada vokal latar.

Mereka, (selain Iga dan Gerald) yang tergabung dalam Barasuara ini bukan orang sembarangan, bukan pula orang baru di skena. Maafkan, ketidaktahuan saya ini. Sebut saja Marco Steffiano, drummer enerjik ini merupakan session player dari penyanyi cantik bersuara merdu, Raisa. Itu pula mungkin salah satu faktor Raisa dan Boim (manajer Raisa) menjadi produser bagi album Barasuara. Ada juga TJ Kusuma yang juga tergabung dalam unit rock-elektronik LCD Trip.

Barasuara-blogBarasuara baru saja merilis debut album mereka yang berjudul Taifun pada 22 Oktober 2015 lalu di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan. Album ini berada dalam naungan Juni Suara Kreasi, sebuah label yang juga mengurusi album salah satu solois wanita terbaik Indonesia, Raisa. Menyelami album mereka sama halnya dengan bermeditasi. Butuh konsentrasi dan ketenangan saat meresapi tiap larik dan frasa pada tiap lagunya. Haram hukumnya membandingkan lagu mereka dengan materi pop murahan, dengan lirik cinta-cintaan yang norak. Dari mulai keteguhan untuk berbahasa ibu, sampai dengan kutipan ayat dari Alkitab ada di dalamnya. Pejal, berisi.

Coba dengar Nyala Suara, ketukan ganjil dengan riff-catchy mendekati rock-berhitung ala band Jepang sana yang penuh trik, cukup menggambarkan betapa luar biasanya asupan yang mereka lahap. Meski dengan tempo yang tak terlalu cepat, potongan syair “kala merdeka ada suara, riak melebur, peluh membaur” adalah pemantik semangat sebagai trek pembuka. Kelembutan suara Asteriska dan Putri Citara di bagian tengah lagu menambah kemegahan serta sensualitas lagu ini.

Siapa di antara kita yang tidak pernah merindu dalam sendu, jika bukan ‘galau’ dalam fase hidupnya? Jika menyendiri-kesendirian adalah sebuah keniscayaan, maka Sendu Melagu adalah soundtrack paling tepat untuk di putar berulang dalam playlist saat-saat tersebut. Tanpa sadar menggumamkan “waktu yang berlalu, ingatmu kau merayu” saat menunggu hujan reda bersama kepulan nikotin, untuk kemudian mengulang ingatan akan mantan adalah sebuah pembenaran, tanpa harus bersedu sedan. Meski saya yakin Iga sendiri tak memaknai lagu ini se-cemen saya.

Barasuara-blog2Trek berikutnya juga adalah salah satu yang paling mencuri perhatian. Selain karena lagu ini adalah debut single mereka, Bahas Bahasa, adalah lagu komplit yang kaya akan bebunyian. Mungkin banyak alat musik tambahan yang mereka sertakan dengan sedikit nuansa oriental, tapi saya enggan menebak-nebak alat apa saja, karena menikmatinya saja sudah menyenangkan. Video klip lagu ini juga tak boleh di lewatkan, sederhana tapi begitu menarik perhatian. Mungkin bagi sebagian orang, video ini adalah video lirik biasa, namun bagi saya lirik-lirik yang mereka tuliskan dalam beberapa movable book, atau beberapa pop-up yang di sodorkan dengan silih berganti sesuai dengan berjalannya lagu, adalah sebuah karya seni yang eksentrik. Lagu ini juga adalah pointer bagi keteguhan mereka dalam penggunaan lirik bahasa Indonesia yang baik. Tabik!

Menjajaki Hagia adalah proses memahami sisi religiusitas Barasuara. Lagi-lagi modal googling, lagu yang menurut beberapa sumber, yang setelah saya cek, bagian reffrain-nya memang mengutip salah satu ayat dalam Alkitab, tepatnya Matius 6:12 ini cukup untuk membuat saya bergetar saat mendengarkannya. Meski, aransemen lagu ini sedikit terdengar seperti american-rock tipikal, dan Iga hanya menyanyikan lirik singkat tersebut secara berulang. Kelugasan lirik dan tema yang mereka pilih untuk lagu ini berhasil menutupinya. Bagi saya, meski mereka belum tentu setuju dengan sebutan lagu ‘religi’, Haiga adalah salah satu lagu dengan kadar  religiusitas yang sangat menyentuh, tanpa harus terlihat alim atau dipaksakan seperti lagu-lagu lainnya yang mendadak ramai tiap kali ramadhan datang. Lagu yang cukup personal saya pikir. Dan mulai saat ini, saya menabalkan Iga Massardi sebagai salah satu penulis lagu berbahasa Indonesia terbaik dalam daftar saya.

Api dan Lentera adalah salah satu lagu dengan intro paling juara! Menghentak, menyalak, dan galak. Masih dalam nuansa math-rock yang kentara, serangkaian beat enerjik dan menyegarkan mereka sajikan dengan apik. Lagu ini adalah hasil fusion paling mutakhir Gerald Situmorang – Marco Steffiano, serta Iga dan TJ Kusuma pada level tertinggi di antara lagu lainnya. ‘Kelas!’ jika merujuk pada istilah kekinian, dan tanpa mengecilkan kemegahan materi lain dari album ini tentunya. Lagu ini adalah salah satu dari sekian banyak alasan, kenapa kalian harus mendengarkan album mereka. Oia, saya lebih menyukai karakter suara gitar lagu ini pada saat menyaksikan penampilan mereka secara langsung.

Masuk pada trek keenam album Taifun ini, Barasuara menghadirkan suasana yang cukup berbeda dari lagu lainnya.  Menunggang Badai menjadi salah satu pembeda yang cukup signifikan. Meski di bagian awal, terdengar seperti Inhaler milik Foals, hadirnya saksofon-trompet, sepotong bunyi Hammond organ yang identik (mungkin), ditambah part solo menggunakan synthesizer, beat drum dengan bassline yang sedikit R&B banyak funk-nya, mengingatkan saya pada album Power Of Soul milik Idris Muhammad. Menyanyikan bait “dalam peraduan dendam mu melagu” dengan keras, dan sedikit bergoyang saat melantai jadi salah satu cara terbaik menikmati lagu ini.

Jika Api dan Lentera adalah pencapaian tertinggi dalam permainan musik Barasuara, maka Tarintih adalah klimaks dari album ini. Emosional dan sentimentil. Pengakuan dosa seorang anak lelaki pada ibunya tak pernah terdengar se-lugas ini, setidaknya bagi saya. Jika boleh berandai-andai, album ini akan terasa lebih ‘pecah’ lagi ketika Tarintih yang enerjik dan ‘menaik’ ini menjadi trek penutup. Mengingat, Mengunci Ingatan yang ‘bernuansa’ – Toe pada beberapa bagian awalnya, mengajak pendengar untuk pendinginan. Begitu pun Taifun yang begitu indah mengalun, melandai dengan gemulai bersama iringan tabla. Karena Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu” bagai sebuah isyarat untuk kembali memulai sebuah petualangan.

Tapi sudahlah, itu hanya persepsi pribadi saya yang pastinya sedikit, bahkan jauh berbeda dengan kalian. Jika ada yang setuju mungkin kita memang berjodoh. Jika tidak, silahkan menjauh hehehe. Tak ada keharusan untuk mengamininya. Toh, secara keseluruhan album ini adalah satu rilisan terbaik di antara rilisan terbaik lainnya pada 2015 ini.

Berikut adalah tracklist lengkap album Taifun:

  1. Nyala Suara
  2. Sendu Melagu
  3. Bahas Bahasa
  4. Hagia
  5. Api dan Lentera
  6. Menunggang Badai
  7. Tarintih
  8. Mengunci Ingatan
  9. Taifun